Di tengah tuntutan agar perguruan tinggi tak berhenti pada produksi pengetahuan semata, tetapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat, perdebatan soal arah riset unggulan kembali mengemuka. Pertanyaan mendasarnya sederhana, namun konsekuensinya besar: bagaimana fakultas dengan banyak departemen dan tradisi keilmuan yang kuat dapat bergerak dalam satu payung riset bersama tanpa mematikan otonomi akademik?
Pertanyaan itulah yang mengemuka dalam sebuah forum akademik ketika Prof. Dr. drg. Widowati Siswomihardjo, M.S. yang akrab disapa Prof. Bundi menyoroti kuatnya polisentrisme riset di lingkungan fakultas ilmu sosial dan politik yang dipaparkan oleh Iwan Mas’udi, Ph.D sebuah kondisi di mana masing-masing departemen berkembang dengan agenda dan fokusnya sendiri. Dalam pandangannya, kekuatan itu sekaligus menjadi tantangan ketika fakultas dituntut memiliki riset unggulan yang terkoordinasi dan berkelanjutan.
“Apakah mungkin riset-riset departemen itu dilebur dalam payung unggulan fakultas tentang demokrasi, perubahan iklim, atau keistimewaan Yogyakarta dan menjadi kebanggaan bersama?” tanya Prof. Bundi dalam forum tersebut.
TIDAK MUDAH, TAPI DIUPAYAKAN
Pimpinan fakultas mengakui, menyatukan agenda riset lintas departemen bukan pekerjaan mudah. Tradisi akademik, kepakaran individual dosen, hingga kepentingan keilmuan yang beragam sering kali membuat satu “payung besar” terasa abstrak. Namun, justru karena itulah fakultas memilih pendekatan struktural, bukan sekadar imbauan normatif.
Salah satu langkahnya adalah menetapkan tema riset makro tahunan yang diturunkan menjadi skema hibah fakultas. Tema-tema tersebut dirancang lintas disiplin dan relevan dengan persoalan publik, seperti perubahan iklim, transformasi digital dalam ilmu sosial, serta inklusi sosial dan demokrasi.
Pendekatan ini bukan hanya mengarahkan topik, tetapi juga mengintervensi cara riset dibentuk. Dalam skema hibah kompetitif, tim peneliti diwajibkan melibatkan minimal tiga departemen. Keterlibatan fakultas lain dan mitra internasional bahkan diberi nilai tambah.
“Intervensinya bukan hanya di tema, tapi juga di formasi tim riset,” ujar pimpinan fakultas, menjelaskan strategi untuk memecah sekat-sekat departemen.
RISET MULTI-TAHUN, OUTPUT BERTAHAP
Untuk menjamin kedalaman dan kesinambungan, fakultas menerapkan prinsip multi-years research, meski secara administratif dirancang dalam dua tahun. Tahun pertama difokuskan pada pengumpulan data, pemetaan, dan temuan awal. Tahun kedua diarahkan pada publikasi ilmiah atau luaran konseptual yang terukur.
Model ini dinilai lebih realistis dibanding menuntut hasil instan dalam satu tahun anggaran. Administrasi, menurut pimpinan fakultas, tidak lagi menjadi penghalang karena output dirasionalisasi sesuai tahap riset.
Pendekatan tersebut juga memperlihatkan pergeseran cara pandang institusi mitra internasional. Jika sebelumnya topik dan pendanaan banyak ditentukan sepihak oleh mitra luar negeri, kini riset dikembangkan bersama dengan skema matching fund sebuah pola yang menuntut kesiapan konseptual dari fakultas dalam menentukan agenda risetnya sendiri.
DARI KAMPUS KE DAERAH
Upaya membangun riset unggulan tidak berhenti di ruang akademik. Fakultas juga menempatkan perencanaan daerah sebagai salah satu keunggulan strategis yang telah digarap selama lebih dari satu dekade. Melalui riset teknokratik, dosen dan peneliti mendampingi pemerintah daerah dalam memetakan potensi dan tantangan pembangunan.
Pendampingan ini bersifat jangka Panjang rata-rata lima tahun, bahkan hingga enam tahun untuk beberapa daerah seperti Balikpapan. Pendekatan lintas fakultas diterapkan sesuai karakter wilayah, melibatkan ahli pertanian, kehutanan, geografi, teknik, hingga sains data
“Kalau daerahnya pertanian, kita undang ahli pertanian. Kalau kehutanan, kehutanan dan geografi masuk. Bahkan teknik dan MIPA kami libatkan,” jelas pimpinan fakultas.
Model ini tidak hanya memperkuat relevansi sosial riset, tetapi juga membangun kepercayaan pemerintah daerah terhadap kapasitas akademik kampus.
MENJAGA KESEIMBANGAN
Meski fakultas telah menetapkan riset unggulan, pimpinan menegaskan bahwa kebebasan akademik dosen tetap dihormati. Setiap peneliti tetap boleh mengembangkan topik individualnya. Riset unggulan diposisikan sebagai ruang bersama, bukan pagar pembatas.
Di titik inilah tantangan sesungguhnya muncul: menjaga keseimbangan antara kebebasan akademik dan kebutuhan institusional untuk memiliki arah strategis yang jelas. Dalam konteks universitas riset, pertanyaan itu akan terus relevan, bukan hanya soal bagaimana menghasilkan publikasi, tetapi juga bagaimana riset menjawab persoalan bangsa.
(Reporter: Andri Wicaksono, Fotografi: Fajar Budi Harsakti)