Prevalensi karies di Indonesia menyentuh angka 90,05 persen — sebuah angka yang, jika ditulis ulang, berarti hampir semua orang Indonesia pernah atau sedang mengalaminya. Di balik statistik itu, sebuah pertanyaan sederhana mendorong riset di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM: bisakah antibodi dari darah ayam menghentikan bakteri penyebab karies?
Jawaban awal dari pertanyaan itu kini terpublikasi di African Journal of Microbiology Research, ditulis oleh Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO bersama tim peneliti dari Departemen Biologi Oral FKG UGM. Riset ini menguji kemampuan antibakteri Immunoglobulin Y (IgY) dari serum darah ayam yang telah diimunisasi dengan antigen Streptococcus mutans — bakteri utama penyebab karies.
Ayam Hysex Brown sebagai Pabrik Antibodi
Empat ekor ayam Hysex Brown berusia 18 hingga 24 minggu menjadi subjek eksperimen. Selama empat minggu, ayam-ayam itu mendapat suntikan suspensi S. mutans secara bertahap: dimulai dengan injeksi intravena dosis 0,5 ml selama tiga hari berturut-turut, lalu dilanjutkan dengan injeksi intramuskular menggunakan adjuvan Freund lengkap dan tidak lengkap pada minggu kedua hingga keempat.
Pada minggu kelima, serum darah diambil. Hasilnya positif: antibodi IgY spesifik S. mutans berhasil terbentuk, dikonfirmasi melalui Agar Gel Precipitation Test (AGPT) yang menunjukkan garis presipitasi antara sumuran antigen dan antibodi. Temuan ini selaras dengan studi sebelumnya yang dilakukan Azis et al. pada 2013, bahwa IgY spesifik S. mutans dapat terdeteksi pada minggu kelima pascaimunisasi.
Selektif dan Presisi: Hanya Menyerang Satu Target
Uji difusi dilakukan terhadap tiga bakteri plak gigi: Streptococcus alpha, Staphylococcus aureus, dan S. mutans. Hasilnya mengejutkan sekaligus menjanjikan.
IgY serum tidak membentuk zona hambat sama sekali terhadap S. alpha maupun S. aureus. Namun terhadap S. mutans, zona hambat terbentuk jelas — dan ukurannya meningkat seiring peningkatan konsentrasi IgY yang diberikan. Konsentrasi minimum yang menunjukkan aktivitas hambat adalah 25 persen, sementara konsentrasi 100 persen menghasilkan zona hambat terbesar di antara kelompok perlakuan IgY.
Kontrol positif menggunakan chlorhexidine digluconate (CHX) tetap menunjukkan zona hambat paling besar karena mekanismenya berbeda: CHX bersifat toksik terhadap sel bakteri secara luas. IgY, sebaliknya, bekerja melalui mekanisme netralisasi — melemahkan kemampuan S. mutans untuk menempel dan membentuk biofilm, bukan membunuh bakteri secara langsung.
“Mekanisme antibakteri IgY serum S. mutans spesifik diduga karena IgY serum spesifik dapat melemahkan patogenisitas S. mutans. IgY spesifik diperkirakan dapat mencegah karies gigi dengan cara imobilisasi bakteri dan menghancurkan kemampuan bakteri untuk mengubah gula menjadi asam.”
Analisis statistik dengan ANOVA dan uji Least Significant Difference (LSD) mengonfirmasi bahwa perbedaan zona hambat antara berbagai konsentrasi IgY maupun antara kelompok perlakuan dan kontrol bersifat signifikan secara statistik (p < 0,05).
Dari Laboratorium Menuju Pencegahan Topikal
Spesifisitas IgY terhadap S. mutans — dan bukan terhadap bakteri plak lain — justru menjadi nilai lebih riset ini. Chlorhexidine, meski efektif, diketahui mengganggu keseimbangan ekosistem flora mulut secara keseluruhan. Pemakaian berulang obat kumur CHX, misalnya, dapat mengubah komposisi flora oral secara signifikan. IgY yang bekerja secara selektif membuka kemungkinan intervensi yang lebih tepat sasaran.
Dalam jangka panjang, tim peneliti membayangkan IgY spesifik S. mutans dapat dikembangkan sebagai bahan pencegahan karies yang diaplikasikan secara topikal — obat kumur, pasta gigi, atau formula lain yang langsung bersentuhan dengan permukaan gigi. Penelitian ini didanai oleh Dana Masyarakat FKG UGM dan mendapat persetujuan Komite Etik FKG UGM sebelum dilaksanakan.
Karies gigi bukan sekadar masalah estetika. Ini adalah penyakit infeksi kronis yang memengaruhi kualitas hidup jutaan orang. Bahwa solusinya mungkin tersimpan dalam sebutir telur ayam — atau lebih tepatnya, dalam serum darah ayam yang diprogram ulang oleh para peneliti — adalah pengingat bahwa sains kerap menemukan jawabannya di tempat yang paling tak terduga.
Sumber DOI : https://doi.org/10.5897/AJMR2016.8266
Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Freepik ( magnific )