
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menyelenggarakan agenda Pembekalan Materi Bagian Ortodonsia bagi mahasiswa Dokter Muda (Co-Asst) Angkatan 92 pada Senin (31/8/2026) di Ruang Lab CBT Gedung Dental Learning Center (DLC) Lt. 5. Pembekalan yang dipandu langsung oleh Penanggungjawab Koas Ortodonsia, drg. Rr. Paramita Noviasari, Sp.Ort(K), ini bertujuan mematangkan kesiapan akademik, pemenuhan kelengkapan target klinis (requirement), serta etika pelayanan kesehatan sebelum para koas resmi terjun melayani pasien di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) UGM Prof. Soedomo.
Dalam pengarahannya, drg. Paramita mengungkapkan skema baru pembagian kelompok kerja bagi 18 mahasiswa Angkatan 92 yang hadir secara lengkap. Keseluruhan mahasiswa dibagi menjadi 9 kelompok kecil (masing-masing beranggotakan 2 orang). Langkah taktis ini dirancang khusus untuk memudahkan koordinasi bimbingan dengan Dosen Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) serta memastikan pemenuhan target audiensi pembacaan jurnal (journal reading) tepat pada waktunya.
Dengan pembagian 9 kelompok ini, setiap mahasiswa dipastikan dapat memenuhi kualifikasi minimal menghadiri 6 kali forum journal reading dalam rentang periode angkatannya sendiri, tanpa perlu menanggung beban utang kewajiban di periode angkatan selanjutnya. Periode tahap Junior sendiri dijadwalkan berlangsung mulai 14 September hingga 10 November 2026.
“Adakah kalian yang belum memakai behel? Yuk, demi cepat selesai, bonus mempercantik dan memperkeren senyum kalian, saling merawat orto antar teman alias jatah, jadi bisa saling tatap dan saling merawat. Semakin cepat selesai, semakin bagus. Namun ingat, selagi masih ada waktu sebelum 14 September, manfaatkan untuk menabung pasien dan segera konsultasikan ke DPJP.” drg. Rr. Paramita Noviasari
Selain pemenuhan karya ilmiah, pembekalan ini membedah secara kritis alur penanganan klinis ortodonti lepasan. Mahasiswa diwajibkan mengampu minimal dua pasien dengan kriteria maloklusi ringan (discrepancy/ALD < 4 mm). Dalam tahapan ini, mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai teknik teknis seperti analisis kefalometri metode Steiner dan pemutaran sekrup ekspansi, tetapi juga dituntut menerapkan asas keselamatan pasien dan kedisiplinan administrasi.
Guna menjaga objektivitas dan mutu lulusan, Departemen Ortodonsia FKG UGM secara ketat memberlakukan sistem ujian kelayakan berkelanjutan, meliputi ujian Mini-Clinical Evaluation Exercise (Mini-CEX) pada tahapan insersi alat dan kontrol pasien, evaluasi kasus, ujian teknis wire bending, hingga ujian OSCE dan CBT di tingkat senior. Seluruh bukti tindakan dan verifikasi DPJP kini diwajibkan terekam secara disiplin melalui lembar paraf logbook dan unggahan sistem SIMASPRO.
Sistem kontrol fleksibel (kombinasi 10 kali luring dan 10 kali daring untuk pasien pertama) merupakan bentuk adaptasi teknologi modern (tele-orthodontics). Meski memberikan efisiensi, kelancaran perawatan ortodonti tetap sangat bergantung pada tingkat kepatuhan pasien (patient compliance) dan kejelian mahasiswa dalam memberikan edukasi serta motivasi secara berkala.
Menutup sesi pembekalan, drg. Paramita berpesan agar para mahasiswa koas senantiasa mengedepankan etika, sopan santun, serta komunikasi yang jujur dan empatik, baik kepada para dosen pembimbing maupun kepada pasien yang dirawat. Menangani pasien ortodonsia membutuhkan kesabaran jangka panjang dan edukasi berkesinambungan agar pasien tergerak untuk disiplin menggunakan alat ortodonti.
“Saya harapkan kalian bisa bekerja dengan tetap memperhatikan etika, sopan santun ke dosen pembimbing ataupun ke pasien. Komunikasikan setiap tindakan dengan jelas dan transparan. Semoga proses klinis kalian berjalan lancar sehingga seluruh angkatan dapat lulus bersama dan tepat waktu,” pungkas drg. Paramita.
(Redaksi: Andri Wicaksono, Hazra, Nanda ,Foto: Anisa)