Berita

/

Berita Terbaru

Large Multimodal Model Hantarkan drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes Meraih Gelar Doktor Pada Ujian Terbuka FK-KMK UGM

 Civitas akademika Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) kembali menambah dosen lulusan Doktoralnya. Dosen Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan dan Kesehatan Gigi Masyarakat (IKGP-JKGM) sekaligus Kepala Unit Teknologi Informasi dan Humas FKG UGM, drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes., secara resmi meraih gelar Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan. Gelar tersebut diraih setelah beliau berhasil mempertahankan disertasinya dalam Sidang Ujian Terbuka Doktor di Gedung Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM pada Rabu, 23 September 2026 yang dimulai pukul 09.30 WIB dan disiarkan secara langsung melalui Kanal youtube Program S3 FK-KMK UGM.

Dalam sidang yang dipimpin langsung oleh Prof. Dr. dr. Hera Nirwati, M.Kes., Sp.M.K.(K) (Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan SDM FK-KMK UGM mewakili Dekan), tim penguji memutuskan untuk memberikan predikat kehormatan cumlaude atas kelulusan drg. Zam Zam begitu akrab disapa. Pencapaian ini sekaligus mengukuhkan beliau sebagai Doktor ke-7.411 yang telah diluluskan oleh Universitas Gadjah Mada.

Ujian terbuka ini dihadiri oleh jajaran pimpinan dekanat FKG UGM, para Guru Besar, Pengurus Pusat PDGI, Pengurus Wilayah PDGI DIY, serta civitas akademika dan pihak keluarga.

Penelitian doktor yang diusung oleh drg. Zam Zam berfokus pada salah satu tantangan paling krusial dalam pelayanan kesehatan primer di Indonesia, yakni ketidaktepatan sistem rujukan pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Berdasarkan data penelitian, lebih dari 50% kasus rujukan dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) ke Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) sejatinya merupakan kasus yang dapat ditangani di tingkat primer. Kondisi ini memicu penumpukan pasien di rumah sakit rujukan serta pembengkakan beban finansial kesehatan secara nasional.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, drg. Zam Zam Aghasy mengembangkan riset bertajuk Large Multimodal Model (LMM) sebagai Clinical Decision Support System (CDSS) dalam Sistem Rujukan Kesehatan Gigi dan Mulut. Riset ini mengintegrasikan teknologi Large Multimodal Model (LMM) kecerdasan buatan (AI) yang mampu menganalisis input berupa teks klinis maupun citra medis (radiografi dan foto intraoral) ke dalam rekam medis elektronik. Teknologi ini diposisikan sebagai Clinical Decision Support System (CDSS) yang bertindak sebagai knowledge base pendukung keputusan dokter gigi di FKTP.

Disertasi ini mencakup tiga tahapan penelitian komprehensif:

  1. Evaluasi Komparatif Model AI (API-Hosted vs Self-Hosted): Menguji 11 model AI terhadap 1.540 kasus uji kompetensi kedokteran gigi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa model berbasis API-Hosted, khususnya Claude buatan Anthropic, mencatatkan performa agregat terbaik dengan akurasi mencapai 71,4% dalam menjawab soal-soal kompetensi medis dari 14 departemen kedokteran gigi.
  2. Uji Klinis Terkontrol (Randomized Controlled Trial / RCT): Melibatkan 61 dokter gigi di layanan kesehatan primer. Hasil RCT membuktikan secara signifikan bahwa dokter gigi yang dibantu oleh sistem CDSS berbasis AI memiliki tingkat ketepatan yang jauh lebih tinggi dalam mendiagnosis kasus serta menentukan pengodean International Classification of Diseases (ICD-10 dan ICD-9-CM) dibandingkan kelompok kontrol.
  3. Analisis Penerimaan & Etika (UTAUT2 & WHO Guidance): Pendekatan kualitatif Focus Group Discussion (FGD) mengidentifikasi facilitating conditions (kondisi fasilitas dan infrastruktur) sebagai faktor utama yang menentukan penerimaan teknologi AI oleh para praktisi medis di lapangan.

Di hadapan tim penguji yang terdiri dari para pakar kedokteran dan teknologi termasuk penguji eksternal drg. Iwan Dewanto, M.M., Ph.D. (UMY), tim penilai Dr. Mardhani Riasetiawan, S.E., Ak., M.T. (FMIPA UGM), drg. Lisdriyanto Hanindriyo, M.P.H., Ph.D. (FKG UGM), serta penguji internal dr. Fitriana Murriya A., Ph.D. (FK-KMK UGM) drg. Zam Zam menegaskan posisi etis penggunaan AI dalam pelayanan kesehatan.

“AI pada dasarnya adalah model matematika mutakhir yang berfungsi sebagai alat bantu kognitif, sama halnya seperti kalkulator atau kamus medis MIMS yang biasa kita gunakan,Kecerdasan buatan tidak pernah bisa menggantikan aspek afektif, empati, dan keterampilan psikomotor seorang dokter gigi. AI tidak memiliki kedaulatan hukum maupun etika, sehingga keputusan klinis akhir serta tanggung jawab terhadap kondisi pasien tetap berada penuh di tangan dokter sebagai operator.” papar drg. Zam Zam.

Menanggapi tantangan regulasi terkait keamanan data dan kedaulatan digital nasional terutama larangan pengiriman data medis ke server luar negeri drg. Zam Zam Aghasy menekankan pentingnya pengembangan model AI berbasis Self-Hosted yang disempurnakan dengan metode Fine-Tuning, Embedding, dan Retrieval-Augmented Generation (RAG) di dalam negeri.

Tim Pembimbing yang mendampingi riset ini terdiri dari Promotor Prof. dr. Hari Kusnanto Josef, Sp.KKLP, Dr.PH bersama Kopromotor dr. M. Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D. Mereka menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi atas keberhasilan drg. Zam Zam Aghasy dalam menyelesaikan riset mutakhir ini.

Dalam pidato pesannya, Prof. Hari Kusnanto menggarisbawahi kecepatan akselerasi riset ini yang mampu menangkap dinamika perkembangan Generative AI yang baru dimulai secara global pada akhir 2022. Beliau juga berpesan agar Dr. Zam Zam tidak berhenti pada capaian Artificial Narrow Intelligence (ANI) saat ini, melainkan bersiap menghadapi gelombang Artificial General Intelligence (AGI) dan Artificial Super Intelligence (ASI) di masa depan.

“Di masa depan, AI dan robotika akan semakin memegang peranan vital dalam kehidupan masyarakat. Tantangan terbesar kita menuju Indonesia Emas 2045 adalah mencegah terjadinya ketimpangan (inequity) akses terhadap teknologi canggih ini. Dr. Zam Zam telah membuktikan bahwa disertasi kedokteran gigi mampu mengadopsi teknologi terdepan demi kemaslahatan masyarakat luas. Kami berharap beliau segera melangkah menuju jenjang Guru Besar/Profesor,” ujar Prof. Hari Kusnanto.

Penyelenggaraan ujian terbuka ini menegaskan komitmen FKG UGM sebagai pelopor dalam integrasi teknologi kedokteran gigi digital (digital dentistry) dan kecerdasan buatan di Indonesia. Dengan bertambahnya kualifikasi doktor di lingkungan fakultas, FKG UGM siap untuk terus memperkuat kurikulum pendidikan vokasi, spesialis, dan akademik yang adaptif terhadap era Digital Health serta berorientasi pada peningkatan mutu pelayanan kesehatan masyarakat secara nasional.

Seluruh keluarga besar FKG UGM mengucapkan selamat dan sukses kepada drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes. atas gelar doktor yang diraih. Semoga ilmu dan inovasi yang dikembangkan memberikan manfaat melimpah bagi kemajuan dunia kedokteran gigi di Indonesia.

(Reporter: Andri Wicaksono, Foto: Fajar Budi Harsakti & Humas & Protokoler UGM)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
19 September 2026

Kedokteran Gigi Presisi lewat Citra 3 Dimensi

18 September 2026

Saatnya Laboratorium Kedokteran Gigi FKG UGM Mutakhirkan Sains & Kembangkan Pusat Inovasi

17 September 2026

FKG UGM Pertajam Kompetensi Pengelola Laboratorium Kedokteran Gigi di Era Digital