Kesehatan gigi dan mulut pada lansia perlu dipahami sebagai bagian dari kesehatan secara menyeluruh. Penelitian ini menjadi langkah untuk memahami bagaimana kondisi rongga mulut, fungsi fisik, dan kesehatan mental mungkin saling berkaitan.
Konsistensi prestasi di forum ilmiah internasional kembali ditunjukkan melalui keikutsertaan FKG UGM khususnya dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan dan Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat (IKGP-KGM) dalam International Conference of the Asian Academy of Preventive Dentistry (ICAAPD) ke-18 2026. Dalam konferensi yang berlangsung di Kota Kinabalu, Malaysia, tersebut, penelitian mengenai potensi peran kekuatan genggaman tangan dalam hubungan antara kehilangan seluruh gigi dan gejala depresi pada lansia berhasil diraih Rieski pada Second Place Lion Award for Outstanding Poster Presentation.
Penghargaan itu menandai capaian ketiga secara berturut-turut dalam tiga kali keikutsertaan di konferensi AAPD. Sebelumnya, pada 2024, penghargaan AAPD Society of Preventive Dentistry of Hong Kong (SPDHK) Award for Poster Presentation diraih di Ho Chi Minh City, Vietnam. Setahun kemudian, prestasi berlanjut melalui raihan First Winner Lion Award for Poster Presentation di Bali, Indonesia.
Rangkaian pencapaian tersebut bukan sekadar catatan prestasi akademik. Di baliknya, terdapat isu kesehatan yang semakin relevan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat lanjut usia, hubungan antara kesehatan gigi dan mulut, kondisi fisik, serta kesehatan mental.
Dari kehilangan gigi menuju persoalan kesehatan yang lebih luas
Penelitian yang dipresentasikan oleh Rieski mengangkat edentulisme, yaitu kondisi kehilangan seluruh gigi, sebagai persoalan kesehatan yang tidak dapat dipandang semata-mata dari aspek rongga mulut.
Pada kelompok lanjut usia, kehilangan gigi dapat berkaitan dengan berbagai persoalan fungsional dan kualitas hidup. Dalam konteks penelitian ini, perhatian diarahkan pada hubungan edentulisme dengan kekuatan genggaman tangan, kemudian kaitannya dengan gejala depresi.
Pertanyaan fundamentalnya ialah apakah kekuatan genggaman tangan berperan sebagai mediator dalam hubungan antara edentulisme dan gejala depresi pada lansia. Hal tersebut penting karena menghubungkan tiga dimensi kesehatan yang kerap dibahas secara terpisah. Kesehatan gigi dan mulut berhubungan dengan fungsi tubuh, sementara kondisi fisik dan psikologis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesejahteraan pada usia lanjut.
Kekuatan genggaman tangan dalam penelitian ini ditempatkan sebagai indikator kondisi fisik yang berpotensi membantu menjelaskan hubungan tersebut. Dengan demikian, penelitian tidak hanya menanyakan apakah kehilangan gigi berkaitan dengan gejala depresi, tetapi juga menelaah kemungkinan jalur yang menghubungkan keduanya.
Mediator potensial, bukan kesimpulan sebab-akibat
Hasil penelitian menunjukkan bahwa efek tidak langsung melalui kekuatan genggaman tangan berada pada batas kemaknaan statistik. Berdasarkan temuan tersebut, kekuatan genggaman tangan disimpulkan sebagai mediator potensial dalam hubungan antara edentulisme dan gejala depresi.
Hasil yang berada pada batas kemaknaan menunjukkan bahwa bukti statistik mengenai efek tidak langsung, masih perlu ditafsirkan dengan hati-hati. Dengan kata lain, penelitian ini membuka ruang bagi pemahaman yang lebih luas mengenai hubungan kesehatan gigi-mulut dan kesehatan mental, tetapi belum cukup untuk menyatakan bahwa kehilangan gigi menyebabkan depresi melalui penurunan kekuatan genggaman tangan.
Pembedaan ini penting agar hasil penelitian tidak disederhanakan menjadi hubungan sebab-akibat yang belum dapat dipastikan. Dalam penelitian kesehatan masyarakat, ketepatan menafsirkan temuan sama pentingnya dengan menemukan hubungan yang berpotensi bermakna secara klinis.
Meski demikian, hasil tersebut memberikan arah yang relevan bagi penelitian lanjutan. Pengukuran fungsi fisik, pemeriksaan kesehatan gigi-mulut, dan penilaian kesehatan mental dapat menjadi bagian dari pendekatan yang lebih menyeluruh dalam mengkaji kondisi lansia.
Kesehatan gigi-mulut dan kesehatan mental perlu dipandang bersama
Salah satu pesan penting dari penelitian ini ialah perlunya menempatkan kesehatan gigi-mulut sebagai bagian dari kesehatan secara menyeluruh.
Pendekatan yang hanya berfokus pada kondisi gigi berisiko mengabaikan aspek lain yang berkaitan dengan kesejahteraan lansia. Sebaliknya, pemahaman yang menghubungkan kondisi rongga mulut, kemampuan fisik, dan kesehatan psikologis dapat membantu memperluas perspektif dalam pelayanan kesehatan lanjut usia.
Dalam praktiknya, temuan ini relevan sebagai dasar untuk mendorong perhatian yang lebih terintegrasi terhadap kebutuhan lansia. Namun, penerapan pemeriksaan atau intervensi tertentu tetap membutuhkan dukungan bukti tambahan dan tidak dapat ditentukan hanya dari hasil penelitian ini.
Bagi dunia kedokteran gigi preventif, penelitian semacam ini memperlihatkan bahwa upaya pencegahan dan pemeliharaan kesehatan mulut memiliki ruang kajian yang lebih luas daripada sekadar mempertahankan fungsi gigi. Dimensi fisik dan psikologis juga perlu diperhitungkan ketika membicarakan kualitas hidup pada usia lanjut.
Format presentasi yang menuntut ketajaman ilmiah
Selain hasil penelitian, konferensi AAPD ke-18 menghadirkan tantangan tersendiri bagi para peserta. Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, konferensi tahun ini menyediakan 30 kriteria penghargaan, termasuk presenter terbaik pada setiap sesi dan presenter terbaik dari masing-masing negara.
Dalam sistem penghargaan tersebut, Lion Award menjadi penghargaan tertinggi untuk kategori presentasi oral maupun poster. Format presentasi poster juga dirancang dengan tuntutan yang menyerupai presentasi oral. Setiap peserta diwajibkan mempresentasikan poster selama lima menit, kemudian mengikuti sesi tanya jawab selama empat menit bersama dewan juri yang terdiri dari: satu juri dari Malaysia dan satu juri dari negara lain.
Format tersebut menguji lebih dari sekadar kemampuan menyajikan hasil penelitian secara visual. Peserta dituntut merangkum persoalan ilmiah, menjelaskan metode dan temuan secara ringkas, serta mempertahankan argumentasi ketika menghadapi pertanyaan langsung dari juri.
Dalam waktu yang terbatas, peneliti harus mampu menunjukkan inti kontribusi ilmiahnya sekaligus memahami batasan hasil yang disampaikan. Hal ini terutama penting bagi penelitian yang menghasilkan temuan dengan tingkat kemaknaan statistik yang perlu ditafsirkan secara hati-hati.
Karena itu, penghargaan dalam forum semacam ini tidak hanya menjadi pengakuan atas hasil penelitian, tetapi juga menempatkan kemampuan komunikasi ilmiah sebagai bagian penting dari diseminasi pengetahuan.

Konsistensi prestasi dan tantangan riset berikutnya
Capaian pada 2024, 2025, dan 2026 menunjukkan konsistensi prestasi dalam tiga keikutsertaan berturut-turut di AAPD. Penghargaan yang diraih juga mencerminkan pengalaman berkelanjutan dalam mempresentasikan penelitian di hadapan komunitas akademik internasional.
Namun, arti penting sebuah penelitian tidak berhenti pada penghargaan yang diperoleh. Nilai ilmiahnya juga terletak pada pertanyaan yang berhasil diajukan, kualitas bukti yang dihasilkan, dan peluang untuk mengembangkan pengetahuan tersebut melalui penelitian lanjutan.
Rieski menegaskan, dalam kasus penelitian mengenai edentulisme, kekuatan genggaman tangan, dan gejala depresi, tantangan berikutnya adalah memperjelas kekuatan hubungan yang ditemukan, menguji konsistensi hasil pada populasi yang berbeda, serta menilai apakah jalur mediasi yang diusulkan dapat didukung oleh bukti yang lebih kuat.
Langkah tersebut penting agar temuan yang saat ini menunjukkan potensi dapat berkembang menjadi dasar pengetahuan yang lebih kokoh bagi penelitian maupun praktik kesehatan lansia. Capaian di AAPD ke-18 mempertemukan dua hal yang saling melengkapi, prestasi dalam forum ilmiah internasional dan perhatian terhadap persoalan kesehatan yang berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat. Melalui kajian yang menghubungkan kesehatan gigi-mulut dengan fungsi fisik dan kondisi psikologis, penelitian ini mengingatkan bahwa kesehatan lansia perlu dipahami secara utuh, bukan sebagai kumpulan masalah yang berdiri sendiri, melainkan sebagai dimensi yang saling berkaitan dan perlu ditelaah dengan bukti ilmiah yang cermat.
(Kontributor: Rieski Prihastuti, S.Kp.G., M.P.H., Ph.D, Redaksi; Andri Wicaksono)