Berita

/

Berita Terbaru

Dari Kuratif ke Promotif-Preventif, Meneropong Kedokteran Gigi Pencegahan di Indonesia dari ICAAPD 2026

Masa depan kedokteran gigi tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa canggih teknologi untuk memperbaiki gigi yang telah rusak. Tantangan yang lebih mendasar justru terletak pada bagaimana kesehatan gigi & mulut masyarakat dapat dicegah, agar tidak sampai mengalami kerusakan gigi sejak awal.

Perspektif tersebut dibawakan oleh drg. Lisdrianto Hanindriyo, MPH., Ph.D.pada International Conference of Asian Academy of Preventive Dentistry (ICAAPD) 2026. Forum internasional tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, dan pemerhati kedokteran gigi pencegahan dari berbagai negara. ICAAPD merupakan konferensi tahunan yang diselenggarakan oleh Asian Academy of Preventive Dentistry (AAPD). Meskipun berangkat dari organisasi yang berbasis di Asia, forum tersebut memiliki cakupan internasional dengan peserta dan narasumber dari berbagai belahan dunia.

Bagi drg. Drian, keikutsertaan dalam forum semacam ini bukan sekadar agenda akademik semata. Hampir setiap tahun drg. Drian mengikuti kegiatan AAPD, baik sebagai narasumber, presenter maupun bagian dari kepanitiaan. Konsistensi tersebut menjadi salah satu cara untuk mengikuti perkembangan sekaligus membaca tren terbaru dalam bidang kedokteran gigi pencegahan.

Membawa Riset dari Indonesia ke Forum Internasional

Pada ICAAPD 2026, drg. Drian berpartisipasi sebagai non-competing poster presenter. Ia mempresentasikan hasil penelitian berjudul “Cariogenic Diet and Toothbrishing Frequency Influence S. mutans Colonization Despite Fluoride Mouth Rinse Exposure.” Riset tersebut merupakan salah satu hasil dari proyek Pinter Tuntas Beres yang dikembangkan Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Masyarakat (IKGM) dan telah berlangsung sejak 2022 hingga 2027. Kehadiran penelitian tersebut di forum internasional memperlihatkan bahwa isu kesehatan gigi masyarakat Indonesia dapat ditempatkan dalam percakapan ilmiah global. Persoalan seperti pola konsumsi makanan kariogenik, frekuensi menyikat gigi, kolonisasi Streptococcus mutans, dan efektivitas paparan fluoride bukan hanya persoalan klinis individual, melainkan bagian dari persoalan kesehatan masyarakat yang membutuhkan pendekatan komprehensif.

Di sinilah penelitian preventif memiliki arti strategis. Pendekatan tersebut tidak berhenti pada pertanyaan bagaimana menangani karies, tetapi bergerak lebih jauh: mengapa karies terjadi, faktor apa yang memengaruhinya, dan bagaimana masyarakat dapat diberdayakan untuk mencegahnya.

Ketika AI Masuk ke Kedokteran Gigi Pencegahan

ICAAPD 2026 juga menunjukkan bahwa perkembangan kedokteran gigi pencegahan kini tidak dapat dilepaskan dari transformasi teknologi. Salah satu isu yang dibahas dalam konferensi tersebut adalah pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam kedokteran gigi pencegahan. Masuknya AI ke ranah preventif membuka kemungkinan baru. Teknologi tersebut berpotensi membantu pengolahan data, identifikasi faktor risiko, pemetaan kelompok rentan, hingga mendukung pengambilan keputusan berbasis data.

Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut diterjemahkan menjadi intervensi yang benar-benar dirasakan masyarakat. Data yang semakin besar tidak otomatis menghasilkan masyarakat yang lebih sehat apabila tidak diikuti perubahan perilaku, peningkatan literasi kesehatan, serta kebijakan yang mendukung pencegahan, papar drg. Drian. Karena itu, masa depan preventive dentistry bukan sekadar persoalan high technology, melainkan bagaimana teknologi mutakhir disinergikan dengan tingkat keterlibatan aktif masyarakat.

Mengubah Mindset Masyarakat

Di tengah perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran gigi, Indonesia masih menghadapi tantangan fundamental. Tantangan itu bukan semata keterbatasan teknologi, fasilitas kesehatan, atau tenaga profesional, tetapi perubahan cara pandang. Dalam hal ini drg. Drian menilai tantangan terbesar preventive dentistry di Indonesia adalah transformasi mindset dari paradigma kuratif menuju promotif-preventif, baik pada masyarakat maupun tenaga kesehatan gigi.

Selama kesehatan gigi masih dipahami sebagai persoalan yang harus ditangani ketika sakit, maka layanan kedokteran gigi akan cenderung bergerak setelah masalah muncul. Pasien datang ketika gigi berlubang, ketika nyeri, ketika terjadi infeksi, atau ketika kerusakan telah mengganggu kualitas hidup. Padahal, pendekatan preventif menuntut intervensi lebih jauh sebelum fase tersebut.

Paradigma promotif-preventif mengajak masyarakat melihat kesehatan gigi bukan sebagai kondisi yang baru diperhatikan ketika muncul keluhan, tetapi sebagai bagian dari kebiasaan hidup sehari-hari. Menyikat gigi dengan benar, mengendalikan konsumsi makanan kariogenik, menjaga kebersihan rongga mulut, melakukan pemeriksaan berkala, serta memahami faktor risiko menjadi bagian dari investasi kesehatan jangka panjang.

Preventive Dentistry Harus Berangkat dari Komunitas

Tema ICAAPD 2026, “Empowering Communities Through Preventive Dentistry”, menjadi relevan dengan tantangan tersebut. Kata empowering atau pemberdayaan menjadi penting karena masyarakat tidak seharusnya ditempatkan hanya sebagai penerima layanan kesehatan. Masyarakat perlu menjadi aktor yang memiliki pengetahuan, kesadaran, dan kemampuan untuk mengambil keputusan mengenai kesehatan giginya sendiri.

Pendekatan semacam ini sekaligus menggeser posisi tenaga kesehatan gigi. Dokter gigi tidak hanya berperan sebagai pihak yang melakukan tindakan klinis, tetapi juga sebagai edukator, penggerak komunitas, peneliti, dan mitra masyarakat. Dengan demikian, keberhasilan preventive dentistry tidak hanya diukur dari jumlah tindakan medis yang dilakukan. Ukuran keberhasilannya justru dapat dilihat dari berapa banyak masalah kesehatan yang berhasil dicegah sebelum menjadi penyakit.

(Kontributor: drg. Lisdrianto Hanindriyo, MPH., Ph.D, Redaksi: Andri Wicaksono)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
15 Oktober 2026

Menyingkap Tabir Kesehatan Mulut & Gula Darah Lansia, Hantarkan Budi Rodestawati, S.Kp.G., M.P.H Meraih Best Presenter Poster Session 3 ICAAPD Malaysia 2026

15 Oktober 2026

Rieski Prihastuti, S.Kp.G., M.P.H., Ph.D. Raih 2nd Place Lion Award Presentation Competition ICAAPD Malaysia 2026

14 Oktober 2026

FKG UGM Menerima Kunjungan Benchmarking FKG UMY Siapkan Pendirian PPDGS Prostodonsia