Di tengah perubahan lanskap pendidikan tinggi kesehatan yang kian dinamis, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada dan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember mempunyai sudut pandang yang sama, kedepan FKG harus semakin adaptif. Hal tersebut bukan sekedar wacana semata, keduanya resmi menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang Penyelenggaraan Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat dalam Bidang Kedokteran Gigi pada 7 Februari 2026.
Dari Penjaminan Mutu ke Pemenuhan Kebutuhan Pasar
Kerja sama tersebut ditandatangani oleh Dekan FKG Universitas Jember drg. Dwi Kartika Apriyono, M.Kes., Sp.OF(K) dan Dekan FKG UGM Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D. PKS tersebut menegaskan komitmen kedua institusi dalam memperkuat tridharma perguruan tinggi secara sinergis dan produktif.
Dalam sambutannya, Prof. Suryono menekankan bahwa tantangan pendidikan kedokteran gigi tidak lagi semata berada pada aspek penjaminan mutu, melainkan juga keberlanjutan dan daya adaptasi.
“Menjamin mutu bukan berarti menjamin keberlanjutan. Kunci utama adalah adaptif. Jika tidak menyesuaikan perubahan zaman, kita akan tertinggal,” ujarnya.
Prof. Suryono juga menyoroti persoalan distribusi tenaga kesehatan gigi yang belum merata dan berpotensi menjadi ancaman eksistensial bagi institusi pendidikan jika tidak dikelola secara kolaboratif. Karena itu, FKG UGM mengusung pendekatan socioentrepreneurship, yakni pengembangan pendidikan berbasis kewirausahaan sosial yang menjalin simbiosis mutualisme dengan pemerintah dan dunia pendidikan.
“Kita tidak melihat ada kompetitor. Yang ada adalah komplementer. Mari maju bersama,” tegasnya.
Di sisi lain, Dekan FKG UNEJ drg. Dwi Kartika Apriyono menyampaikan kebanggaan atas terjalinnya kembali kerja sama strategis dengan FKG UGM. FKG UNEJ, yang kini memasuki usia 31 tahun, tengah berupaya memperkuat kapasitas akademik dan layanan klinisnya.
“Kami masih banyak belajar. Kami sedang merintis spesialis bedah mulut dan perlu menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar,” ujarnya.
Ia menambahkan, kebijakan kelembagaan harus terus diperbarui agar FKG tidak hanya berada dalam ranah penjaminan mutu, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat dan dunia kerja.

Ruang Lingkup Komprehensif: Pendidikan hingga HaKI
Pada aspek pendidikan, FKG UGM akan memberikan dukungan tenaga pengajar kepada FKG UNEJ melalui mekanisme kontrak tahunan sesuai regulasi yang berlaku. Selain itu, FKG UNEJ memperoleh kesempatan untuk mengirimkan dosen menempuh pendidikan Pascasarjana, baik PPDGS, Magister, maupun Doktor di lingkungan FKG UGM. Kerja sama juga mencakup konsultasi pengembangan kurikulum dan akses fasilitas perpustakaan bagi dosen dan mahasiswa kedua belah pihak.
Di bidang penelitian, kedua institusi sepakat menyelenggarakan riset bersama, membentuk forum komunikasi biomedika kedokteran gigi Indonesia, serta menggelar kursus metodologi penelitian dan konsultasi proposal hingga analisis data. Publikasi hasil riset akan dilakukan secara bersama atas persetujuan kedua pihak.
Tak kalah penting, dalam aspek pengabdian kepada masyarakat, kedua fakultas akan menyusun program terpadu dan melaksanakan kegiatan layanan kesehatan gigi secara kolaboratif.

Menuju Ekosistem Kolaboratif Pendidikan Gigi
Kerja sama ini tidak berdiri dalam ruang hampa. Dalam konteks nasional, pendidikan kedokteran gigi menghadapi tantangan kompleks: peningkatan jumlah lulusan, tuntutan kompetensi global, perkembangan teknologi digital, hingga kebutuhan layanan kesehatan gigi di daerah terpencil.
Dengan integrasi sumber daya dan jejaring akademik, FKG UGM dan FKG UNEJ berupaya membangun ekosistem kolaboratif yang saling mengisi dan memperkuat. Kerja sama ini sekaligus menandai pergeseran paradigma: dari kompetisi antarinstitusi menuju kolaborasi strategis berbasis komplementaritas.
Di tengah arus perubahan, kedua institusi menyadari bahwa keberlanjutan bukan sekadar soal reputasi, melainkan kemampuan untuk terus relevan. Adaptif terhadap zaman, responsif terhadap kebutuhan masyarakat, dan terbuka terhadap sinergi.
Masa depan pendidikan kedokteran gigi tidak dibangun sendirian. Ia lahir dari kemauan untuk berbagi, belajar, dan melangkah bersama.
(Redaksi: Andri Wicaksono, Fotografi: Fajar Budi Harsakti)