Berita

/

Berita Terbaru

Tantangan Pendidikan Kedokteran Gigi di Tengah Gelombang Sociopreneurship & Generasi Digital

Ruang workshop capacity building dosen FKG UGM, pagi itu tak sekadar menjadi arena workshop penguatan kapasitas dosen. Namun menjelma menjadi ruang refleksi, bahkan cermin besar bagi pendidikan tinggi kesehatan di Indonesia: sejauh mana kampus mampu mengejar perubahan industri yang bergerak jauh lebih cepat dari kurikulum?

Paparan praktisi industri digital dan sociopreneurship, Amalia Susilowati Prabowo S,Str, MM, CMT. Presiden Direktur ExporHub.id sekaligus mitra global Alibaba.com, menggeser diskusi dari sekadar peningkatan kompetensi pedagogik menuju persoalan yang lebih mendasar, relevansi lulusan di dunia kerja yang telah sepenuhnya digital, berbasis data, dan sarat tuntutan nilai sosial .

INDUSTRI TAK LAGI MENUNGGU KAMPUS

Dalam paparannya, Amalia memotret realitas industri yang kini tak lagi menempatkan ijazah dan IPK sebagai penentu utama. Dunia kerja, khususnya sektor kesehatan dan layanan berbasis komunitas, menuntut lulusan yang adaptif, komunikatif, serta memiliki kesadaran sosial dan keberlanjutan.

“Perusahaan harus berinvestasi enam bulan hanya untuk membuat fresh graduate siap kerja,” ujar Amalia. Bukan karena kurang pintar, melainkan karena minimnya keterampilan praktis: pengolahan data, komunikasi publik, hingga pemahaman etika bermedia sosial.

Temuan ini beresonansi dengan fenomena menjamurnya klinik gigi modern di kawasan urban seperti BSD, Tangerang Selatan. Klinik-klinik tersebut, meski berskala kecil, justru unggul dalam branding, keberlanjutan lingkungan, dan kedekatan dengan komunitas pasien muda terutama Generasi Z yang menjadikan nilai sosial sebagai “mata uang” kepercayaan.

GENERASI Z, MEDIA SOSIAL, DAN DUA MATA PISAU

Salah satu sorotan tajam dalam workshop ini adalah relasi Generasi Z dengan media sosial. Di era people generated content, akun Instagram, LinkedIn, hingga blog pribadi bukan lagi ruang privat, melainkan etalase profesional.

Di sejumlah perusahaan global, termasuk mitra Alibaba, analisis jejak digital kandidat menjadi bagian tak terpisahkan dari proses rekrutmen. “IPK tinggi tapi tak punya rekam jejak digital sering kali justru ditunda,” kata Amalia

Namun media sosial juga menghadirkan risiko. Minimnya literasi digital dan ketahanan mental membuat sebagian lulusan rentan “gugur” bahkan sebelum karier dimulai sekadar karena unggahan emosional atau respons keliru terhadap komentar publik.

KLINIK GIGI DAN PARADIGMA SOCIOPRENEURSHIP

Bagi pendidikan kedokteran gigi, perubahan ini menghadirkan tantangan ganda. Lulusan tak hanya dituntut mahir klinis, tetapi juga memahami manajemen layanan, pemasaran digital, pengelolaan limbah medis, hingga kolaborasi dengan komunitas dan LSM.

Amalia menekankan bahwa klinik gigi masa kini yang sebagian besar dikelola generasi muda telah mengadopsi prinsip sociopreneurship: praktik bisnis yang menggabungkan keberlanjutan, kepedulian sosial, dan teknologi digital.

Riset internal Alibaba yang dipaparkan menunjukkan lebih dari 70 persen konsumen global memilih produk dan layanan dengan komitmen sosial dan lingkungan. Tren ini juga menguat di Indonesia, termasuk di sektor kesehatan.

KAMPUS DI PERSIMPANGAN JALAN

Diskusi yang berkembang di antara dosen FKG UGM mengindikasikan kesadaran baru: pendidikan tinggi kesehatan tak lagi cukup berfokus pada transfer ilmu dan kompetensi klinis. Kampus dituntut menjadi ruang pembentukan karakter digital melatih mahasiswa membaca data, mengelola identitas publik, bekerja lintas disiplin, serta membangun empati sosial.

Beberapa gagasan mengemuka, mulai dari tugas berbasis proyek sosial, publikasi populer di platform digital, hingga kolaborasi mahasiswa dengan komunitas dan mitra industri. Bukan untuk menggantikan kedalaman akademik, melainkan memperluas relevansinya.

ANTARA IDEALISME DAN REALITAS

Di tengah keterbatasan kebijakan, birokrasi, dan tekanan regulasi, dunia pendidikan tinggi berada di persimpangan. Apakah akan tetap bertahan sebagai menara gading keilmuan, atau bertransformasi menjadi ekosistem pembelajaran yang responsif terhadap perubahan zaman.

Workshop di FKG UGM ini belum memberi semua jawaban. Namun satu pesan mengemuka dengan jelas: industri telah berubah, masyarakat telah berubah, dan mahasiswa telah berubah. Jika kampus tidak bergerak, jarak antara lulusan dan realitas kerja akan semakin melebar.

(Reporter: Andri Wicaksono, Fotografi: Fajar Budi Harsakti)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
4 Februari 2026

Dokter Ada, Layanan Kesehatan Tak Meluas: Rona Pendidikan Dokter Spesialis & Politik Distribusi Kesehatan

4 Februari 2026

Entry Exam Jadi Quality Control untuk Mahasiswa sebelum Masuk Fase Klinik

4 Februari 2026

FKG UGM Membuka ‘Jalan Baru’ Pendidikan Kedokteran Gigi yang Berkelanjutan

id_ID