Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 10, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Gigi yang Tersesat di Sinus: Temuan Langka dari Ruang Bedah RSA UGM

Pipi kanan seorang perempuan berusia 26 tahun itu membengkak dan semakin nyeri selama sepekan. Ia datang ke Poli Bedah Mulut dan Maksilofasial Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM) atas rujukan dokter gigi dari fasilitas kesehatan tingkat pertama. Tidak ada yang tampak janggal dari luar. Oklusi giginya normal. Tidak ada perubahan warna di gusi. Namun ketika hasil rontgen ortopantomograf (OPG) dibaca, temuan yang muncul tergolong langka: gigi molar ketiga kanan atas, yang seharusnya tumbuh di distal gigi 17, justru berada jauh di dalam sinus maksilaris kanan.

Inilah kasus yang kemudian dilaporkan oleh drg. Didit Istadi, Sp.BM., dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG UGM, bersama dr. Feri Trihandoko dari Departemen Bedah Kepala dan Leher Otorhinolaryngology FK-KMK UGM, dalam jurnal e-GiGi edisi Volume 13 Nomor 1 tahun 2025. Laporan ini menjadi salah satu dari segelintir publikasi Indonesia tentang gigi ektopik, kondisi di mana gigi tumbuh di luar lengkung rahang normal.

Ketika Gigi Tumbuh di Tempat yang Salah

Gigi ektopik bukan sekadar gigi yang miring atau berjejal. Ia bisa muncul di kondilus mandibula, prosesus koronoid, rongga hidung, palatum, bahkan sinus maksilaris. Antara tahun 1980 hingga 2010, hanya sekitar 30 kasus gigi ektopik di sinus maksilaris yang pernah dilaporkan di seluruh dunia. Angka itu kecil, tapi konsekuensinya tidak bisa diabaikan.

Penyebabnya beragam: pembentukan kista, celah palatum, trauma yang menggeser benih gigi, infeksi di maksila, kepadatan tulang yang tinggi, hingga tindakan iatrogenik. Yang menyulitkan deteksi dini adalah sifatnya yang sering asimtomatik di tahun-tahun awal. Tidak ada nyeri, tidak ada bengkak. Gigi itu diam saja di tempat yang salah, sampai suatu saat tubuh mulai bereaksi.

Pada pasien di kasus ini, keluhan baru muncul dalam bentuk bengkak yang menjalar dari pipi kanan hingga ke telinga. CT scan multislice yang dilakukan setelah OPG memperlihatkan detail yang lebih tajam: gigi 18 berada di dinding posterior antrum maksilaris kanan, dengan area radiolusen di bagian inferiornya. Informasi ini krusial untuk merencanakan tindakan bedah.

Operasi di Ruang Sempit, Dekat Dasar Orbita

Keputusan diambil: odontektomi di bawah anestesi umum dengan pendekatan Caldwell-Luc (CWL). Metode ini dipilih karena memberi akses pandangan langsung ke dalam sinus maksilaris dan memungkinkan irigasi antral yang cermat.

Saat sinus dibuka, ditemukan pus dan jaringan granulasi. Setelah rongga dibersihkan, gigi 18 tampak terjepit di antara septum sinus dan dinding superoanterior sinus. Tim bedah mengeluarkannya dengan hati-hati. Kesulitan durante operasi bukan hal kecil: ruang gerak terbatas, lapang pandang sempit, dan lokasi yang berdekatan dengan dasar orbita. Setelah kuretasi, rongga diirigasi dengan larutan NaCl 0,9% dan ditutup dengan tampon kasa panjang.

Pasien dirawat tiga hari di rumah sakit tanpa komplikasi berarti. Pembengkakan wajah mereda pada hari kedua pascaoperasi.

“Tindakan eksisi bedah dengan pendekatan Caldwell-Luc pada kondisi gigi ektopik ke dalam antrum maksilaris dengan gejala menunjukkan hasil yang baik dan tidak disertai keluhan berarti setelah tindakan, dengan hasil penyembuhan luka yang baik pada bulan ke-2 dan ke-3 pascaoperasi.” — drg. Didit Istadi, Sp.BM., dan dr. Feri Trihandoko, dalam laporan kasus e-GiGi 2025

Kontrol rutin dilakukan pada hari ke-7, ke-14, ke-28, ke-60, hingga tiga bulan pascaoperasi. Pada hari ke-7 masih ditemukan dehisensi luka, dan pada hari ke-14 dilakukan penjahitan ulang. Namun pada bulan kedua, luka sudah menutup sempurna. Hasil OPG tiga bulan pascaoperasi memperlihatkan penyembuhan yang baik, tanpa gambaran kista maupun lesi lain.

Peran Pemeriksaan Rutin yang Sering Diremehkan

Kasus ini menyimpan pelajaran penting yang melampaui teknik bedah. Jika pasien menjalani pemeriksaan gigi rutin dan dokter giginya melakukan odontogram secara menyeluruh, anomali letak gigi 18 bisa terdeteksi jauh lebih awal. Penanganan pada stadium asimtomatik jauh lebih sederhana: medan operasi lebih kecil, kerusakan jaringan sehat lebih minimal, pemulihan lebih cepat.

Dokter Didit dan koleganya menegaskan: bila ditemukan gigi yang hilang tanpa riwayat dicabut atau tanggal sendiri, kecurigaan harus segera muncul. Anamnesis, pemeriksaan objektif, dan rontgen OPG sebagai skrining awal adalah langkah pertama yang tidak boleh dilewati. Bila hasilnya mengarah ke gigi ektopik, rujukan ke spesialis bedah mulut dan maksilofasial perlu dilakukan sebelum kondisi berkembang menjadi infeksi, kista, atau tumor.

Sinus maksilaris yang semestinya berisi udara itu bisa menyimpan gigi yang tersesat bertahun-tahun. Dan selama ia diam, gejalanya pun ikut bungkam, sampai tubuh tidak lagi sanggup menahan.

Sumber DOI : https://doi.org/10.35790/eg.v13i1.53703

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Freepik

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
14 Juli 2026

Cara Menyinar Resin Komposit Ternyata Menentukan Kuat Lemahnya Tambalan Gigi

14 Juli 2026

Instrumen Banyak File Terbukti Lebih Bersih Bersihkan Ujung Akar Gigi

14 Juli 2026

Dari Yogyakarta ke Chennai: Ilmuwan FKG UGM Bicara di Panggung Bioseramik Asia

id_ID