Tiga tahun setelah jatuh dan membentur batu, seorang anak laki-laki berusia 11 tahun datang ke RSUP Dr. Sardjito dengan benjolan keras yang telah memenuhi separuh rahang kirinya. Benjolan itu tidak nyeri, tidak memerah, tetapi terus membesar. Wajahnya tampak tidak simetris. Dokter menegakkan diagnosis: fibrous dysplasia monostotik, kelainan di mana jaringan tulang normal digantikan oleh jaringan fibrosa yang tidak fungsional.
Keputusan medisnya berat: rahang kiri harus diangkat seluruhnya. Namun tim bedah mulut dan maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, yang terdiri dari Agus Widodo, Muhammad M. Rahmat, Prihartiningsih, dan drg. Cahya Yustisia Hasan, Sp.BM., memilih untuk tidak berhenti di situ. Mereka memutuskan untuk mempertahankan nervus alveolaris inferior, saraf sensorik utama yang mengurus sensasi bibir bawah, kulit dagu, dan mukosa mulut.
Ketika Tulang Berkhianat pada Dirinya Sendiri
Fibrous dysplasia bukan tumor ganas, bukan pula kista biasa. Ia adalah lesi fibrooseus jinak di mana jaringan tulang spons digantikan oleh jaringan fibrosa abnormal. Pada tipe monostotik, hanya satu tulang yang terlibat. Pada anak yang sedang tumbuh, lesi ini bisa berkembang cepat, menekan struktur vital di sekitarnya, termasuk kanal mandibula tempat nervus alveolaris inferior berjalan.
Pada kasus ini, lesi telah melibatkan prosesus koronoid dan kondilus kiri. CT scan menunjukkan gambaran khas “ground glass” yang homogen. Massa fibrous dysplasia menekan nervus alveolaris inferior ke arah inferior mandibula, menjauhkannya dari posisi anatomis normalnya. Tanpa tindakan, rahang tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri. Jaringan fibrosa tidak memiliki kemampuan remodeling sempurna seperti tulang sehat.
Radioterapi bukan pilihan. Literatur ilmiah mencatat bahwa paparan radiasi pada fibrous dysplasia berpotensi mengubah sel sehat menjadi keganasan. Jalan satu-satunya: hemimandibulektomi, pengangkatan separuh rahang bawah.
Teknik yang Memilih Jalan Lebih Sulit
Mempertahankan nervus alveolaris inferior saat hemimandibulektomi bukan prosedur standar yang sederhana. Ini membutuhkan diseksi teliti sepanjang kanal mandibula, membebaskan saraf dari tekanan massa fibrosa yang selama bertahun-tahun menjepit struktur tersebut.
Tim bedah memulai dengan melepaskan saraf dari foramen mentale, mengebur tulang ke arah posterior secara hati-hati. Untuk melindungi permukaan saraf dari instrumen tajam dan bur, saraf dipegang menggunakan nelaton (karet pelindung). Arteri alveolaris inferior diligasi dan dipotong di foramen mandibularis. Setelah massa fibrous dysplasia berhasil diangkat bersih, plat rekonstruksi bridging dipasang untuk mengembalikan kontinuitas mandibula.
Penutupan luka dilakukan lapis demi lapis. Periosteum bukal dan lingual dijahit kembali ke plat bridging. Nervus alveolaris inferior dibungkus dalam jaringan otot agar tidak bersentuhan langsung dengan permukaan logam plat rekonstruksi. Kulit dijahit dengan teknik interrupted menggunakan nylon 5-0.
“Preservasi nervus alveolaris inferior pada kasus ini bertujuan mengurangi keluhan parestesia pascahemimandibulektomi, mengingat pasien masih muda, lesi bersifat jinak, dan angka rekurensinya rendah apabila diangkat secara bersih.”
Demikian tim peneliti mencatat dalam publikasi mereka di Journal of Dentomaxillofacial Science edisi Desember 2020.
Delapan Bulan Setelah Pisau Bedah
Minggu pertama pascaoperasi berjalan tanpa komplikasi. Tidak ada tanda infeksi, tidak ada dehisensi luka. Namun pada evaluasi awal, pasien mengeluhkan mati rasa di bibir bawah kiri, respons yang sebenarnya dapat diprediksi mengingat betapa panjang dan rumitnya manipulasi saraf selama operasi.
Tim memberikan mecobalamin 250 mg setiap delapan jam, suplemen neurotropik untuk mendukung regenerasi serabut saraf. Satu bulan kemudian, sensasi parestesia menghilang. Delapan bulan setelah operasi, bentuk wajah telah pulih, fungsi pengunyahan kembali, dan tidak ada keluhan sensorik yang tersisa. Hanya bekas keloid di bekas jahitan yang menjadi pengingat betapa besar prosedur yang pernah dilalui anak itu.
Kriteria keberhasilan preservasi saraf dalam kasus ini mengacu pada panduan Ishikawa et al. (1986) dan Hanlie (2012): tidak ada kehilangan sensasi sebelum operasi, saraf dapat dibebaskan tanpa adhesi patologis, selubung saraf tampak halus dan mengkilap, serta elastisitas batang saraf terjaga. Semua kriteria itu terpenuhi.
Pilihan yang Melampaui Teknis Bedah
Yang membuat laporan kasus ini menarik bukan semata keberhasilan teknisnya. Ia menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar dalam bedah tumor jinak: seberapa jauh seorang ahli bedah harus berupaya mempertahankan struktur vital ketika pengangkatan total jauh lebih mudah dan lebih cepat?
Pada pasien dewasa dengan tumor ganas, jawaban pertanyaan itu mungkin berbeda. Tetapi pada anak 11 tahun dengan lesi jinak dan prognosis baik, kehilangan sensasi permanen di bibir dan dagu bukan sekadar angka statistik. Itu adalah kualitas hidup yang akan ia bawa selama puluhan tahun ke depan.
Tim drg. Cahya Yustisia Hasan, Sp.BM. dan koleganya memilih jalan yang lebih panjang di meja operasi, agar jalan hidup sang anak tidak menjadi lebih sempit.
Sumber DOI : https://doi.org/10.12688/f1000research.51297.1
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Freepik