Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Islam Sultan Agung (FKG UNISULA) Semarang melakukan kunjungan studi banding dan diskusi akademik ke Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) pada 13 Januari 2026, dalam rangka mempersiapkan pendirian Program Studi Spesialis Kedokteran Gigi Anak (SpKGA). FKG UNISULA hadir yakni: Dekan Dr. drg. Yayun Siti Rochmah, Sp.BM, Ketua Departemen KGA Dr. drg. Sandy Christiono, Sp.KGA, Direksi RSIGM UNISULA Dr. drg. Prima Agusmawanti, Sp.KGA. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya strategis UNISULA untuk berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan tenaga dokter gigi spesialis anak di Indonesia yang hingga kini masih sangat terbatas.
Kunjungan tersebut disambut langsung oleh Dekan FKG UGM Prof. drg. Suryono, SH, MM, Ph.D, Wakil Dekan FKG UGM Bidang Kerjasama, Penelitian & Pengabdian Masyarakat drg. Trianna Wahyu Utami, MD.Sc., Ph.D, Ketua Departemen Kedokteran Gigi Anak FKG UGM drg. Anrizandy Narwidina, MDSc, Sp.KGA. , Ph.D, Ketua Program Studi Spesialis Kedokteran Gigi Anak FKG UGM Prof. drg. Sri Kuswandari, MS., PhD., Sp. KGA., Subsp.KKA(K), beserta jajaran dosen & staf FKG UGM. Diskusi berlangsung intensif dan komprehensif, membahas berbagai aspek krusial pendirian program pendidikan spesialis, mulai dari kebijakan nasional, kurikulum, sumber daya manusia (SDM), hingga kesiapan sarana prasarana dan rumah sakit jejaring.

RESPONS TERHADAP KEBUTUHAN NASIONAL TENAGA SPESIALIS
Dalam sambutannya, dekan FKG UGM menegaskan bahwa pendirian program pendidikan dokter gigi spesialis harus dilihat dalam konteks kebutuhan nasional. Pemerintah, melalui Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan Tinggi, tengah mendorong percepatan penyediaan tenaga medis dan tenaga kesehatan, termasuk dokter gigi spesialis, guna menjawab ketimpangan distribusi layanan kesehatan di berbagai daerah.
Disebutkan bahwa secara nasional ribuan rumah sakit masih kekurangan dokter gigi spesialis, termasuk spesialis kedokteran gigi anak. Dengan pola pendidikan konvensional yang sangat ideal namun lambat, pemenuhan kebutuhan tersebut dikhawatirkan memerlukan waktu puluhan tahun. Oleh karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi, rumah sakit, dan pemerintah menjadi kunci dalam menciptakan sistem pendidikan yang tetap menjaga mutu akademik sekaligus responsif terhadap kebutuhan lapangan.
Delegasi FKG UNISULA menjelaskan bahwa usia institusi yang relatif muda tidak menjadi penghalang untuk berinovasi dan berkontribusi. Mempertimbangkan peluang kebijakan pemerintah saat ini, UNISULA memandang perlu untuk bergerak cepat dan terukur. Pembukaan Prodi SPKGA dinilai strategis, tidak hanya untuk pengembangan institusi, tetapi juga sebagai bentuk pengabdian terhadap masyarakat, khususnya dalam pelayanan kesehatan gigi anak.
FKG UNISULA juga menegaskan komitmennya untuk memenuhi seluruh persyaratan pendirian program studi, baik dari sisi SDM, kurikulum berbasis regulasi kolegium, maupun kesiapan wahana pendidikan klinik. Dalam konteks ini, UNISULA berharap dapat memperoleh pendampingan dan pembinaan akademik dari FKG UGM sebagai institusi rujukan nasional yang telah berpengalaman dalam menyelenggarakan pendidikan spesialis.

DISKUSI TEKNIS: KURIKULUM, SDM, DAN RUMAH SAKIT JEJARING
Sesi diskusi menjadi inti kegiatan kunjungan. Beberapa isu utama yang dibahas meliputi penyusunan kurikulum SPKGA yang mengacu pada regulasi Konsil Kedokteran Indonesia dan kolegium, penentuan keunggulan dan muatan lokal program studi, serta proporsi SKS yang sesuai dengan standar nasional.
FKG UGM memaparkan bahwa kurikulum pendidikan spesialis saat ini telah mengalami transformasi, dengan pendekatan berbasis topik dan kompetensi, bukan sekadar mata kuliah terpisah. Selain itu, keunggulan program studi harus tercermin secara konsisten dalam tridarma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Pembahasan juga mencakup pentingnya rumah sakit jejaring sebagai wahana pendidikan klinik. Tidak hanya rumah sakit utama, tetapi juga rumah sakit satelit dan jejaring komunitas dapat dimanfaatkan, selama memenuhi persyaratan regulasi dan didukung sistem supervisi yang memadai. Model ini dinilai efektif untuk memperluas variasi kasus klinis sekaligus memperkenalkan residen pada realitas pelayanan kesehatan di masyarakat.

MENJADIKAN KEBIJAKAN SEBAGAI PELUANG
Dekan FKG UGM menekankan bahwa dinamika kebijakan pemerintah, termasuk pendekatan hospital-based education dan percepatan pendirian program pendidikan spesialis, seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman oleh institusi pendidikan. Sebaliknya, kebijakan tersebut perlu disikapi secara konstruktif sebagai peluang untuk memperluas akses pendidikan dan meningkatkan kontribusi perguruan tinggi terhadap sistem kesehatan nasional.
Dalam konteks ini, FKG UGM menyatakan keterbukaannya untuk berdiskusi lebih lanjut dengan FKG UNISULA, termasuk kemungkinan kerja sama formal melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) dan pendampingan akademik, selama seluruh proses berjalan sesuai ketentuan hukum dan standar mutu pendidikan.
HARAPAN KOLABORASI JANGKA PANJANG
Kunjungan studi banding ini diakhiri dengan sesi foto bersama dan pertukaran cenderamata sebagai simbol komitmen kolaborasi antar institusi. Kedua belah pihak berharap diskusi yang telah dilakukan dapat menjadi langkah awal bagi kerja sama berkelanjutan dalam pengembangan pendidikan dokter gigi spesialis.
Dengan adanya sinergi antara FKG UNISULA dan FKG UGM, diharapkan pendirian Prodi Spesialis Kedokteran Gigi Anak di UNISULA dapat berjalan secara matang, berkualitas, dan berkontribusi nyata dalam meningkatkan pelayanan kesehatan gigi anak di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya.
(Reporter: Andri Wicaksono, Fotografi: Fajar Budi Harsakti)