Seratus persen. Angka itulah yang muncul pada hari ketujuh pascaoperasi dalam kelompok pasien yang giginya dicabut menggunakan desain flap triangular: seluruh subjek mengalami dehisensi luka. Tidak ada yang lolos. Temuan ini menjadi salah satu catatan paling mencolok dalam studi pilot yang dipublikasikan di Journal of Clinical and Experimental Dentistry (2020) oleh tim peneliti dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada.
Penelitian tersebut digagas dan dibimbing oleh drg. Poerwati Soetji Rahajoe, Sp.BM., konsultan dan dosen senior Bedah Mulut FKG UGM, bersama drg. Henri Mudjono sebagai residen dan drg. Elizabeth Riyati Titi Astuti. Pertanyaan yang mereka ajukan sederhana tapi krusial: apakah ada desain sayatan yang lebih baik daripada flap triangular yang selama ini paling umum digunakan?
Luka yang Terbuka Sebelum Sempat Menutup
Odontektomi, atau pencabutan gigi impaksi molar ketiga, adalah prosedur bedah mulut yang paling sering dilakukan. Namun komplikasinya, mulai dari nyeri, bengkak, trismus, perdarahan, hingga dehisensi luka, masih menjadi momok bagi pasien maupun dokter bedah. Flap triangular, desain sayatan yang lazim dipakai, bekerja dengan membuat insisi dari ramus mandibula ke sisi distobukkal molar kedua, lalu satu sayatan tegak lurus ke vestibulum. Masalahnya, saat luka dijahit kembali, mukosa yang tersedia sering tidak cukup untuk menutup soket tanpa tegangan. Di sinilah dehisensi bermula.
Studi literatur mencatat angka dehisensi menggunakan flap triangular berkisar antara 29,2 hingga 68 persen. Dalam studi ini, angkanya mencapai 100 persen pada hari ketujuh. Fakta ini mendorong tim peneliti memperkenalkan alternatif: reversed triangular flap, atau flap triangular terbalik.
Berbeda dari pendahulunya, desain ini memulai insisi dari sudut mesiobukkal molar pertama, menyusuri sulkus gingiva hingga sudut distobukkal molar kedua, lalu membuat insisi vertikal 90 derajat dari mukosa distal molar ketiga ke arah vestibulum. Flap kemudian dirotasi ke sisi distolingual molar kedua sehingga soket ekstraksi dapat tertutup secara primer, tanpa tegangan berlebihan.
Dua Sisi Mulut, Dua Desain Berbeda
Untuk menguji hipotesis ini, peneliti menggunakan desain split-mouth, yaitu setiap pasien menjadi kontrol bagi dirinya sendiri. Sebanyak 15 pasien berusia 19 hingga 26 tahun dengan impaksi molar ketiga bilateral yang setara dilibatkan. Satu sisi rahang dioperasi dengan flap triangular, sisi lainnya dengan flap triangular terbalik. Komplikasi yang diamati mencakup dehisensi luka, perdarahan pascaoperasi, dan clinical attachment loss (CAL) pada sisi distal molar kedua, dengan pengamatan dilakukan pada hari ke-1, 3, 7, 14, dan 30.
Hasilnya berbicara cukup lantang. Pada hari ketujuh, dehisensi hanya terjadi pada 73,3 persen kelompok flap terbalik, dibandingkan 100 persen pada kelompok triangular, dengan perbedaan yang signifikan secara statistik (p=0,032). Panjang dehisensi rata-rata pun lebih pendek pada kelompok flap terbalik.
Untuk perdarahan, perbedaan mulai terlihat jelas pada hari pertama pascaoperasi: 93,3 persen subjek di kelompok flap terbalik tidak merasakan perdarahan sama sekali (VAS=0), sementara di kelompok triangular, 46,7 persen masih melaporkan oozing. Pada hari kedua, seluruh subjek kelompok flap terbalik sudah bebas perdarahan, berbanding 73,3 persen di kelompok triangular, dengan perbedaan bermakna (p=0,035).
“Reversed triangular flap design is preferable to triangular flap for impacted third molar surgery, especially in terms of wound dehiscence and reactionary bleeding.” — Mudjono, Rahajoe, Astuti, J Clin Exp Dent, 2020
Penyembuhan Periodontal: Masih Perlu Waktu
Satu parameter yang tidak menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua desain adalah clinical attachment loss pada sisi distal molar kedua. Nilai CAL pada kedua kelompok menurun seiring waktu, dari hari ke-14 ke hari ke-30, namun perbedaan antarkelompok tidak bermakna secara statistik, baik pada hari ke-14 (p=0,512) maupun hari ke-30 (p=0,902).
Para peneliti menjelaskan bahwa nilai CAL kelompok flap terbalik cenderung lebih tinggi karena insisi sulkus yang lebih panjang dan permukaan tulang yang lebih luas terekspos selama osteotomi. Ini memicu gangguan pada jaringan periodontal dan peningkatan aktivitas osteoklast. Karena itu, untuk impaksi yang lebih dalam, flap triangular konvensional masih bisa menjadi pilihan.
Yang pasti, pada hari ke-30, nilai CAL rata-rata di kedua kelompok masih di atas 2 mm, menandakan proses penyembuhan periodontal belum tuntas. Fase remodeling jaringan periodontal baru selesai sekitar satu tahun setelah trauma. Ini membuka ruang untuk studi lanjutan dengan periode pengamatan yang lebih panjang.
Inovasi dari Ide yang Diwariskan
Studi ini memiliki keterbatasan yang diakui secara terbuka oleh para penulisnya: jumlah subjek yang kecil, akibat sulitnya mencari pasien dengan impaksi bilateral yang setara klasifikasinya. Namun desain split-mouth sebagian besar mengimbangi kelemahan ini.
Yang menarik, dalam bagian acknowledgements, tim peneliti menyebut bahwa ide orisinal desain flap terbalik ini berasal dari almarhum Dr. Masykur Rahmat. Sebuah gagasan yang kini, melalui tangan drg. Poerwati Soetji Rahajoe dan rekan-rekannya, telah melewati uji klinis dan tersimpan dalam literatur ilmiah internasional.
Bagi pasien yang akan menjalani odontektomi, temuan ini mungkin belum terasa langsung. Tapi bagi dokter bedah yang tiap hari berhadapan dengan pilihan desain sayatan, studi ini menawarkan satu jawaban berbasis bukti: terkadang, membalik arah flap bisa berarti perbedaan antara luka yang menutup rapi dan luka yang terbuka kembali sebelum sempat sembuh.
Sumber DOI : https://doi.org/10.4317/jced.55864
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels