Berita

/

Berita Terbaru

Debat Eksternal PEMIRA 2026 FKG UGM: Uji Gagasan di Hadapan Publik

Dua mahasiswi angkatan 2025 berdiri di hadapan panelis dan audiens, masing-masing membawa nama kabinet dan visi yang telah mereka persiapkan dengan serius. Inilah Debat Eksternal Calon Ketua BEM KM FKG UGM, bagian dari Pemilihan Raya Mahasiswa (PEMIRA) 2026 untuk memperebutkan kursi Ketua BEM KM FKG UGM periode 2027.

Lintang Nabila Divani, membawa gagasan Kabinet Nawa Cipta, berhadapan dengan Emely Martha Renaunia yang mengusung Kabinet Cakra Nawasena. Keduanya sama-sama dari Program Studi Kedokteran Gigi angkatan 2025. Dalam kegiatan Debat External Pemira 2026 yang diselenggarakan pada Jumat (09/10) di Auditorium Gedung Margono Soeradji, keduanya menyampaikan gagasan, menjawab pertanyaan tiga panelis berpengalaman, merespons sanggahan satu sama lain, dan menghadapi pertanyaan langsung dari audiens.

Demokrasi Kampus Bukan Sekadar Formalitas

Sebelum acara dimulai, drg. Muhammad Fahmi Alvian, Kepala Unit Kemahasiswaan dan Bimbingan Konseling FKG UGM, secara khusus menyoroti keberanian kedua kandidat.

“Saya mengapresiasi keberanian kedua kandidat perempuan untuk mencalonkan diri sebagai ketua BEM. Demokrasi kampus yang sehat perlu dijaga, aturan organisasi perlu dijunjung, dan kita perlu memilih sosok pemimpin yang memiliki kecakapan dan tanggung jawab.”

Senada dengan itu, Margaret Sigiro selaku Ketua Pelaksana PEMIRA 2026 menegaskan bahwa debat ini bukan sekadar tahapan administratif.

“Ini adalah kesempatan bagi mahasiswa untuk menilai kemampuan kandidat dalam memberikan gagasan dan merespons isu-isu yang berkembang, bukan hanya formalitas tahapan pemilihan.”

Pernyataan itu terasa relevan saat sesi debat berlangsung. Kedua kandidat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari tiga panelis, yakni drg. Arvin Wijaya (Sekretaris Jenderal PSMKGI 2018–2020), Muhammad Alfatih Suaidi, S.KG. (perwakilan PSMKGI), dan Muhammad Ahdan Lutfi (Wakil Ketua SEMA Bidang Analisis dan Pergerakan) selama kurang lebih satu jam.

Dari Makan Bergizi Gratis hingga Dokter Gigi Asing

Isu-isu yang diangkat panelis jauh melampaui urusan internal kampus. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikaitkan dengan kasus keracunan, sikap apatis mahasiswa terhadap persoalan nasional, kebakaran hutan dan lahan, transparansi UKT, aksesibilitas layanan kesehatan gigi, hingga wacana masuknya dokter gigi asing ke Indonesia, semuanya dibahas dalam dua sesi debat yang berlangsung sekitar satu jam.

Dalam isu kebijakan UKT, misalnya, Lintang mengusulkan pemanfaatan program Hearing Dekanat sebagai wadah pengumpulan aspirasi mahasiswa yang disertai bukti konkret. Emely menambahkan perlunya transparansi dalam penjelasan mekanisme penggolongan UKT dan koordinasi dengan ketua BEM dari fakultas lain apabila persoalan memerlukan keputusan di tingkat universitas.

Untuk isu dokter gigi asing, kedua kandidat menyampaikan pandangan yang mempertimbangkan berbagai aspek. Emely menekankan bahwa kompetensi dokter gigi dalam negeri masih dapat dioptimalkan melalui kebijakan pemerataan distribusi tenaga kesehatan, dan penambahan institusi pendidikan perlu dievaluasi dari sisi kualitas, bukan sekadar jumlah. Lintang menyoroti aspek perbedaan bahasa, budaya, dan pemahaman terhadap kebutuhan pasien sebagai pertimbangan penting, seraya membuka ruang bahwa kolaborasi internasional bisa bermanfaat bila dilakukan dengan persiapan matang.

Ketika audiens mengajukan pertanyaan tentang penanganan kekerasan seksual di lingkungan kampus, kedua kandidat menyampaikan penolakan tegas. Emely menekankan keberpihakan kepada korban dan ketegasan proses penanganan. Lintang menekankan penghormatan terhadap privasi dan pilihan korban, akses ke pendampingan, serta pentingnya menciptakan lingkungan yang tidak menganggap pembahasan topik ini sebagai sesuatu yang tabu.

Nawa Cipta dan Cakra Nawasena: Dua Filosofi Kepemimpinan

Perbedaan antara kedua kandidat bukan soal konflik, melainkan soal penekanan. Lintang melalui Nawa Cipta menitikberatkan tata kelola yang transparan dan akuntabel, kesinambungan pengetahuan antar kepengurusan melalui program unggulan “Kapsul Kabinet”, serta asas kekeluargaan sebagai fondasi kerja organisasi. Emely melalui Cakra Nawasena berfokus pada penguatan internal yang solid, sistem aspirasi mahasiswa yang responsif, dan program yang terasa langsung oleh mahasiswa, seperti Denfit (olahraga rutin bulanan) dan Dentistry Market Day (wadah kewirausahaan mahasiswa).

Keduanya sepakat bahwa BEM perlu menjadi organisasi yang relevan, bukan sekadar aktif. Relevan bagi mahasiswa yang merasakannya, relevan bagi masyarakat yang membutuhkan kontribusi nyata dari calon-calon profesional kesehatan.

Sesi penutup bertajuk “Pelita Makna” memberi warna tersendiri. Di luar uji gagasan dan program kerja, kedua kandidat berbicara tentang perjalanan, rasa terima kasih, dan harapan. Emely mengingatkan bahwa keberhasilan organisasi tidak pernah hanya ditentukan oleh ketua. Lintang berharap memimpin organisasi yang mampu memberikan manfaat dengan menjaga kerja sama seluruh elemen.

Mahasiswa FKG UGM kini memegang giliran berikutnya: menggunakan hak pilih mereka dengan penuh kesadaran.


Penulis: Shinta
Kontributor & Foto: Dody

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
12 Oktober 2026

Pembangunan Gedung Baru FKG UGM Segera Dimulai

9 Oktober 2026

Dosen FKG UGM Bawa Nama Indonesia di Forum Internasional Gangguan Orofasial di Bali

8 Oktober 2026

Komitmen Tingkatkan Kualitas Pendidikan, FKG UGM Rampungkan Asesmen Lapangan Akreditasi Prodi Spesialis Periodonsia