“Kalau kualitas SDM, fasilitas, dan mutu pembelajaran meningkat, maka manfaatnya akan kembali ke mahasiswa juga. Ini siklus yang saling menguatkan.” drg. Heribertus Dedy Kusuma Yulianto, M.Biotech., Ph.D
Di tengah dinamika perubahan dunia pendidikan tinggi, semangat kolaborasi kembali digaungkan sebagai fondasi utama. Hal itu ditegaskan oleh drg. Dedy begitu akrab disapa yang pada 8 April 2026 telah dilantik sebagai Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, & SDM FKG UGM yang baru, kini mengemban amanah strategis di bidang keuangan, aset, dan sumber daya manusia di Fakultas Kedokteran Gigi (FKG).
Dalam wawancara yang berlangsung hangat dan reflektif, drg.Dedy menekankan bahwa keberhasilan institusi bukanlah hasil dari kerja individu, melainkan buah dari kompetensi kolektif. “Kata kunci utama yang saya pegang adalah kerja sama dan kolaborasi. Tanpa itu, sulit bagi kita untuk melangkah jauh,” ujarnya.

Melayani Pendidikan, Bukan Sekadar Mengelola
Berbekal pengalaman sebelumnya sebagai salah satu pimpinan di RSGM UGM, drg. Dedy memahami betul bahwa meskipun konteks kerja berbeda, namun prinsip dasarnya tetap sama, yakni pelayanan.
Jika rumah sakit berfokus pada pasien, maka fakultas berfokus pada mahasiswa. “Mahasiswa adalah stakeholder utama kami. Tugas kami adalah memastikan mereka mendapatkan layanan pendidikan terbaik,” jelasnya.
Peran bidang yang ia pimpin menjadi tulang punggung manajerial FKG UGM, mulai dari memastikan ketersediaan & kapabilitas sumber daya manusia yang kompeten, pengelolaan aset yang optimal, hingga sistem keuangan yang akuntabel. Semua itu bermuara pada satu tujuan, menjadikan FKG UGM sebagai Fakultas yang kolaboratif & akuntabel.
Perbaikan Tanpa Henti
Alih-alih berpuas diri dengan capaian yang ada, drg. Dedy justru menekankan pentingnya peningkatan kinerja berkelanjutan. Prinsip ini sejalan dengan budaya mutu yang telah lama dijunjung tinggi di Universitas Gadjah Mada.
“Kalau target tahun ini sudah tercapai, maka tahun depan harus ditingkatkan. Jangan berhenti di angka yang sama,” tegasnya. Misi ini bukan tanpa dasar. Pada tahun 2025, beberapa program studi di FKG telah berhasil meraih akreditasi internasional, sebuah pencapaian yang menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh ke level global.
IUP: Gerbang Menuju Dunia Internasional
Salah satu langkah strategis yang tengah dikembangkan adalah program International Undergraduate Program (IUP). Program ini bukan sekadar label internasional, melainkan pintu masuk menuju jejaring global.
“IUP adalah jembatan. Dari situ kita membuka peluang kerja sama internasional, pertukaran pengetahuan, dan peningkatan kualitas secara menyeluruh,” kata drg. Dedy
Ia juga menepis anggapan bahwa program ini semata-mata berorientasi pada peningkatan revenue semata. Menurutnya, dampak finansial hanyalah efek lanjutan dari peningkatan kualitas substansi FKG UGM.
“Kalau kualitas SDM, fasilitas, dan mutu pembelajaran meningkat, maka manfaatnya akan kembali ke mahasiswa juga. Ini siklus yang saling menguatkan.”
Kompetisi atau Kolaborasi?
Di tengah bertambahnya institusi pendidikan kedokteran gigi di Yogyakarta dan sekitarnya, muncul pertanyaan tentang kompetisi. Namun drg. Dedy melihatnya dari sudut pandang berbeda. Ia justru memandang fenomena tersebut sebagai peluang kolaborasi.
“Kebutuhan dokter gigi spesialis di Indonesia masih tinggi. Jadi ini bukan ancaman, melainkan kesempatan untuk berbagi sumber daya, jejaring, dan bahkan program bersama,” jelasnya.
Baginya, nilai sebuah institusi tidak hanya diukur dari profit, tetapi juga dari manfaat non-finansial seperti kerja sama dan kontribusi terhadap masyarakat luas.

Pesan yang Sederhana, Tapi Kuat Makna
Di akhir perbincangan, drg. Dedy menyampaikan pesan yang sederhana namun sarat makna:
“Kita bisa maju bersama kalau kita bekerja sama. Kita bisa berkembang kalau kita berkolaborasi.”
Pesan itu bukan sekadar retorika, melainkan refleksi dari kepemimpinan yang menempatkan kebersamaan di atas ego, dan masa depan bersama di atas kepentingan pribadi.
Di tengah tantangan globalisasi dan kompetisi pendidikan, pendekatan seperti inilah yang menjadi harapan baru, bahwa kemajuan tidak harus diraih sendiri, tetapi bisa dicapai bersama.
(Redaksi: Andri Wicaksono, S.Sos., M.I.Kom, Foto: Andri & Arsip Humas UGM)