Setiap hari, selama bertahun-tahun, para pengrajin batik di Yogyakarta menghirup dan menyentuh zat pewarna sintetis tanpa tahu persis apa yang terjadi di dalam sel-sel tubuh mereka. Kini, sebuah penelitian dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada memberi gambaran yang lebih jelas, dan hasilnya cukup mengusik.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal F1000Research pada September 2020 ini menunjukkan bahwa DNA sel epitel mukosa bukal, yakni sel yang melapisi bagian dalam pipi, pada pekerja yang terpapar senyawa azo memiliki karakteristik berbeda dibanding kelompok yang tidak terpapar. Temuan ini bukan sekadar angka di laboratorium. Ia menyiratkan kemungkinan kerusakan seluler yang selama ini tersembunyi di balik permukaan mukosa yang tampak normal.
Ketika Pewarna Batik Menyentuh Sel
Senyawa azo adalah tulang punggung pewarna sintetis di industri batik. Strukturnya yang mengandung gugus fungsional azo (-N=N-) terikat pada benzena membuatnya sulit terurai di lingkungan. Lebih dari sekadar mencemari air, senyawa ini diketahui bersifat karsinogenik dan mutagenik bila terpapar dalam jangka panjang.
Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO, peneliti utama dari Departemen Biologi Oral FKG UGM, telah lama meneliti dampak paparan azo terhadap sel-sel rongga mulut pekerja batik. Penelitian ini merupakan kelanjutan dari serangkaian studi sebelumnya yang menemukan peningkatan frekuensi mikronukleus, karyolisis, dan piknosis pada sel epitel bukal pekerja batik yang terpapar azo lebih dari lima tahun.
Yang membedakan studi kali ini: fokusnya pada profil DNA itu sendiri, bukan sekadar perubahan morfologi sel.
“Karakteristik DNA dapat digunakan sebagai indikasi paparan senyawa azo pada pekerja industri batik.” — Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO, et al., F1000Research 2020
Dari Pabrik Batik ke Laboratorium FKG UGM
Studi potong lintang (cross-sectional) ini melibatkan 20 subjek laki-laki, dibagi rata menjadi kelompok terpapar dan kelompok kontrol. Kelompok terpapar adalah pekerja divisi pewarnaan di industri batik Yogyakarta yang telah bekerja minimal lima tahun. Kelompok kontrol diambil dari mahasiswa dan staf FKG UGM yang tidak bekerja di lingkungan batik.
Pengambilan sel bukal dilakukan dengan metode non-invasif menggunakan cytobrush yang diputar minimal 360 derajat pada mukosa pipi bagian dalam. Sampel kemudian dibawa ke laboratorium untuk isolasi DNA menggunakan HiPurA Buccal DNA Purification Kit, lalu dianalisis kemurnian dan konsentrasinya melalui spektrofotometer dan elektroforesis gel agarosa.
Hasilnya mencolok. Pada elektroforesis, pita DNA bermolekul berat tinggi hanya muncul pada kelompok terpapar azo, tidak pada kelompok kontrol. Konsentrasi rata-rata DNA pada kelompok terpapar mencapai 59,02 ng/µL, jauh di atas kelompok kontrol yang hanya 19,35 ng/µL. Standar deviasi yang tinggi pada kelompok terpapar juga mengisyaratkan variasi besar antarindividu, kemungkinan akibat kerusakan DNA yang tidak merata.
Lebih jauh, analisis kemometrik menggunakan Principal Component Analysis (PCA) berhasil memisahkan kedua kelompok secara tegas berdasarkan tiga variabel: kemurnian DNA pada 280 nm, konsentrasi DNA, dan rasio absorbansi 260/280 nm. Konsentrasi DNA menjadi variabel paling berkontribusi dalam pemisahan ini.
Mukosa yang Diam, DNA yang Bercerita
Ada ironi yang menarik dalam temuan ini. Secara klinis, tidak satu pun subjek dalam kelompok terpapar menunjukkan perubahan tampilan pada mukosa bukalnya. Permukaan pipi mereka tampak normal. Namun di tingkat molekuler, DNA mereka memperlihatkan pola yang berbeda secara kuantitatif.
Hal ini sejalan dengan studi-studi sebelumnya yang menunjukkan peningkatan ekspresi sitokeratin 5 dan 19 pada sel epitel bukal pekerja batik, perubahan yang belum menghasilkan manifestasi klinis yang terlihat. Para peneliti menduga bahwa azo mungkin memicu kerusakan untai DNA, sebagaimana terjadi pada sel HepG2 yang terpapar pewarna azo Disperse Orange 1 dalam penelitian lain, meski mekanisme spesifiknya pada sel epitel oral belum sepenuhnya terungkap.
Penelitian ini memang memiliki keterbatasan, termasuk jumlah sampel yang kecil dan belum adanya pencitraan klinis mukosa bukal masing-masing subjek. Namun sebagai studi pendahuluan, ia membuka jalur baru: karakterisasi DNA sel bukal berpotensi menjadi penanda biologis (biomarker) paparan senyawa azo, jauh sebelum gejala klinis muncul.
Bagi para pekerja yang setiap hari bersentuhan dengan bak-bak pewarna batik tanpa perlindungan memadai, temuan ini bukan sekadar laporan ilmiah. Ia adalah sinyal awal yang seharusnya tidak dibiarkan menunggu terlalu lama untuk ditindaklanjuti.
Sumber DOI : https://doi.org/10.12688/f1000research.25798.1
Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.