Berita

/

Berita Terbaru

FKG UGM Menerima Kunjungan Benchmarking, Rencana Pendirian Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Esa Unggul

Mendirikan Fakultas Kedokteran Gigi tidak cukup hanya dengan menyiapkan dental unit, laboratorium, rumah sakit pendidikan, dan ruang kuliah. Di balik deretan perangkat medis kedokteran gigi yang mahal, terdapat hal akademik yang fundamental, yakni: merancang kurikulum, membangun tradisi riset, memastikan mutu pendidikan klinis, menyiapkan jejaring rumah sakit, hingga membentuk karakter dokter gigi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Perbincangan itu mengemuka dalam kunjungan benchmarking tim Universitas Esa Unggul ke Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM). Universitas Esa Unggul tengah mempersiapkan pendirian Program Studi Kedokteran Gigi dan memproyeksikan penyelenggaraan pendidikan tersebut mulai 2027. Tim Esa Unggul yang hadir antara lain Sekretaris Pendirian Kedokteran Gigi Muniroh, S.E., M.M., Kepala Biro Kerja Sama Ayu Larasati, S.Sos., S.Kom., M.Kom., serta sejumlah pengelola akademik, skill lab, kurikulum, profesi, dan kerja sama fasilitas kesehatan Universitas Esa Unggul. Dari FKG UGM hadir Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof. drg. Rosa Amalia, M.Kes., Ph.D., Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia drg. Dedi Kusuma Yulianto, M.Biotech., Ph.D., Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama drg. Triana Wahyu Utami, M.D.Sc., Ph.D., Kepala Laboratorium Praklinik dan Skill Lab Dr. drg. Irfan Arie Wahyudi, M.Kes., Ph.D., Ketua Program Studi S1 Kedokteran Gigi drg. Aryan Morita, M.Sc., Ph.D., serta Ketua Program Studi Profesi Dokter Gigi  Dr. drg. Ruri Ratna Santiningsih, M.D.Sc., Sp.RKG.

Pertemuan itu akhirnya berkembang menjadi lebih dari sekadar benchmarking fasilitas. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tim Esa Unggul justru menyentuh persoalan mendasar: berapa banyak simulator yang dibutuhkan, bagaimana menyusun kurikulum, bagaimana menyaring mahasiswa, bagaimana memilih rumah sakit pendidikan, bagaimana membangun penelitian dan publikasi, hingga bagaimana menentukan keunggulan akademik sebuah FKG baru. Substansi yang muncul bukan sekadar bagaimana membuka fakultas, melainkan bagaimana membuatnya bertahan dan bermutu.

Modal besar dan risiko yang tak kecil

Prof. Rosa mengingatkan, salah satu tantangan terbesar bagi program studi baru justru dapat muncul sebelum proses pendidikan berjalan. Program studi membutuhkan mahasiswa agar dapat berkelanjutan.

“Risiko tidak mendapat mahasiswa pun juga bisa berdampak besar. Jumlah mahasiswa ini menjadi salah satu penentu adanya sustainability dari prodi,” ujar Prof. Rosa dalam diskusi tersebut.

Pendidikan kedokteran gigi membutuhkan investasi sarana dan prasarana yang tidak kecil. Sebagian besar perangkat masih bergantung pada produk impor sehingga nilai tukar rupiah menjadi salah satu variabel yang sulit diabaikan dalam perencanaan jangka panjang.

Karena itu, pembangunan FKG tidak dapat menggunakan logika pengadaan jangka pendek. Anggaran harus dihitung dengan mempertimbangkan kebutuhan beberapa tahun ke depan.

“Modal di kedokteran gigi sangat besar karena sebagian besar alat sarana prasarana yang ada di kedokteran gigi ini masih impor,” kata Prof. Rosa. Gejolak nilai tukar dollar AS, menurut dia, dapat menjadi risiko apabila tidak diantisipasi sejak awal.

Di sinilah tantangan pendirian FKG menjadi lebih kompleks. Ketidakakuratan membeli alat bukan sekadar persoalan anggaran. Peralatan yang tidak sesuai dengan tahapan pembelajaran dapat menjadi investasi yang tidak optimal. Pengalaman FKG UGM menunjukkan, pembelajaran keterampilan klinis pun perlu dibangun secara bertahap.

Dental Learning Center dan fasilitas lainnya, FKG UGM memiliki sekitar 40 dental simulator yang digunakan mahasiswa secara bergantian. Pada tahap awal, mahasiswa menggunakan gigi artifisial. Setelah mencapai kompetensi yang lebih lanjut, mahasiswa beralih menggunakan gigi cabutan asli.

Dental phantom yang tersedia juga tidak hanya satu jenis. FKG UGM memiliki simulator generasi lama untuk tingkat dasar dan simulator yang lebih maju yang dirancang menyerupai kondisi klinis sebenarnya, termasuk aspek ergonomi. Artinya, teknologi tidak ditempatkan sebagai tujuan, tetapi sebagai bagian dari desain pembelajaran.

Rumah sakit pendidikan, pondasi pendidikan klinisi

Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah rumah sakit pendidikan. Bagi FKG baru, rumah sakit bukan sekadar tempat mahasiswa menjalani praktik ketika sudah memasuki tahap profesi. Kesiapan rumah sakit pendidikan harus dipikirkan jauh sebelum mahasiswa mencapai tahap tersebut.

FKG UGM menekankan pentingnya memiliki beberapa kerja sama dengan rumah sakit sekaligus menentukan rumah sakit pendidikan utama. Rumah sakit tersebut harus memiliki rasio dental unit dan dokter gigi spesialis atau dokter penanggung jawab pelayanan yang memadai sesuai standar.

Pengalaman pendirian FKG baru di sejumlah perguruan tinggi menunjukkan, rumah sakit akademik sendiri tidak harus sudah berdiri ketika proses awal pendirian dilakukan. Namun, universitas harus mampu menunjukkan peta jalan pembangunan dan kesiapan fasilitas untuk beberapa tahun ke depan.

Pengalaman Universitas Negeri Padang (UNP) menjadi salah satu contoh. Dalam masa persiapan, UNP bekerja sama dengan RSUD Payakumbuh sebagai rumah sakit pendidikan utama sembari menunggu pembangunan rumah sakit akademiknya. Persoalannya bukan sekadar ada atau tidaknya rumah sakit.

“Harus ada rasio antara mahasiswa dengan dental unit di Rumah Sakit Pendidikan Utama,” ujar drg. Trianna. Bahkan ketika mahasiswa belum memasuki pendidikan profesi, kesiapan tersebut telah menjadi bagian dari penilaian.

Kurikulum harus hidup, bukan sekadar memenuhi borang

FKG UGM menerapkan evaluasi kurikulum dalam tiga lapisan: mikro, meso, dan makro. Evaluasi mikro dilakukan setelah semester berakhir untuk melihat persoalan teknis pembelajaran. Evaluasi meso dilakukan setiap tahun untuk melihat pencapaian pembelajaran. Adapun evaluasi makro dilakukan setelah satu siklus kurikulum melahirkan lulusan. drg. Aryan Morita menjelaskan, evaluasi tidak semata-mata ditujukan untuk menghapus mata kuliah.

“Review yang kita lakukan itu tidak sampai mayor,” jelasnya. Kurikulum tetap berpedoman pada Standar Kompetensi Dokter Gigi Indonesia (SKDGI) dan AFDOKGI. Prof. Rosa menambahkan, perubahan justru sering terjadi pada isi materi. “Jangan-jangan malah ada yang sudah out of date. Yang out of date … kita review materinya untuk mendapatkan yang lebih up to date,” ujarnya.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa mutu pendidikan tidak berhenti pada dokumen kurikulum. Kurikulum harus mampu bergerak mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, kebutuhan pasien, dan perubahan masyarakat. Salah satu contoh menarik adalah mata kuliah Bahasa Isyarat. FKG UGM menjadikannya mata kuliah wajib sejak semester tiga dan telah menerapkannya sejak 2016. Tujuannya adalah membekali mahasiswa agar mampu berkomunikasi dengan pasien berkebutuhan khusus. Pilihan ini memperlihatkan bahwa kompetensi dokter gigi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan melakukan tindakan klinis. Kemampuan berkomunikasi dengan pasien juga merupakan bagian dari profesionalisme.

Dari penelitian menuju identitas akademik

Bagi FKG baru, menentukan keunggulan keilmuan juga tidak dapat ditunda. FKG UGM mengembangkan Regenerative Dentistry & Aging sebagai salah satu core science. Keunggulan tersebut dikaitkan dengan roadmap penelitian, perkembangan demografi lansia, serta kebutuhan masyarakat.

Keunggulan tersebut kemudian harus terlihat dalam mata kuliah, penelitian dosen, pengabdian kepada masyarakat, dan bahkan arah pengembangan mahasiswa. drg. Trianna menilai, posisi sebagai institusi baru justru dapat menjadi keuntungan karena arah penelitian dapat dibangun sejak awal.

Publikasi bukan titik awal

Dalam diskusi tersebut, tim Esa Unggul juga mendiskusikan bagaimana membangun budaya penelitian dan publikasi. Bagi FKG UGM cukup lugas, publikasi bukan titik awal. Penelitianlah yang menjadi titik awal. drg. Trianna menjelaskan, FKG UGM tidak serta-merta membangun jurnal sendiri pada awal perjalanan. Pengelolaan jurnal membutuhkan sistem dan sumber daya tersendiri. Saat ini, FKG UGM telah memiliki dua jurnal bidang kedokteran gigi yang masuk Sinta 2. “Publikasi itu adalah end point, start point-nya dari mana? Dari penelitian,” katanya.

Karena itu, strategi yang dibangun adalah memperkuat kemampuan dosen memperoleh hibah penelitian, menjalin jejaring dengan peneliti yang lebih berpengalaman, dan mendorong hasil penelitian menjadi manuskrip yang siap dipublikasikan. Bahkan, peluang kolaborasi penelitian antara FKG UGM dan Universitas Esa Unggul terbuka untuk dikembangkan, termasuk melalui joint publication.

Strategi tersebut relevan bagi fakultas baru. Daripada terburu-buru mengejar jumlah publikasi, lebih penting membangun ekosistem penelitian yang sehat: topik riset yang jelas, peneliti yang saling terhubung, dukungan etik, pendanaan, dan sistem publikasi.

Kunjungan Universitas Esa Unggul ke FKG UGM pada akhirnya memperlihatkan bahwa membangun fakultas kedokteran gigi adalah pekerjaan lintas generasi. Ada investasi fisik yang mahal. Ada kurikulum yang harus terus diperbarui. Ada rumah sakit pendidikan yang harus dipersiapkan matang jauh hari. Ada budaya penelitian yang tidak mungkin dibangun secara instan. Ada pula karakter mahasiswa yang harus dibentuk sejak awal.

Karena itu, pendirian FKG tidak semestinya diukur dari seberapa megah gedung yang berdiri atau seberapa banyak alat yang berhasil dibeli. Ukuran yang lebih penting adalah apakah seluruh komponen tersebut membentuk ekosistem pendidikan yang mampu melahirkan dokter gigi kompeten, beretika, adaptif terhadap teknologi, produktif dalam penelitian, dan peka terhadap kebutuhan masyarakat.

Bagi Universitas Esa Unggul, fase persiapan justru merupakan kesempatan paling berharga. Ketika institusi masih berada di titik awal, kesalahan masih dapat dicegah, arah keilmuan masih dapat dirumuskan, jejaring penelitian masih dapat dibangun, dan desain pendidikan masih dapat disusun tanpa terlalu banyak beban sejarah.

Fakultas yang baik bukanlah fakultas yang paling cepat berdiri, melainkan fakultas yang sejak hari pertama sudah tahu untuk apa ia didirikan dan dokter seperti apa yang ingin dilahirkannya.

(Reporter: Andri Wicaksono, Foto: Fajar Budi Harsakti)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
22 Oktober 2026

Dorong Teknologi Digital Kedokteran Gigi: FKG UGM Gelar “Dentistry Collaborative Update 2026”

22 Oktober 2026

Transformasi Digital Kedokteran Gigi: FKG UGM Dorong Penerapan CAD/CAM dan Intraoral Scanner

22 Oktober 2026

Akselerasi Teknologi Restorasi Gigi: FKG UGM Integrasikan Pendekatan Biomimetik dengan Protokol Terkini