Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 10, SDG 12, SDG 15, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Bawang Putih di Laboratorium: Saat Herbal Dapur Terbukti Ramah bagi Sel Gusi

Angka itu terasa mengejutkan: 145,46 persen. Bukan persentase keuntungan saham, bukan pula skor ujian yang melampaui skala. Itu adalah tingkat viabilitas sel fibroblas gingiva manusia setelah dipapar ekstrak bawang putih selama 48 jam. Artinya, sel-sel jaringan gusi yang diteliti tidak hanya bertahan hidup, tapi justru berkembang biak lebih aktif dibandingkan kelompok kontrol. Temuan ini lahir dari riset yang dipublikasikan di Bangladesh Journal of Medical Science (Vol. 17, No. 4, Oktober 2018), dengan peneliti utama Dr. drg. Indra Bramanti, M.Sc., Sp.KGA(K), yang kala itu menempuh Program Pascasarjana Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada.

Dari Dapur ke Kultur Sel

Bawang putih (Allium sativum L.) bukan tanaman asing di meja makan Indonesia. Tapi di balik aromanya yang kuat, tersimpan senyawa-senyawa aktif yang sudah lama menarik perhatian dunia medis: allicin, flavonoid, dan diallyl disulfide. Ketiganya diketahui memiliki sifat antibakteri dan antiinflamasi. Yang belum banyak dieksplorasi adalah apakah ekstrak ini aman bagi sel-sel tubuh manusia, khususnya sel yang berperan dalam penyembuhan jaringan mulut.

Latar belakang penelitian ini berangkat dari masalah klinis yang nyata. Karies gigi sulung yang meluas kerap berujung pada paparan pulpa dan nekrosis, kondisi yang mengharuskan perawatan saluran akar pada anak. Material dressing saluran akar yang selama ini lazim digunakan, seperti kalsium hidroksida dan kresofena, masih memerlukan kajian mendalam soal dampaknya terhadap jaringan periapikal. Ekstrak bawang putih diusulkan sebagai kandidat alternatif, dengan syarat utama: ia harus biokompatibel, tidak merusak sel-sel di sekitar jaringan gigi.

Uji Viabilitas: Dua Belas Konsentrasi, Tiga Titik Waktu

Tim peneliti menyiapkan fibroblas gingiva manusia yang diperoleh dari jaringan gusi pasien yang menjalani pencabutan gigi untuk keperluan perawatan ortodontik. Sel-sel tersebut dibiakkan dalam kondisi laboratorium terkontrol, lalu dipapar empat belas konsentrasi serial ekstrak bawang putih etanolik, mulai dari 0,3125 hingga 2.560 μg/ml. Pengamatan dilakukan pada jam ke-24, ke-48, dan ke-72 menggunakan uji MTT, metode standar untuk mengukur viabilitas dan proliferasi sel.

Hasilnya konsisten di seluruh kelompok perlakuan: semua konsentrasi ekstrak bawang putih meningkatkan viabilitas dan proliferasi fibroblas gingiva. Viabilitas tertinggi dicatat pada konsentrasi 1,25 μg/ml di jam ke-48, yakni 145,46 persen. Bahkan pada konsentrasi terendah, 0,3125 μg/ml, viabilitas sel masih berada di atas 100 persen. Satu-satunya nilai yang turun sedikit di bawah ambang batas 100 persen tercatat pada konsentrasi 0,625 μg/ml di jam ke-72, yaitu 79,9 persen, namun ini masih jauh dari ambang toksisitas.

“The ethanolic garlic extract has a good biocompatibility to human gingival fibroblasts culture cell and can stimulate cell growth that is seen from the proliferation of human gingival fibroblasts cell.” — Bramanti et al., Bangladesh Journal of Medical Science, 2018

Mekanisme di Balik Angka

Mengapa bawang putih justru mendorong sel tumbuh? Jawabannya ada pada kerja sinergis senyawa aktifnya. Allicin bekerja sebagai agen antiinflamasi dengan menekan produksi TNF-α secara spontan, menghambat aktivasi NF-κB, sekaligus menstimulasi produksi IL-10 yang berperan meredam respons inflamasi. Dalam fase perbaikan jaringan, kondisi ini justru menciptakan lingkungan yang kondusif bagi proliferasi fibroblas.

Sementara itu, flavonoid dalam bawang putih merangsang produksi TGF-β, faktor pertumbuhan yang mendorong migrasi dan proliferasi fibroblas ke area luka. Flavonoid juga menginduksi VEGF, yang berperan dalam pembentukan pembuluh darah baru. Diallyl disulfide, senyawa ketiga, membantu memecah protein pada sel rusak dan meningkatkan aktivitas fagositik, memperkuat respons imun seluler.

Analisis statistik dengan uji Kruskal-Wallis dan U Mann-Whitney menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan viabilitas antar kelompok konsentrasi pada setiap titik waktu (p>0,05). Namun ada perbedaan signifikan antara titik waktu pengamatan (p<0,05), terutama antara jam ke-24 dan ke-48, serta ke-48 dan ke-72. Pola ini konsisten dengan siklus pertumbuhan sel yang memasuki fase stasioner menjelang jam ke-72.

Implikasi bagi Kedokteran Gigi Anak

Penelitian ini membuka pintu yang sebelumnya hanya terbuka setengah. Selama ini, kekhawatiran utama penggunaan herbal dalam prosedur klinis adalah potensi toksisitasnya terhadap jaringan biologis. Data dari riset ini menjawab kekhawatiran itu, setidaknya pada level kultur sel in vitro: ekstrak bawang putih etanolik tidak hanya aman, tapi aktif mendukung pertumbuhan fibroblas gingiva.

Konsentrasi 1,25 μg/ml yang menghasilkan viabilitas tertinggi bahkan disebut layak dipertimbangkan sebagai kandidat material dressing saluran akar gigi sulung. Ini tentu bukan kesimpulan klinis final, penelitian lanjutan in vivo dan uji klinis masih diperlukan. Tapi bagi dunia kedokteran gigi anak yang terus mencari bahan perawatan yang lebih alami, terjangkau, dan minim efek samping, bawang putih kini bukan sekadar bumbu masak.

Menarik juga untuk diingat bahwa bawang putih yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Balai Tanaman Obat Tawangmangu, Jawa Tengah. Dari lereng gunung ke cawan kultur sel di Laboratorium Farmakologi FK UGM, perjalanan rimpang sederhana itu ternyata menyimpan potensi yang belum sepenuhnya kita pahami.

Sumber DOI : http://dx.doi.org/10.3329/bjms.v17i4.38315

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
17 Juli 2026

Susu Sapi Ternyata Bisa Bantu Pulihkan Email Gigi yang Rusak Akibat Minuman Asam

17 Juli 2026

Bawang Putih di Luka Gingiva: Temuan Tak Terduga dari Laboratorium UGM

17 Juli 2026

Foto Rontgen Gigi Bisa Ungkap Tulang Rapuh: Riset FKG UGM Buktikan Potensinya pada Perempuan Menopause

id_ID