Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Empat Akar Gigi Jadi Batas Kritis: Studi Internasional Ungkap Risiko Kematian Tulang Rahang pada Pasien Kanker

Separuh akar gigi yang dicabut dari rahang bawah pasien kanker berpolypharmacy berakhir dengan nekrosis. Bukan angka kecil. Dan untuk pertama kalinya, sebuah studi berhasil membuktikan secara ilmiah bahwa luas permukaan soket gigi serta jumlah akar yang terekstraksi berhubungan langsung dengan risiko tersebut.

Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Clinical Oral Investigations edisi Februari 2025, dengan drg. Rellyca Sola Gracea, Sp. RKG. Subsp. RDP (K) sebagai penulis pertama. Ia merupakan staf pengajar Departemen Radiologi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, sekaligus peneliti di OMFS-IMPATH Research Group, KU Leuven, Belgia.

Saat Obat Penyelamat Justru Mengancam Tulang Rahang

Pasien kanker sering menerima banyak obat sekaligus: antiresorptif seperti bisphosphonate dan denosumab, kemoterapi, kortikosteroid, terapi hormon, hingga antibodi monoklonal. Kombinasi ini disebut polypharmacy, yaitu penggunaan lima obat atau lebih secara bersamaan.

Yang tidak banyak disadari: obat-obat itu bisa mengubah cara tubuh menyembuhkan diri setelah pencabutan gigi. Bisphosphonate, misalnya, menghambat aktivitas osteoklas sehingga tulang kehilangan kemampuan remodeling. Ketika gigi dicabut, soket yang terbuka tidak bisa menutup dengan sempurna. Tulang alveolar, tanpa pasokan darah yang memadai, perlahan mati.

Kondisi ini dikenal sebagai medication-related osteonecrosis of the jaw (MRONJ): tulang rahang yang terpapar atau bisa diprobing melalui fistula intraoral maupun ekstraoral, berlangsung lebih dari delapan minggu, tanpa riwayat radioterapi kepala dan leher sebelumnya.

Studi ini menjadi yang pertama menganalisis hubungan antara luas permukaan soket alveolar tiga dimensi dengan perkembangan MRONJ pada pasien polypharmacy yang menjalani pencabutan gigi multipel.

Rahang Bawah: Medan yang Lebih Berbahaya

Penelitian ini bersifat retrospektif, melibatkan 40 pasien dari Rumah Sakit Universitas Leuven (UZ Leuven), Belgia, dengan data yang dikumpulkan dari 2007 hingga 2018. Dua puluh pasien polypharmacy dengan total 109 pencabutan gigi dicocokkan dengan 20 pasien kontrol sehat dengan 100 pencabutan gigi.

Dari 109 pencabutan pada kelompok polypharmacy, 40% berujung pada MRONJ. Angka itu lebih tinggi di rahang bawah: 44% dibanding 35% di rahang atas. Lebih mengejutkan lagi, separuh dari seluruh akar gigi yang dicabut dari mandibula berkembang menjadi MRONJ, dan 45% dari total luas permukaan soket yang terpapar ikut terdampak.

Untuk mengukur luas permukaan soket secara tiga dimensi, tim peneliti memanfaatkan data CBCT dari kelompok kontrol sebagai nilai referensi. Gambar CBCT diproses menggunakan platform Virtual Patient Creator dan perangkat lunak Mimics Innovation Suite untuk membuat model 3D soket, lalu dihitung luasnya dalam satuan milimeter persegi.

Hasilnya mengungkap angka yang bermakna secara klinis. Rata-rata luas soket molar atas mencapai 350 ± 62 mm², sementara molar bawah 359 ± 84 mm². Gigi molar, dengan permukaan soket terbesar, juga menunjukkan peningkatan risiko MRONJ sebesar 20% pada kedua rahang.

Analisis korelasi Pearson memperlihatkan hubungan yang kuat dan positif antara jumlah akar yang dicabut dari rahang bawah dengan jumlah situs yang berkembang menjadi MRONJ (r = +0,861; p < 0,001). Hubungan serupa ditemukan antara luas total soket yang terpapar di rahang bawah dengan area yang mengalami MRONJ (r = +0,757; p < 0,001). Di rahang atas, tidak ada korelasi signifikan yang ditemukan.

“Studi ini adalah yang pertama membuktikan bahwa luas soket alveolar mandibula dan jumlah akar gigi yang diekstraksi berhubungan positif dengan perkembangan MRONJ pada pasien polypharmacy yang menjalani pencabutan gigi multipel.” — drg. Rellyca Sola Gracea, Sp. RKG. Subsp. RDP (K), dan tim peneliti, Clinical Oral Investigations (2025)

Batas Empat Akar: Angka yang Perlu Diingat Klinisi

Salah satu temuan paling praktis dari studi ini adalah identifikasi cutoff value, yaitu nilai ambang batas, sebesar empat akar. Pencabutan empat akar gigi atau lebih di rahang bawah secara signifikan meningkatkan risiko MRONJ. Makin besar luka akibat pencabutan, makin besar tuntutan terhadap kapasitas penyembuhan tubuh, sementara vaskularisasi mandibula secara anatomi memang lebih terbatas dibanding maksila.

Mandibula terbentuk melalui osifikasi intramembranosa dan mengandung proporsi kolagen yang lebih tinggi. Pembuluh darahnya berjalan melalui kanal-kanal sempit, bukan tersebar merata seperti di maksila. Kondisi ini membuat tulang rahang bawah lebih rentan terhadap efek obat-obatan penghambat resorpsi tulang, terutama dalam konteks aliran saliva yang berkurang dan respons imun yang terganggu.

Dalam kelompok polypharmacy, zoledronic acid menjadi agen antiresorptif yang paling banyak digunakan (11 pasien), sedangkan terapi hormon mendominasi kelompok non-antiresorptif (15 pasien). Setengah dari pasien juga menerima membran leukocyte-platelet rich fibrin (L-PRF) sebagai upaya mempercepat penyembuhan. Namun analisis deskriptif menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dalam angka kejadian MRONJ antara pasien yang menerima L-PRF dan yang tidak.

Implikasi untuk Praktik Klinis dan Penelitian Selanjutnya

Studi ini memberi pesan yang jelas: pasien kanker dengan polypharmacy yang membutuhkan pencabutan gigi multipel di rahang bawah perlu mendapat perhatian khusus. Identifikasi risiko sejak awal dan strategi pencegahan yang terencana dapat mengurangi insiden MRONJ secara bermakna.

Para peneliti menekankan pentingnya pendekatan manajemen yang hati-hati, termasuk pemeriksaan radiografi pra-ekstraksi yang komprehensif, penilaian jumlah akar yang akan dicabut, serta pertimbangan untuk membatasi jumlah pencabutan dalam satu sesi pada pasien berisiko tinggi.

Studi ini memiliki keterbatasan yang diakui oleh tim peneliti sendiri: desain retrospektif, ukuran sampel yang terbatas, dan penggunaan data CBCT dari pasien sehat sebagai referensi. Penelitian prospektif dengan cakupan lebih luas, dilengkapi pemindaian CBCT pra-ekstraksi dari pasien yang berisiko, serta integrasi pengujian saliva dan genetik, diusulkan sebagai langkah berikutnya.

Fakta bahwa seorang peneliti dari FKG UGM berada di garis depan riset internasional ini bukan sekadar prestasi akademik. Ini adalah sinyal bahwa pertanyaan klinis yang relevan bagi pasien kanker di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, sedang dijawab dengan data yang serius. Bagi pasien yang duduk di kursi dokter gigi dengan daftar panjang obat di tangannya, penelitian semacam ini bisa menjadi perbedaan antara luka yang sembuh dan tulang yang perlahan mati.

Sumber DOI : https://doi.org/10.1007/s00784-025-06200-z

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Freepik

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
22 Juli 2026

Nanopartikel TiO₂ dan Peluang Energi Surya yang Lebih Murah dari Matahari

21 Juli 2026

FKG UGM Usung Konsep Green Dentistry pada Summer Course 2026

21 Juli 2026

Ketika Karier Mandek, Siapa yang Bertanggung Jawab?

id_ID