Berita

/

Berita Terbaru

Digital Dentistry Mengubah Cara Pandang Dokter Gigi Dalam Merencanakan Implan

Perencanaan implan gigi di pendidikan kedokteran gigi Indonesia tengah mengalami pergeseran penting. Jika sebelumnya kerap dipandang sebagai wilayah kerja disiplin tertentu, kini perencanaan implan bergerak menuju pendekatan kolaboratif berbasis teknologi digital. Radiologi kedokteran gigi menjadi simpul utama perubahan tersebut.

Dalam kurikulum pendidikan dokter gigi tahap profesi (SP1), radiologi kedokteran gigi tidak lagi diposisikan semata sebagai alat bantu diagnosis. Ia berkembang menjadi fondasi pengambilan keputusan klinis, khususnya dalam perencanaan implan yang melibatkan prostodonti, periodonsia, dan bedah mulut secara simultan

Perubahan ini menandai pergeseran paradigma: dari praktik yang terfragmentasi menuju pelayanan kesehatan gigi yang terintegrasi, dalam materi yang dibawakan oleh drg. M. Novo Perwira Lubis, Sp. R.K.G, Subsp. Rad.D. (K).

Bukan Soal Siapa Paling Berwenang…

Dalam praktik konvensional, perencanaan implan sering diperdebatkan dari sudut kewenangan. Prostodonti menekankan restorasi akhir, periodonsia fokus pada jaringan penyangga, sementara bedah mulut menaruh perhatian utama pada ketersediaan tulang dan teknik pembedahan.

Namun, dalam konteks digital dentistry, batas-batas tersebut menjadi kurang relevan. Perencanaan implan berbasis data tiga dimensi menuntut kolaborasi sejak awal. Radiologi berperan sebagai penghubung, menyediakan peta anatomi yang dapat dibaca bersama oleh semua disiplin.

Pendekatan ini mulai diperkenalkan secara sistematis dalam pembelajaran klinik. Mahasiswa tidak lagi diajarkan sekadar “membaca gambar”, tetapi memahami implikasi klinis dari setiap temuan radiologis.

Teknologi Digital & Ketelitian Klinis

Pemanfaatan Cone Beam Computed Tomography (CBCT) menjadi tulang punggung pendekatan ini. Data citra tiga dimensi memungkinkan evaluasi struktur anatomi secara menyeluruh, mulai dari ketebalan tulang alveolar hingga posisi kanalis mandibularis.

Perangkat lunak radiologi generasi terbaru kini dilengkapi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu proses analisis, seperti rekonstruksi panorama, deteksi saraf, dan penandaan struktur vital. Meski demikian, peran manusia tetap menentukan.

Setiap hasil asistensi AI harus diverifikasi secara manual. Prinsip kehati-hatian tetap menjadi dasar, mengingat kesalahan kecil dalam perencanaan dapat berdampak besar pada keselamatan pasien.

Digital Dentistry Mengubah Cara Dokter Gigi Merencanakan Implan

Perencanaan implan gigi di pendidikan kedokteran gigi Indonesia tengah mengalami pergeseran penting. Jika sebelumnya kerap dipandang sebagai wilayah kerja disiplin tertentu, kini perencanaan implan bergerak menuju pendekatan kolaboratif berbasis teknologi digital. Radiologi kedokteran gigi menjadi simpul utama perubahan tersebut.

Dalam kurikulum pendidikan dokter gigi tahap profesi (SP1), radiologi kedokteran gigi tidak lagi diposisikan semata sebagai alat bantu diagnosis. Ia berkembang menjadi fondasi pengambilan keputusan klinis, khususnya dalam perencanaan implan yang melibatkan prostodonti, periodonsia, dan bedah mulut secara simultan.

Perubahan ini menandai pergeseran paradigma: dari praktik yang terfragmentasi menuju pelayanan kesehatan gigi yang terintegrasi.

Teknologi Digital dan Ketelitian Klinis

Pemanfaatan Cone Beam Computed Tomography (CBCT) menjadi tulang punggung pendekatan ini. Data citra tiga dimensi memungkinkan evaluasi struktur anatomi secara menyeluruh, mulai dari ketebalan tulang alveolar hingga posisi kanalis mandibularis.

Perangkat lunak radiologi generasi terbaru kini dilengkapi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu proses analisis, seperti rekonstruksi panorama, deteksi saraf, dan penandaan struktur vital. Meski demikian, peran manusia tetap menentukan.

Setiap hasil asistensi AI harus diverifikasi secara manual. Prinsip kehati-hatian tetap menjadi dasar, mengingat kesalahan kecil dalam perencanaan dapat berdampak besar pada keselamatan pasien

Mahkota Lebih Dulu, Implan Menyusul

Salah satu perubahan paling mendasar adalah bergesernya pendekatan dari bone-driven ke prosthetic driven planning. Dalam pendekatan ini, desain restorasi akhir mahkota gigi ditentukan lebih dahulu. Posisi implan kemudian disesuaikan agar berada tepat di pusat restorasi.

Tujuannya bukan semata estetika, melainkan distribusi beban kunyah yang lebih seimbang dan berkelanjutan. Pendekatan ini juga mengurangi kebutuhan kompromi restoratif akibat posisi implan yang kurang ideal.

Bagi mahasiswa, pendekatan ini memperkenalkan kembali prinsip dasar prostodonti dalam konteks digital, sekaligus menegaskan pentingnya perencanaan lintas disiplin sejak awal.

Standar Jarak Aman dan Pencegahan Risiko

Dalam pembelajaran, peserta diperkenalkan pada standar jarak aman klinis yang digunakan secara internasional. Jarak minimal dari struktur vital seperti kanalis mandibularis, batas aman terhadap korteks bukal dan lingual, serta jarak antarimplan menjadi bagian dari analisis wajib.

Teknologi digital memungkinkan visualisasi zona keamanan secara real time. Sistem peringatan otomatis membantu mengidentifikasi potensi pelanggaran batas anatomis, namun keputusan akhir tetap berada di tangan klinisi. Pendekatan ini menekankan bahwa teknologi adalah alat bantu, bukan pengganti pertimbangan klinis.

Dari Layar ke Tindakan Klinis

Perencanaan digital tidak berhenti pada simulasi. Data yang dihasilkan digunakan untuk merancang surgical guide yang kemudian dicetak dengan teknologi pencetakan tiga dimensi. Ketepatan desain menjadi krusial karena perbedaan ukuran yang sangat kecil dapat berpengaruh pada keberhasilan tindakan klinis.

Mahasiswa dilatih memahami keterkaitan antara perencanaan radiologis, sistem implan, dan perangkat bedah yang digunakan di lapangan. Dengan demikian, proses belajar mendekati kondisi praktik nyata.

Menyiapkan Dokter Gigi Masa Depan

Transformasi pembelajaran ini mencerminkan arah baru pendidikan kedokteran gigi. Dokter gigi masa depan tidak hanya dituntut terampil secara manual, tetapi juga mampu membaca data, memprediksi resiko, dan bekerja dalam tim lintas disiplin melalui digital dentistry.

Digital dentistry, dalam konteks ini, bukan sekadar mengadopsi teknologi. Ia adalah transformasi cara berpikir dengan lebih terukur, lebih kolaboratif, dan berorientasi pada akurasi serta kenyamanan pasien.

(Reporter: Andri Wicaksono, Fotografi: Fajar Budi Harsakti)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
6 Februari 2026

Pelatihan CBCT FKG UGM Batch 2, Meneropong Harapan Radiologi Kedokteran Gigi di Indonesia

4 Februari 2026

Sambut Ramadan, FKG UGM Gelar Pengajian Rutin untuk Sivitas Akademika

4 Februari 2026

Dokter Ada, Layanan Kesehatan Tak Meluas: Rona Pendidikan Dokter Spesialis & Politik Distribusi Kesehatan

id_ID