Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Gigi Goyang, Tulang Menyusut: Perawatan Saluran Akar Selamatkan Gigi Tanpa Operasi

Seorang pria berusia 21 tahun datang ke Klinik Konservasi Gigi RSGM Prof. Soedomo FKG UGM dengan keluhan gigi geraham kiri bawah yang sakit. Gigi itu sudah pernah ditambal setahun sebelumnya, tapi kini terasa nyeri saat ditekan dan sedikit goyang. Ketika foto rontgen diambil, hasilnya mengejutkan, ada kerusakan tulang yang meluas dari area percabangan akar hingga ke akar bagian belakang gigi tersebut. Inilah yang disebut lesi endo-perio, kondisi di mana infeksi dari dalam gigi merambat keluar dan merusak jaringan penyangga gigi. Pertanyaannya, apakah gigi ini masih bisa diselamatkan tanpa operasi?

Kasus ini diteliti dan dipublikasikan oleh Irene Sulistio dan Dr. drg. Yulita Kristanti, M.Kes. dari Program Studi Konservasi Gigi, PPDGS Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, dalam jurnal Majalah Kedokteran Gigi edisi Juni 2014.

Untuk memahami kasus ini, perlu diketahui satu fakta anatomi yang menarik. Jaringan di dalam gigi (pulpa) dan jaringan penyangga gigi (periodontal) sebenarnya saling terhubung. Ada tiga jalur utama yang menghubungkan keduanya, yaitu saluran kecil di dentin yang disebut tubulus dentinalis, saluran-saluran kecil di sisi akar yang disebut kanal lateralis dan aksesoris, serta lubang di ujung akar yang disebut foramen apikal.

Jalur-jalur ini dalam kondisi normal tidak menimbulkan masalah. Tapi ketika pulpa gigi mati atau terinfeksi, bakteri dan produk inflamasi bisa keluar melalui jalur tersebut dan merusak tulang serta jaringan di sekitar akar. Inilah yang terjadi pada pasien, pulpanya sudah mengalami nekrosis (mati) dan infeksi telah merambat ke jaringan periodontal, menyebabkan kerusakan tulang yang terlihat jelas pada foto rontgen. Kondisi seperti ini tidak bisa dianggap remeh. Selain nyeri, gigi yang mengalami lesi endo-perio bisa goyang, bahkan terancam dicabut jika tidak ditangani dengan tepat.

Tim dokter memutuskan untuk menangani kasus ini tanpa pembedahan. Langkah pertama adalah merujuk pasien ke bagian Periodonsia untuk pembersihan karang gigi, karena jaringan penyangga gigi perlu distabilkan terlebih dahulu sebelum perawatan saluran akar dimulai.

Perawatan saluran akar kemudian dilakukan dalam beberapa kunjungan. Saluran akar dibersihkan secara menyeluruh menggunakan instrumen khusus (ProTaper), lalu dibilas dengan larutan natrium hipoklorit (NaOCl) 2,5% dan EDTA 15% untuk membunuh bakteri sekaligus membersihkan sisa-sisa jaringan. Setelah saluran bersih, dimasukkan bahan dressing berupa kalsium hidroksida yang dicampur gliserin.

Kalsium hidroksida bukan bahan sembarangan. Material ini dikenal memiliki sifat antibakteri dan mampu merangsang penyembuhan jaringan di sekitar ujung akar. Bahan ini diganti sebanyak tiga kali selama proses perawatan berlangsung, sambil terus dipantau perkembangan penyembuhan tulangnya melalui foto rontgen berkala.

“Perawatan dengan kalsium hidroksida dapat merangsang penyembuhan pada lesi di sekitar apikal dan furkasi.” Irene Sulistio dan Dr. drg. Yulita Kristanti, M.Kes., dalam laporan kasus ini

Setelah lesi menunjukkan tanda-tanda perbaikan pada rontgen, barulah saluran akar diisi secara permanen menggunakan gutta-percha dan sealer endomethasone dengan teknik pengisian single cone. Pengisian dilakukan secara hermetis, artinya rapat sempurna agar tidak ada celah yang bisa dimasuki bakteri kembali.

Hasilnya tidak perlu menunggu lama. Pada kontrol bulan kedua setelah pengisian saluran akar, foto rontgen sudah memperlihatkan perubahan yang signifikan, area yang sebelumnya tampak gelap (radiolusen) sebagai tanda kerusakan tulang, mulai terisi kembali dengan jaringan tulang yang baru. Pasien juga tidak lagi merasakan nyeri.

Pada kunjungan keempat, sekitar empat bulan setelah perawatan saluran akar selesai, pemeriksaan klinis dan rontgen menunjukkan hasil yang memuaskan. Tidak ada nyeri saat diketuk atau ditekan, tidak ada kegoyangan gigi, dan penyembuhan tulang alveolar terlihat jelas. Barulah pada tahap ini gigi ditambal permanen menggunakan resin komposit.

Keberhasilan kasus ini sejalan dengan data yang ada: tingkat kesembuhan perawatan endodontik non bedah pada lesi periapikal mencapai 85%, bahkan hingga 94,4% untuk penyembuhan parsial maupun total.

Kasus yang dipublikasikan Dr. drg. Yulita Kristanti, M.Kes. bersama koleganya ini membawa pesan penting bagi siapa saja. Gigi yang terlihat rusak parah di rontgen belum tentu harus dicabut. Dengan diagnosis yang tepat, rencana perawatan yang terstruktur, dan kesabaran pasien menjalani serangkaian kunjungan, gigi yang tampak sudah kehilangan tulang penyangga sekalipun masih punya peluang pulih. Yang sering terlupakan adalah: bahwa kerusakan seperti ini tidak datang tiba-tiba. Tambalan lama yang bocor, karies yang tidak segera dirawat, atau gigi yang nyeri lalu dibiarkan karena masih bisa ditahan adalah awal dari perjalanan panjang menuju kondisi seperti ini. Gigi yang goyang dan tulang yang menyusut adalah ujungnya, bukan awalnya.

Penulis : drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes., Annisa Dwi Noviyanti

Foto : FreePik

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
15 Juli 2026

Semakin Lebar Lubang Gigi, Semakin Besar Risiko Patah

15 Juli 2026

Minyak Kencur di Bawah Mikroskop: Saat Tanaman Dapur Meredam Penjaga Imun Tubuh

15 Juli 2026

Tanda Bahaya dari Dalam Mulut: Riset Periodontitis FKG UGM Ungkap Jejak Sitokin di Darah

id_ID