Cangkang kepiting dan daun teh hijau. Dua bahan yang tampaknya jauh dari dunia kedokteran gigi ternyata menyimpan potensi besar sebagai agen penyembuhan luka gingiva. Itulah inti temuan riset yang diterbitkan dalam Archives of Orofacial Sciences (2021) oleh tim peneliti Universitas Gadjah Mada, dipimpin Dr. drg. Indra Bramanti, M.Sc., Sp.KGA(K) dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG UGM.
Hasilnya cukup mengejutkan: gel ekstrak teh hijau yang dikemas dalam nano-chitosan terbukti meningkatkan jumlah fibroblas secara signifikan pada fase proliferasi penyembuhan luka gingiva, setara dengan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAIDs) yang selama ini menjadi standar terapi.
Ketika Luka Gusi Butuh Lebih dari Sekadar Waktu
Luka di rongga mulut bukan hal sepele. Proses penyembuhannya berlangsung dalam tiga fase yang saling tumpang tindih: inflamasi, proliferasi, dan maturasi. Pada fase proliferasi, fibroblas menjadi pemain kunci. Sel-sel inilah yang memproduksi kolagen, fibronektin, dan matriks ekstraselular yang menjadi fondasi jaringan baru.
Masalahnya, mempercepat fase ini bukan perkara mudah. NSAIDs memang efektif, namun penggunaannya membawa risiko: perdarahan gastrointestinal, perpanjangan waktu perdarahan, hingga gangguan fungsi ginjal. Maka, kebutuhan akan alternatif yang efektif sekaligus minim efek samping menjadi sangat relevan.
Teh hijau (Camellia sinensis) sudah lama dikenal mengandung flavonoid tinggi, terutama epigallocatechin gallate (EGCG), yang memiliki aktivitas antiinflamasi dan antioksidan. Namun, tantangannya ada pada sistem penghantaran: bagaimana memastikan senyawa aktif ini benar-benar terserap dan bekerja optimal di lokasi luka?
Jawabannya datang dari chitosan, polisakarida yang diekstrak dari cangkang krustasea seperti kepiting dan udang. Dalam ukuran nanopartikel, chitosan mampu menjadi “kendaraan” yang membawa senyawa fenolik lebih cepat masuk ke aliran darah dan sel, sekaligus melindungi sifat aktif senyawa tersebut agar tidak rusak sebelum sampai ke target.
Dari Laboratorium ke Jaringan Gingiva
Tim peneliti yang terdiri dari Dr. drg. Indra Bramanti, M.Sc., Sp.KGA(K) bersama Annisa Hidaratri Uningojati, Dilla Asriyani, Urfa Tabtila, Fathul Muin, dan Bramanti Nadya Kausara merancang studi eksperimental murni dengan desain post-test only control group. Subjek penelitian adalah 24 ekor tikus Wistar jantan berusia tiga bulan, dengan luka dibuat pada gingiva labial mandibula menggunakan punch biopsy berdiameter 2 mm.
Sebelum masuk ke tahap uji in vivo, tim terlebih dahulu menguji kadar flavonoid dari tiga jenis teh hijau: Pekoe, Gun Powder, dan Green Powder. Hasilnya, teh Pekoe unggul dengan kadar flavonoid tertinggi, 65,211 mg/L. Teh inilah yang kemudian dienkapsulasi dengan nano-chitosan, lalu diformulasikan menjadi gel dengan konsentrasi zat aktif 20%. Uji particle size analyser memastikan 77% partikel chitosan telah berukuran nano.
Selama tujuh hari, keempat kelompok tikus mendapat perlakuan berbeda: gel nano-chitosan-teh hijau, gel ekstrak teh hijau tanpa enkapsulasi, gel dasar sebagai kontrol negatif, dan gel NSAIDs topikal (Difflam) sebagai kontrol positif. Pada hari ke-5 dan ke-7, jaringan gingiva diambil, dibuat preparat histologi dengan pewarnaan hematoxylin eosin, lalu diamati di bawah mikroskop binokuler dengan pembesaran 400 kali.
Angka yang Berbicara Sendiri
Data yang muncul dari pengamatan histologi cukup meyakinkan. Pada hari ke-5, rerata jumlah fibroblas pada kelompok gel nano-chitosan-teh hijau mencapai 46,17 sel, jauh di atas kelompok kontrol negatif yang hanya 28,00 sel. Pada hari ke-7, angka tersebut meningkat menjadi 51,00 sel, sementara kontrol negatif hanya mencapai 32,50 sel.
Yang lebih penting, secara statistik tidak ada perbedaan signifikan antara kelompok nano-chitosan-teh hijau dengan kelompok NSAIDs (Difflam) pada kedua hari pengamatan. Artinya, efektivitas gel herbal ini setara dengan obat antiinflamasi konvensional yang sudah lama digunakan secara klinis.
“The administration of green tea extract gel which is encapsulated by nano-chitosan is effective in accelerating the healing of gingival wounds of male Wistar white rats as demonstrated by the increase in the number of fibroblasts.” — Bramanti et al., Archives of Orofacial Sciences, 2021
Mekanisme di balik temuan ini pun masuk akal secara biologis. Flavonoid dalam teh hijau diketahui mampu merangsang produksi TGF-β (transforming growth factor-β), yang mendorong migrasi dan proliferasi fibroblas ke area luka. Flavonoid juga menginduksi vascular endothelial growth factor (VEGF), yang berperan dalam pembentukan pembuluh darah baru. Enkapsulasi nano-chitosan memperkuat efek ini dengan memastikan senyawa aktif tersampaikan lebih efisien dan stabil ke jaringan target.
Kearifan Lokal yang Menunggu Dibuktikan Lebih Jauh
Ada yang menarik dari konteks riset ini: teh hijau diperoleh dari PT Pagilaran Yogyakarta, sementara chitosan berasal dari cangkang kepiting yang mudah ditemukan di Indonesia. Penelitian ini secara eksplisit menyebut potensi pengembangan sebagai bentuk pemanfaatan kearifan lokal Indonesia, dengan harapan suatu saat dapat diaplikasikan secara klinis pada manusia.
Tentu, perjalanan dari uji praklinis pada tikus menuju aplikasi klinis pada manusia masih panjang. Diperlukan uji toksisitas, studi farmakokinetik, hingga uji klinis berfase yang ketat. Namun sebagai bukti konsep awal, temuan ini membuka pintu yang selama ini belum pernah diketuk: bahwa cangkang kepiting dan daun teh, dua komoditas lokal yang melimpah, mungkin menyimpan jawaban atas masalah penyembuhan luka yang lebih aman dan terjangkau.
Pertanyaan yang kini menggantung bukan lagi “apakah ini bekerja?” melainkan “seberapa jauh kita bisa membawanya?”
Sumber DOI : 10.21315/aos2021.16.s1.5
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels