Berita

/

Berita Terbaru

UGM Dorong Hilirisasi Inovasi Kesehatan dari Produk Herbal hingga Alat Skrining Penyakit

UGM POLICIES 2025

Yogyakarta, 12 Desember 2025 — Universitas Gadjah Mada (UGM) terus mendorong hilirisasi hasil riset bidang kesehatan agar dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat. Berbagai inovasi mulai dari produk kesehatan gigi berbahan alam lokal, alat skrining tuberkulosis berbiaya rendah, hingga pengembangan fitofarmaka dari kayu secang dipaparkan dalam forum diskusi pengembangan dan komersialisasi inovasi kesehatan yang digelar di lingkungan kampus UGM dimoderatori oleh Kunta Wibawa Dasa Nugraha, S.E.,M.A.,Ph.D. Sekjend Kementerian Kesehatan.

Salah satu inovasi yang mendapat perhatian adalah pengembangan produk kesehatan gigi berbasis bahan alam lokal. Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D  peneliti dari FKG UGM mengembangkan produk yang dirancang dengan pendekatan promotif dan preventif untuk menekan tingginya prevalensi penyakit gigi dan mulut di Indonesia yang masih berkisar 60–90 persen. Selain telah mengantongi izin edar dan sertifikasi halal, produk ini juga mulai diarahkan untuk ekspor ke sejumlah negara, seperti Malaysia dan kawasan Timur Tengah. Namun demikian, penguatan unit komersialisasi dan regulasi penggunaan produk dalam negeri dinilai masih menjadi kebutuhan mendesak

Di bidang penyakit menular, peneliti FKKMK UGM dr. Dian Kesumapramudya Nurputra, Sp.A, M.Sc, Ph.D juga mengembangkan inovasi alat skrining tuberkulosis (TB) yang murah, cepat, dan portable. Alat berbasis sensor dan kecerdasan buatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan deteksi kasus TB secara aktif di masyarakat, terutama di wilayah dengan keterbatasan fasilitas kesehatan. Para pakar menekankan pentingnya standarisasi, validasi lintas wilayah, serta dukungan kebijakan agar inovasi ini dapat diadopsi sebagai program nasional .

Sementara itu, dari sektor obat bahan alam, Prof. Dr. apt. Zullies Ikawati dari Farmasi UGM memaparkanriset pengembangan ekstrak kayu secang sebagai peningkat fungsi kognitif juga menunjukkan potensi besar. Penelitian yang telah melalui tahapan in silico, in vitro, dan in vivo tersebut berhasil memperoleh paten dan menghasilkan prototipe produk. Kendati demikian, peneliti menilai regulasi pengembangan obat herbal yang masih setara dengan obat sintetik serta keterbatasan pendanaan uji klinis menjadi tantangan utama dalam proses hilirisasi menuju pasar

Forum diskusi tersebut menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri menjadi kunci keberhasilan pengembangan inovasi kesehatan nasional. Dukungan kebijakan, pendanaan yang fleksibel, serta ekosistem riset yang kondusif dinilai krusial agar inovasi anak bangsa tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar memberi dampak bagi masyarakat luas.

(Andri Wicaksono)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
8 Januari 2026

Serah Terima Jabatan Manajerial di FKG UGM dan Ikhtiar Menjawab Tantangan Pendidikan Kedokteran Gigi Modern

6 Januari 2026

Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama UNP & UGM, Pendirian Prodi Kedokteran Gigi UNP

30 Desember 2025

Belajar Mengelola Emosi & Menjadi Tim Kerja Sinergis di Kota Pahlawan

id_ID