Bagi sebagian anak, ruang praktik dokter gigi bukan sekadar tempat perawatan kesehatan, melainkan ruang yang memunculkan kecemasan, ketakutan, bahkan trauma. Tangisan, penolakan membuka mulut, hingga ketidakmampuan bekerja sama selama perawatan menjadi tantangan yang tidak jarang dihadapi dokter gigi anak. Karena itu, kemampuan mengelola nyeri dan kecemasan pasien kini menjadi bagian yang semakin penting dalam layanan kedokteran gigi modern.
Kesadaran akan pentingnya aspek tersebut mendorong Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) untuk terus memperkuat kompetensi tenaga pendidiknya melalui jejaring internasional. Salah satu upaya itu diwujudkan melalui partisipasi dosen FKG UGM, drg. Andi Muhammad Fuad Ansar, Sp.KGA, dalam Dental Pain & Anxiety Workshop yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran Gigi Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia, pada 7–8 Mei 2026.
Saat meningkatnya perhatian dunia kesehatan terhadap pengalaman pasien (patient experience), workshop tersebut mengangkat berbagai pendekatan terkini dalam mengatasi kecemasan dan rasa nyeri selama perawatan gigi. Materi yang dibahas mencakup penggunaan nitrous oxide, sedasi intravena (intravenous sedation), akupunktur, hipnoterapi, hingga teknik pemeriksaan nyeri wajah (facial pain examination).
Perkembangan ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa keberhasilan perawatan gigi tidak hanya ditentukan oleh keterampilan klinis, tetapi juga kemampuan tenaga kesehatan membangun rasa aman dan nyaman pada pasien. Terlebih pada anak-anak yang masih berada dalam tahap perkembangan psikologis dan emosional.
Menurut drg. Fuad, pengelolaan kecemasan pasien merupakan salah satu kunci penting untuk meningkatkan kualitas layanan kedokteran gigi anak.
“Anak yang merasa nyaman akan lebih mudah diajak bekerja sama selama perawatan. Karena itu, pemahaman mengenai berbagai teknik pengendalian nyeri dan kecemasan menjadi sangat penting bagi dokter gigi anak,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa workshop tersebut tidak hanya memperkenalkan teori, tetapi juga memberikan pengalaman praktis mengenai berbagai pendekatan yang telah diterapkan di sejumlah negara. Pengalaman itu dinilai relevan dengan kebutuhan pelayanan kedokteran gigi anak yang semakin menuntut pendekatan holistik.
Fenomena dental anxiety sendiri masih menjadi persoalan global. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ketakutan terhadap perawatan gigi dapat menyebabkan seseorang menunda kunjungan ke dokter hingga kondisi kesehatan mulut memburuk. Pada anak-anak, pengalaman negatif saat perawatan bahkan dapat terbawa hingga dewasa dan memengaruhi perilaku kesehatan mereka dalam jangka panjang.
Dalam konteks itu, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi investasi penting. Bukan hanya untuk meningkatkan mutu layanan klinik, tetapi juga untuk memastikan perkembangan ilmu pengetahuan dapat ditransformasikan ke dalam proses pendidikan calon dokter gigi.
Fuad menilai, partisipasi dalam forum internasional membuka ruang pembelajaran yang lebih luas sekaligus memperkuat jejaring akademik lintas negara.
“Kami memperoleh banyak wawasan baru mengenai pendekatan yang lebih humanis dan berbasis bukti dalam menangani pasien dengan kecemasan tinggi. Pengetahuan ini diharapkan dapat memperkaya proses pendidikan serta mendukung pengembangan layanan kedokteran gigi anak di FKG UGM,” katanya.
Di tengah tantangan kesehatan yang semakin kompleks, investasi pada kualitas sumber daya manusia menjadi fondasi utama. Bagi FKG UGM, penguatan kompetensi dosen melalui forum internasional bukan sekadar agenda akademik, melainkan bagian dari upaya menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih aman, nyaman, dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
Pada akhirnya, keberhasilan perawatan gigi anak tidak hanya bergantung pada teknologi dan prosedur klinis. Ia juga ditentukan oleh kemampuan tenaga kesehatan memahami satu hal yang paling mendasar: rasa takut seorang anak yang duduk di kursi periksa. Ketika ketakutan itu dapat dikelola dengan baik, perawatan kesehatan pun berpeluang berlangsung lebih efektif dan manusiawi.
(Reporter: drg. Fita Fathya Iriana, Redaksi: Andri Wicaksono, S.Sos., M.I.Kom)