Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 10, SDG 11, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Karies Gigi Remaja: Kota atau Desa, Kaya atau Miskin, Risikonya Sama Saja

Delapan puluh satu persen remaja di wilayah pedesaan Sleman tercatat pernah mengalami karies gigi. Di perkotaan, angkanya 70,7 persen. Sekilas, perbedaan itu tampak bermakna, seolah tempat tinggal dan kondisi ekonomi orang tua menjadi penentu nasib kesehatan gigi anak-anak muda. Namun hasil riset yang diterbitkan dalam Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) edisi September 2016 justru menunjukkan sesuatu yang mengejutkan: tidak ada korelasi signifikan antara wilayah tempat tinggal maupun kondisi sosial ekonomi orang tua dengan prediksi karies baru pada remaja.

Temuan ini lahir dari studi lintas-sektoral yang melibatkan 275 remaja usia 13–15 tahun di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian dipimpin oleh Bambang Priyono dari Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat FKG UGM, bersama Hari Kusnanto dari Fakultas Kedokteran UGM, serta Prof. Dr. drg. Al. Supartinah, Sp.KGA dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG UGM, dan Dibyo Pramono.

Cariogram dan Rahasia di Balik Angka

Alat ukur utama dalam studi ini bukan sekadar penghitungan gigi berlubang biasa. Tim peneliti menggunakan Cariogram, sebuah perangkat lunak komputer yang menganalisis sepuluh variabel sekaligus: pengalaman karies sebelumnya, volume dan kapasitas buffer saliva, indeks plak, jumlah koloni bakteri kariogenik, frekuensi dan komposisi diet, paparan fluorida, hingga penilaian klinis keseluruhan. Hasilnya bukan sekadar diagnosis, melainkan prediksi probabilistik: seberapa besar peluang seseorang mengalami karies baru jika kondisi mulutnya tidak berubah.

Dari sana diperoleh angka yang disebut “prediksi mendapat karies baru,” yakni hasil pengurangan 100 persen dari output Cariogram. Semakin tinggi persentasenya, semakin besar risiko. Rerata prediksi karies baru di wilayah perkotaan tercatat 47,83 persen, sementara di pedesaan 53,61 persen. Selisih sekitar enam poin itu tampak nyata, tetapi uji statistik regresi berganda dengan variabel dummy pada tingkat kepercayaan 95 persen menghasilkan nilai p sebesar 0,152, jauh di atas ambang signifikansi.

“Kondisi sosio-ekonomi orang tua tidak secara langsung memengaruhi prediksi karies baru, tetapi lebih berperan pada asupan nutrisi penguatan gigi, penggunaan pasta gigi berfluoride, dan perilaku kunjungan ke dokter gigi.”

Pernyataan itu menjadi inti argumen penelitian ini: kemiskinan atau kemakmuran tidak otomatis menentukan kondisi gigi seseorang. Ada lapisan-lapisan perilaku di antaranya yang justru lebih menentukan.

Yogyakarta Meratakan Akses, Tapi Tidak Meratakan Kebiasaan

Sleman dipilih bukan tanpa alasan. Kabupaten ini merupakan wilayah aglomerasi Kota Yogyakarta yang secara unik masih memiliki karakter urban dan rural yang jelas. Bagian tengah Sleman adalah pusat pendidikan dan perdagangan, sementara wilayah barat dan timur masih berciri agraris. Kontras itu seharusnya ideal untuk menguji hipotesis bahwa lingkungan membentuk risiko karies.

Namun kenyataan di lapangan berkata lain. Yogyakarta sebagai kota wisata sekaligus kota pelajar memiliki pusat-pusat kuliner yang mudah dijangkau dari hampir semua penjuru, lengkap dengan akses internet yang membuat tempat-tempat itu makin menarik bagi kalangan muda. Remaja desa dan kota, dengan kantong tipis maupun tebal, sama-sama memiliki akses terhadap makanan tinggi karbohidrat dan camilan manis. Pola makan kariogenik bukan lagi privilege atau kutukan satu kelompok saja.

Ini yang membuat temuan studi ini relevan melampaui batas geografis Sleman. Di kota-kota penyangga yang tumbuh cepat di Indonesia, batas antara “urban” dan “rural” dalam hal akses konsumsi semakin kabur.

Risiko Itu Tersebar Merata, Perhatian Belum

Data dari studi ini memperlihatkan bahwa mayoritas sampel, baik dari keluarga berpenghasilan rendah maupun tinggi, tersebar merata di semua kategori prediksi karies. Pada kelompok sosio-ekonomi rendah misalnya, persentase tertinggi jatuh di kategori risiko sedang (33,7 persen). Pada kelompok sosio-ekonomi menengah, distribusinya bahkan lebih merata: kategori rendah, sedang, dan tinggi masing-masing menempati proporsi yang hampir sama.

Uji chi-square untuk variabel sosio-ekonomi menghasilkan nilai p = 0,764, tidak signifikan. Artinya, tidak ada pola yang konsisten antara seberapa besar pengeluaran harian keluarga dengan seberapa besar risiko karies anak remajanya.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah fakta bahwa lebih dari 20 persen sampel, baik di kota maupun desa, masuk kategori risiko tinggi dan sangat tinggi. Angka itu bukan statistik yang bisa diabaikan. Plak yang menumpuk di permukaan gigi yang sulit dijangkau sikat, ditambah konsumsi karbohidrat tinggi tanpa perlindungan fluorida yang memadai, adalah kombinasi yang menurut penelitian ini menjadi perhatian utama dalam program pencegahan karies.

Studi ini secara implisit menantang pendekatan program kesehatan gigi yang terlalu bertumpu pada pemetaan geografis atau kategorisasi ekonomi. Jika risiko tersebar merata lintas batas wilayah dan kelas, maka intervensi pencegahan pun seharusnya tidak hanya menyasar “yang miskin di desa.” Perilaku menyikat gigi, kebiasaan ngemil, dan paparan fluorida adalah variabel yang jauh lebih menentukan, dan itu ada di mana-mana, termasuk di rumah-rumah dengan garasi mobil di kompleks perumahan pinggir kota.

Sumber DOI : http://10.20473/j.djmkg.v49.i3.p115-119

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
17 Juli 2026

Literasi Kesehatan Gigi Rendah, Gusi Pun Meradang: Temuan Peneliti FKG UGM pada Lansia Yogyakarta

17 Juli 2026

Filtrat Bawang Putih Ungguli Kalsium Hidroksida: Temuan dari Saluran Akar Gigi Susu

17 Juli 2026

Saat Komputer Belajar Membaca Rongga Mulut: Kecerdasan Buatan di Balik Kursi Gigi

id_ID