Berita

/

Berita Terbaru

Menjadi ‘Manusia’ Menuju Profesi Dokter Gigi

Sepotong cerita drg. Anindita Brataningdyah, Lulusan FKG UGM periode Maret 2026 yang ditempa oleh ketangguhan & empati

Siang nan terik di sudut Gedung DLC FKG UGM, Anin berjalan tampak sedikit tergopoh-gopoh, sembari duduk meletakkan tasnya. “Baru selesai sesi foto bersama angkatan, tadi di GIK”, diiringi senyum & tawa renyahnya penuh semangat untuk mengutarakan kisahnya.

Perjalanan menjadi dokter gigi sering kali dibayangkan sebagai kisah tentang prestasi akademik, ketelitian klinis, dan keterampilan tangan yang presisi. Namun bagi drg. Anindita Brataningdyah, lulusan program dokter gigi pada periode Maret 2026 di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM), perjalanan itu lebih dari sekadar capaian akademik. Anin adalah sepotong kisah tentang ketangguhan, empati, dan upaya terus-menerus untuk tetap menjadi manusia di tengah tuntutan profesi yang menuntut kesempurnaan.

Dara kelahiran Kota Surakarta yang akrab disapa Anin ini justru tidak memulai mimpinya dengan cita-cita menjadi dokter gigi. “Sebenarnya dulu saya ingin menjadi dokter umum. Bahkan sempat ingin mengambil hubungan internasional dan menjadi diplomat,” ujarnya sambil tersenyum.

Namun jalan hidup membawanya ke FKG UGM, sebuah pilihan yang awalnya diambil karena pertimbangan keluarga dan kedekatan dengan rumahnya di Solo. Tanpa disadari, pilihan itu justru membuka perjalanan panjang yang membentuk cara pandangnya terhadap ilmu, profesi, dan kemanusiaan.

Dari Surakarta ke Yogyakarta: Menapaki Dunia yang Lebih Luas

Bagi Anin, meninggalkan Solo untuk belajar di Yogyakarta bukanlah tantangan besar secara geografis. Budaya dua kota itu relatif dekat. Yang membuatnya terkejut justru atmosfer akademik di kampus.“Ketika masuk UGM, saya bertemu teman-teman dari seluruh Indonesia. Mereka luar biasa pintar dan hampir semuanya punya keunggulan masing-masing,” tuturnya.

Pengalaman itu sempat membuatnya merasa minder. Namun perasaan itu kemudian berubah menjadi dorongan untuk berkembang. Ia menyadari bahwa menjadi mahasiswa berprestasi tidak cukup hanya mengandalkan nilai akademik. Lingkungan yang kompetitif justru menjadi ruang belajar yang luas.

“Kalau hanya mengandalkan angka di rapor atau nilai ujian, saya tidak akan berkembang. Justru saya belajar banyak dari teman-teman di sekitar saya,” katanya. Kesadaran itulah yang kemudian mendorongnya aktif di berbagai kegiatan di luar kelas.

Organisasi, Kompetisi, hingga Konferensi Internasional

Selama masa studi sarjana, Anin tidak hanya fokus pada akademik. Ia aktif dalam berbagai organisasi dan kegiatan internasional. Di tingkat fakultas aktif di Persatuan Senat Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia (PSMKGI) serta organisasi mahasiswa kedokteran gigi tingkat Asia Tenggara, APDSA. Di luar organisasi, ia mengikuti berbagai kompetisi akademik, mulai dari lomba poster edukasi hingga penulisan kajian ilmiah.

Ia juga mengikuti konferensi internasional, termasuk konferensi yang diselenggarakan oleh Harvard University selama masa pandemi. Meski seluruh kegiatan dilakukan secara daring karena situasi global saat itu, pengalaman tersebut membuka cakrawala baru baginya.

Selain itu, ia juga mengikuti program pertukaran mahasiswa internasional ke Thammasat University, Thailand pada 2024. Aktivitasnya tidak berhenti di situ, untuk membiayai kebutuhan selama pendidikan klinik, Anin mengajar kelas public speaking bahasa Inggris secara daring. Ia juga sering menjadi pembawa acara (MC) dalam berbagai kegiatan seminar dan acara publik.

Rutinitasnya padat, pagi hingga sore ia berada di RSGM UGM untuk kegiatan koas. Malam hari, ia mengajar les Bahasa Inggris.

“Saya mengajar dari jam 18.30 sampai sekitar 21.30. Kadang dua sampai tiga kelas,” ujarnya.

Akhir pekan ia gunakan untuk menjadi pembawa acara dalam berbagai acara.

Semua itu dilakukannya bukan semata untuk menambah pengalaman, tentu juga untuk membiayai pasien yang menjadi tanggung jawabnya selama pendidikan klinik.

Anin juga terpilih sebagai Juara 1 Duta Bahasa DIY mewakili provinsi ke tingkat nasional, dan mampu menyabet peringkat 3 Duta Bahasa Nasional dengan penghargaan dari Kemenristekdikti tahun 2023. Tugas utamanya saat itu menyandang gelar Duta Bahasa selama 1 tahun itu diantaranya menggerakkan literasi lewat proram-program balai bahasa DIY seperti mengajar dan pelestarian bahasa jawa.

Ketika Ibunda Terbaring Sakit

Di balik prestasi dan aktivitasnya yang padat, perjalanan Anin tidak selalu mudah.

Titik terberat dalam hidupnya datang ketika ibunya mengalami stroke dan koma selama 30 hari pada akhir 2021.

Saat itu Anin sedang berada di masa praktikum intensif yang tidak memungkinkan mahasiswa meninggalkan kegiatan akademik. Situasi tersebut menempatkannya dalam dilema yang sangat berat. Tapi disitulah letak pembelajaran multi dimensi yang Anin Jalani.

“Saat itu, saya belajar untuk menjadi dokter gigi, untuk merawat manusia. Tapi ketika ibu saya sakit, saya tidak bisa berada di samping beliau,” paparnya.

Ia merasa situasi itu tidak adil. Namun keluarganya justru memberinya kekuatan untuk tetap melanjutkan studi. Mereka meyakinkannya bahwa tanggung jawab sebagai calon dokter gigi juga membutuhkan ketangguhan diri, ditengah menghadapi tempaan antara kehidupan pribadi dan profesi.

Peristiwa itu justru mengubah cara pandangnya terhadap hidup.

“Dulu saya melihat kesulitan sebagai ketidakadilan. Sekarang saya melihatnya sebagai bagian dari hidup yang harus diterima & dihadapi,” katanya.

Pelajaran Terbesar: Menjadi Manusia Seutuhnya

Namun dari semua pelajaran yang ia dapatkan selama kuliah, ada satu nilai yang menurutnya paling penting yaitu menjadi manusia. Menurutnya, profesi dokter gigi sering menuntut kesempurnaan. Kesalahan kecil dalam tindakan klinis bisa terasa seperti kegagalan pribadi.

Padahal, dokter juga manusia yang sedang belajar. “Kita diajarkan memanusiakan pasien. Tapi kadang kita lupa memanusiakan diri kita sendiri,” ujarnya.

Ia percaya bahwa dokter yang mampu menghargai dirinya sebagai manusia akan lebih mudah memperlakukan orang lain dengan empati yang sama.

Potret Pengalaman di Daerah Terpencil

Pandangan Anin terhadap profesi dokter gigi juga dipengaruhi oleh pengalamannya di lapangan. Pada 2018, ia pernah mengikuti program mengajar di Maluku Utara, daerah terpencil yang akses kesehatannya masih terbatas. Untuk mencapai Puskesmas, masyarakat harus menempuh perjalanan laut selama dua jam. Sementara untuk mencapai rumah sakit besar, perjalanan bisa memakan waktu hingga 17 jam.

Ia juga pernah menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Maluku Tenggara, tepatnya di Pulau Kei Kecil. Di sana, ia menemukan fakta yang mengejutkan, “Di Kota Tual yang cukup besar saja tidak ada dokter gigi saat itu. Hanya perawat gigi,” ujarnya.

Pengalaman itu membuatnya memahami persoalan serius dalam sistem kesehatan Indonesia: distribusi tenaga kesehatan yang belum merata.

Tantangan Pemerataan Dokter Gigi

Menurut Anin, banyak dokter gigi sebenarnya bersedia bekerja di daerah terpencil.

Namun ada satu syarat penting, yakni ketersediaan fasilitas yang layak.

Ia menilai pemerintah perlu memastikan akses transportasi, fasilitas kesehatan, alat kedokteran gigi, serta pendidikan bagi keluarga tenaga kesehatan.

“Kalau dokter diminta tinggal di daerah terpencil selama 10 atau 20 tahun, maka kehidupan keluarganya juga harus dijamin,” katanya.

Ia menekankan bahwa pelayanan kesehatan yang optimal hanya dapat tercapai jika tenaga kesehatan juga diperlakukan secara manusiawi.

“Bagaimana kita bisa melayani masyarakat dengan baik jika kebutuhan dasar kita sendiri tidak terpenuhi?” ujarnya.

Perjalanan drg. Anindita Brataningdyah menunjukkan bahwa prestasi akademik tidak lahir dari jalan yang selalu mulus. Profesi dokter gigi lahir dari ketekunan, empati, serta keberanian untuk terus belajar dari pengalaman hidup. Di tengah dunia yang bergerak cepat dan semakin kompetitif, pesan yang ia pegang justru sederhana.

“Menjadi dokter gigi yang baik dimulai dari menjadi manusia yang utuh,” pungkas pengagum karya-karya Joko Pinurbo ini.

(Redaksi: Andri Wicaksono, S.Sos., M.I.Kom, Foto: Fajar Budi Harsakti, SE & Arsip pribadi drg. Anin)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
14 April 2026

Merajut Senyum Setara untuk Semua

13 April 2026

Halo…Hai…Tendik Juga Stakeholder…

13 April 2026

Abitoni, The Elite Guardian of FKG UGM

id_ID