Komplikasi cedera saraf (nerve injury) pada tindakan implant dental ternyata lebih sering dipicu oleh kesalahan teknik dan prosedur operator dibandingkan jenis anestesi yang digunakan. Hal tersebut menjadi salah satu poin penting yang disampaikan drg. Poerwati Soetji Rahajoe, Sp.BMM(K), Subsp.T.M.T.M.J(K), Ph.D, dalam Kelas Implant Dental FKG UGM (23/06/2026) yang akrab disapa drg. Sutji dalam pemaparannya mengenai anestesi lokal pada tindakan kedokteran gigi.
Menurut drg. Sutji, berbagai kekhawatiran yang berkembang di kalangan praktisi terkait kemungkinan anestesi menyebabkan cedera saraf belum didukung bukti ilmiah yang kuat. Berdasarkan telaah sejumlah jurnal yang ia pelajari, sebagian besar kasus cedera saraf justru berkaitan dengan ketidaktepatan prosedur tindakan.
“Hampir semuanya tidak menemukan itu. Artinya ketika terjadi nerve injury pada pemasangan implant, hampir disebabkan karena prosedur yang kurang tepat, bukan karena anestesinya,” ujar drg. Sutji dalam paparannya.
Ia menjelaskan bahwa faktor seperti kesalahan pengukuran posisi, teknik pengeboran (drilling), hingga penempatan implan memiliki pengaruh yang jauh lebih besar terhadap risiko komplikasi dibandingkan efek anestesi itu sendiri.

Selain aspek teknis, drg. Sutji juga menyoroti pentingnya riwayat alergi pasien sebelum dilakukan anestesi lokal. Ia mengingatkan bahwa kandungan seperti sodium metabisulfit yang terdapat pada beberapa sediaan anestesi dapat memicu reaksi alergi pada individu tertentu. Oleh karena itu, proses anamnesis harus dilakukan secara cermat sebelum tindakan dilakukan.
Dalam pembahasan jenis anestesi, ia menilai articaine menjadi salah satu pilihan yang memiliki keunggulan karena kemampuannya menembus jaringan tulang lebih baik dibandingkan beberapa anestesi lain.
“Articaine mempunyai karakter lipofilisitas yang tinggi sehingga mampu menembus tulang kortikal lebih baik dibandingkan golongan lainnya,” jelasnya.
Materi yang disampaikan menunjukkan bahwa keberhasilan implant dental tidak hanya bergantung pada kualitas bahan maupun obat anestesi, tetapi terutama pada kemampuan operator dalam mengendalikan inflamasi, menentukan diagnosis yang tepat, serta menerapkan teknik anestesi yang sesuai indikasi. Kesalahan kecil dalam penempatan anestesi maupun prosedur tindakan dapat berdampak langsung pada kenyamanan pasien dan keberhasilan terapi jangka panjang.
Perkembangan teknologi anestesi memang membantu meningkatkan kenyamanan pasien. Namun, kompetensi operator tetap menjadi faktor penentu utama dalam mencegah komplikasi dan menjamin keberhasilan tindakan implant dental.
(Reporter: Anny Anggraini, Fotografer: Nanda Ayu, Redaksi:Andri Wicaksono)