Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 10, SDG 16, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Sepuluh Tahun Diam, Kista Sebesar Kepalan Tangan Tumbuh di Dasar Mulut

Bocah delapan tahun itu merasakan ada sesuatu yang aneh di dasar mulutnya. Tidak sakit, tidak mengganggu, jadi ia diam saja. Orang tuanya juga tidak terlalu khawatir. Satu tahun berlalu, dua tahun, lima tahun. Benjolan itu tetap ada, tetapi tetap tidak terasa apa-apa. Baru ketika remaja berusia 16 tahun itu mulai kesulitan menelan, barulah keluarganya mulai cemas. Dua tahun kemudian, ia bahkan kesulitan bernapas, dan kata-kata yang ia ucapkan terdengar tertahan di balik lidah yang terdorong ke atas oleh massa sebesar kepalan tangan.

Kisah ini bukan fiksi. Ini adalah kasus nyata yang ditangani oleh tim Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, dan kini dipublikasikan dalam jurnal internasional International Journal of Surgery Case Reports (2024). Kasus ini ditulis oleh drg. Bramasto Purbo Sejati, Dimaz Aryo Nugroho Bandriananto, drg. Cahya Yustisia Hasan, dan drg. Didit Istadi, Sp.BM., sebuah tim yang merawat pasien remaja laki-laki asal Jawa tersebut di rumah sakit daerah di Indonesia.

Ketika Kista Jinak Bisa Jadi Ancaman

Diagnosis akhirnya jatuh pada kista epidermoid sublingual, sebuah kista perkembangan yang terbentuk dari jaringan ektodermal dan dilapisi epitel skuamosa berlapis. Berbeda dari kista dermoid yang mengandung struktur kulit seperti folikel rambut atau kelenjar sebasea, kista epidermoid hanya berisi cairan keratin, tanpa pelengkap kulit apapun. Di rongga mulut, kista jenis ini tergolong langka: hanya 0,4 persen dari seluruh kista dasar mulut, dan kurang dari 0,01 persen dari semua kista oral.

Yang membuat kasus ini istimewa bukan hanya kelangkaannya, melainkan ukurannya. Hasil pemindaian MSCT (Multi-Slice Computed Tomography) dengan ketebalan irisan 1,25 mm menunjukkan lesi hipodense inhomogen di rongga mulut berukuran 57,99 × 55,33 × 41,41 mm, hampir seukuran bola pingpong besar, duduk tepat di atas otot geniohyoid dan mylohyoid, menekan lidah ke atas dan menyempitkan saluran napas.

Selama satu dekade, kista itu tumbuh perlahan, nyaris tanpa suara.

“Sublingual epidermoid cyst can grow as big as sublingual space can hold or even breaking through other spatium and made problems to adjacent tissue, such as difficult to swallow, causing respiratory distress, and patient appearance.”

Satu dampak yang jarang masuk dalam literatur medis turut dicatat dalam laporan ini: sang pasien mengalami perundungan dari teman-temannya akibat penampilan yang berubah. Kondisi itu mengganggu kesehatan mentalnya, dan menjadi salah satu alasan ia akhirnya memutuskan mencari pertolongan medis.

Pisau Bedah yang Memilih Jalur Mulut

Tim bedah menghadapi pertimbangan penting sebelum operasi: apakah menggunakan pendekatan intraoral (melalui mulut) atau ekstraoral (melalui kulit di bawah dagu). Pendekatan ekstraoral biasanya dipilih untuk kista yang sangat besar atau yang meluas ke bawah fasia submandibula. Namun hasil MSCT menunjukkan lesi berada di atas otot mylohyoid dan tidak menembus ke submandibula, sehingga pendekatan intraoral dipilih demi mempertahankan estetika wajah pasien.

Operasi dilakukan di bawah anestesi umum. Insisi horizontal sepanjang enam sentimeter dibuat dua sentimeter di bawah caruncula sublingualis. Diseksi tumpul dilakukan dengan hati-hati menggunakan Kelly curved artery clamp untuk memisahkan kapsul kista dari mukosa sublingual. Saat kapsul mencapai perlekatan pada otot geniohyoid, tim menemui hambatan: jaringan terlalu melekat untuk dipisahkan secara utuh. Keputusan diambil untuk membuka kapsul, mengevakuasi isinya, lalu membersihkan dinding kapsul secara menyeluruh.

Isi kista yang keluar berwarna kuning-putih, bertekstur seperti pasta keju. Berat totalnya 12,9 gram. Pemeriksaan histopatologi kemudian mengkonfirmasi gambaran khas kista epidermoid: epitel skuamosa kompleks monomorphous yang melapisi lumen berisi massa keratin eosinofilik, tanpa struktur adneksal kulit.

Tujuh Hari Menuju Pulih

Pemulihan pasien berjalan lebih cepat dari yang mungkin dibayangkan setelah satu dekade penantian. Dua hari pascaoperasi, sebagian drain kasa dilepas dan pasien diperbolehkan pulang dengan diet lunak. Hari kelima, seluruh drain diangkat dan luka terlihat bersih tanpa tanda infeksi. Hari ketujuh, jahitan dibuka. Hari keempat belas, jaringan telah menyatu sempurna.

Pasien menyatakan tidak lagi kesulitan menelan, bernapas, atau berbicara. Ia juga melaporkan bahwa teman-temannya tidak lagi mengejeknya.

Laporan ini menekankan satu pesan yang berulang kali muncul dalam diskusi klinis: semakin dini kista ditemukan dan ditangani, semakin mudah tatalaksananya. Kista epidermoid memang jinak, tetapi sekitar satu persen dari kasus dapat bertransformasi menjadi karsinoma sel skuamosa atau karsinoma sel basal. Studi terkini bahkan menyebut angka 70 persen dari transformasi maligna tersebut berkembang menjadi squamous cell carcinoma.

Sepuluh tahun adalah waktu yang terlalu lama untuk menunggu. Kasus ini menjadi pengingat bahwa benjolan di dasar mulut yang tidak terasa sakit sekalipun, layak mendapat perhatian sejak dini, dari dokter gigi, dari orang tua, dan dari pasien itu sendiri.

Sumber DOI : https://doi.org/10.1016/j.ijscr.2024.109729

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Freepik

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
14 Juli 2026

Instrumen Banyak File Terbukti Lebih Bersih Bersihkan Ujung Akar Gigi

14 Juli 2026

Dari Yogyakarta ke Chennai: Ilmuwan FKG UGM Bicara di Panggung Bioseramik Asia

14 Juli 2026

Senyum Manis & Sehat Tak Cukup, Bumi pun Harus Turut Tersenyum Lestari

id_ID