Bocah laki-laki itu baru berusia empat tahun tujuh bulan. Namun tubuh kecilnya sudah menanggung bekas empat kali meja operasi — dua kali untuk bibir sumbing, dua kali untuk langit-langit mulutnya yang tak pernah benar-benar menutup. Setiap kali ia minum, cairan masih bisa naik ke rongga hidungnya. Setiap kali ia belajar mengucapkan kata, suaranya terdengar sengau, seperti berbicara dari balik sekat yang salah tempat.
Celah di palatum mole itu tetap ada. Dan keluarganya kembali datang ke poliklinik Bedah Mulut RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta.
Warisan Luka dari Operasi-Operasi Sebelumnya
Kasus ini didokumentasikan oleh drg. Pingky Krisna Arindra, Sp.B.M.M.Subsp.Ped.O.M.(K) bersama Prof. Prihartiningsih dan Prof. Bambang Dwi Rahardjo dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, dan dipublikasikan dalam Majalah Kedokteran Gigi Indonesia pada Juni 2015.
Pasien didiagnosis dengan labiognatopalatoschisis bilateral — kondisi celah yang melibatkan bibir, tulang rahang, sekaligus langit-langit secara menyeluruh di kedua sisi. Perjalanan pengobatannya dimulai sejak usia empat bulan: operasi pertama pada 2009 menggunakan teknik lip adhesion untuk mendekatkan celah bibir, disusul labioplasti bilateral metode Barsky pada 2010. Dua operasi berikutnya menyasar langit-langit: palatoplasti pushback pada 2012, lalu koreksi dengan z-plasty. Keduanya belum berhasil sepenuhnya.
Yang tersisa adalah jaringan fibrous tebal di mukosa palatum — parut dari operasi-operasi terdahulu yang justru menjadi penghalang baru. Membuka kembali area itu dengan teknik konvensional berisiko merobek jaringan yang sudah ringkih, memperluas kerusakan, dan berakhir dengan kegagalan ketiga.
Di sinilah teknik Furlow double opposing z-plasty dipertimbangkan.
Geometri Penyembuhan: Dua Z yang Saling Berhadapan
Teknik ini pertama kali diperkenalkan oleh Leonard Furlow pada 1986. Prinsipnya elegan secara geometri: dua pola sayatan berbentuk Z dibuat secara simetris — satu di lapisan mukosa oral, satu lagi di lapisan mukosa nasal sebagai cerminannya. Sudut tiap z-plasty dibuat 60 derajat. Ketika flap-flap jaringan itu ditransposisikan, palatum lunak tidak sekadar menutup — ia memanjang, dan otot levator palatini yang sebelumnya berjalan vertikal bisa diposisikan ulang menjadi horizontal.
Perubahan orientasi otot itu bukan detail kecil. Levator palatini adalah otot yang mengangkat dan menegang langit-langit lunak saat menelan dan berbicara. Bila serabutnya berjalan horizontal, kontraksinya jauh lebih efektif menutup celah antara langit-langit dan dinding belakang faring — yang dalam istilah klinis disebut velopharyngeal closure (VPC).
Operasi dilaksanakan pada 16 Januari 2014. Pasien dianestesi umum melalui intubasi oral. Desain z-plasty digambar di area uvula-palatum mole menggunakan gentian violet, lalu infiltrasi lidokain 1:200.000 diberikan di area operasi. Insisi dilakukan dengan pisau nomor 15, memisahkan mukosa oral dan mukosa nasal beserta otot levator palatini.
Karena jaringan fibrous dari operasi-operasi sebelumnya membuat flap sulit bergerak, tim bedah menambahkan lateral relaxing incision di bagian posterior tuber maksila. Langkah ini mengurangi ketegangan sehingga flap dapat ditransposisikan tanpa risiko robekan. Mukosa nasal dijahit dengan benang vicryl 4.0 teknik interrupted simpul dalam; mukosa oral menyusul dengan teknik serupa.
Hasil yang Tak Pernah Dicapai Empat Operasi Sebelumnya
Dua minggu pasca operasi, kontrol klinis menunjukkan penutupan komplet pada palatum lunak hingga ke uvula. Tidak ada dehisensi. Tidak ada tanda fistula oronasal yang baru.
Pasien dipulangkan tiga hari setelah operasi dengan instruksi ketat: dua minggu pertama hanya boleh mengonsumsi makanan cair — susu — menggunakan sendok. Tidak boleh menggunakan dot atau sedotan. Kebersihan rongga mulut dijaga ketat untuk mencegah infeksi yang bisa memicu kegagalan penyatuan jaringan.
“Teknik Furlow double opposing z-plasty dapat digunakan sebagai alternatif teknik perawatan repair palatoplasty… Perawatan yang dilakukan bisa memperbaiki hasil operasi sebelumnya.”
Demikian simpulan tim peneliti dalam publikasi tersebut. Keberhasilan ini bukan tanpa tantangan teknis: diseksi pada jaringan fibrous pasca-operasi berulang membutuhkan presisi tinggi dan waktu operasi yang lebih panjang dibanding palatoplasti primer. Namun dibandingkan teknik lain, Furlow z-plasty dilaporkan menghasilkan angka fistula oronasal yang lebih rendah dan peningkatan fungsi velofaringeal yang lebih baik.
Satu Kasus, Satu Pertanyaan yang Lebih Besar
Bibir dan langit-langit sumbing bukan kelainan langka. Secara epidemiologis, kondisi ini dua kali lebih sering terjadi pada anak laki-laki untuk kasus yang melibatkan bibir, sementara celah langit-langit terisolasi lebih sering pada perempuan. Etiologinya multifaktorial: faktor genetik, paparan obat-obatan tertentu selama kehamilan seperti fenitoin dan retinoid, infeksi rubella, hingga defisiensi asam folat semuanya berkontribusi.
Yang membuat kasus ini relevan secara klinis bukan hanya keberhasilan teknisnya. Ini adalah pengingat bahwa komplikasi berupa fistula oronasal terjadi pada 10-20 persen kasus palatoplasti primer — angka yang tidak kecil. Ketika operasi pertama gagal menutup sempurna, pasien dan keluarga memasuki siklus panjang yang melelahkan: operasi koreksi demi koreksi, jaringan parut yang menumpuk, dan pilihan teknik yang semakin terbatas.
Bagi bocah empat tahun yang datang ke RSUP Dr. Sardjito itu, teknik Furlow akhirnya mengakhiri siklus tersebut. Langit-langit mulutnya menutup. Ia bisa mulai belajar bicara dengan benar — sesuatu yang seharusnya sudah dimulai jauh sebelum usianya mendekati lima tahun.
Seberapa banyak anak lain di luar sana yang masih menunggu giliran yang sama?
Sumber DOI : 10.1556/ism.v9i2.267
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Freepik