Anak dengan risiko tinggi masalah kesehatan gigi dan mulut seperti anak dengan kebutuhan khusus, anak dengan kebiasaan oral tertentu, atau anak yang tinggal di lingkungan dengan akses kesehatan terbatas, memerlukan pendekatan intervensi khusus. Kesehatan gigi anak tidak hanya dipengaruhi oleh kebiasaan menyikat gigi, tetapi juga oleh lingkungan, dukungan keluarga, perilaku anak, dan kemampuan mereka dalam memahami instruksi kesehatan.
Pada anak-anak dengan keterbatasan dalam kemampuan motorik, sensori, atau kognitif, rutinitas kebersihan gigi sering kali menjadi tantangan. Mereka membutuhkan pendampingan intensif serta metode pengajaran yang disesuaikan dengan kondisi mereka. Oleh karena itu, intervensi kebersihan gigi harus mencakup pendekatan yang komprehensif, tidak hanya fokus pada teknik menyikat gigi, tetapi juga pada aspek psikologis, edukasi keluarga, dan lingkungan sekolah.
Hal ini sejalan dengan temuan dalam penelitian mahasiswa doktoral FKG UGM, Arnela Nur dengan bimbingan Prof. Dr. Sofia Retnowati, M.S. dan dr. Meineni Sitaresmi, Ph.D., Sp.A (K) berjudul “Pengaruh Psikoedukasi Pemeliharaan Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Pengetahuan, Sikap, Perilaku Orang Tua Dan Guru Serta Status Kesehatan Gigi Dan Mulut Anak Autis.” Penelitian tersebut menunjukkan bahwa psikoedukasi kepada orang tua dan guru dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku terkait kesehatan gigi, yang kemudian berdampak positif pada status kesehatan gigi anak, terutama anak dengan kebutuhan khusus seperti anak autis.
Intervensi yang efektif biasanya mencakup beberapa komponen penting:
- Edukasi berkelanjutan bagi orang tua, guru, dan pengasuh agar mereka mampu memberikan pembinaan kebersihan gigi secara konsisten.
- Adaptasi alat kebersihan gigi, seperti sikat gigi dengan pegangan khusus atau pasta gigi bebas rasa untuk anak yang sensitif terhadap stimulus.
- Pendekatan perilaku dan visual, misalnya penggunaan kartu bergambar, video, atau rutinitas terstruktur.
- Kolaborasi antara tenaga kesehatan, sekolah, dan keluarga, untuk mempertahankan kebiasaan kebersihan gigi jangka panjang.
Anak dengan risiko tinggi sangat bergantung pada lingkungan terdekat untuk membentuk kebiasaan kebersihan gigi yang baik. Intervensi berbasis psikoedukasi terbukti membantu meningkatkan kemampuan pendamping dalam mengajarkan perilaku sehat, sekaligus memperkuat dukungan bagi anak.
Dengan strategi yang tepat, intervensi kebersihan gigi tidak hanya meningkatkan kesehatan mulut anak, tetapi juga kualitas hidup mereka secara keseluruhan. Pendekatan ini menegaskan pentingnya peran keluarga, tenaga pendidik, dan profesional kesehatan dalam membangun dasar kesehatan gigi yang kuat sejak usia dini.
Referensi
ARNELA NUR, Prof. Dr. Sofia Retnowati, M.S; dr. Meineni Sitaresmi, Ph.D., Sp.A (K), PENGARUH PSIKOEDUKASI PEMELIHARAAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT TERHADAP PENGETAHUAN, SIKAP, PERILAKU ORANG TUA DAN GURU SERTA STATUS KESEHATAN GIGI DAN MULUT ANAK AUTIS, https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/220458
Penulis: Rizky B. Hendrawan | Foto: Freepik