Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Analisis Klinis Myxoma Odontogenik

Myxoma odontogenik adalah lesi jinak odontogenik yang relatif jarang, ditandai dengan pertumbuhan lambat dan infiltratif. Lesi ini umumnya tidak memiliki kapsul, sehingga dapat menyusup ke jaringan sekitarnya, membuat batas lesi pada pencitraan sulit ditentukan. Meskipun jinak, myxoma dapat menyebabkan kerusakan tulang rahang dan deformitas wajah bila tidak ditangani dengan tepat.

Artikel dari Jurnal MKGI FKG UGM yang ditulis oleh Y. Mulyaka dan drg. Muhammad Masykur Rahmat, Sp. BM.  Berjudul “Mixoma Odontogenik: Tinjauan Klinis dan Penatalaksanaanya” melaporkan gambaran klinis dan radiologis dari satu kasus myxoma di rahang serta pilihan bedah rekonstruksi untuk mengatasi kerusakan. Dari kasus tersebut kita bisa menarik berbagai pelajaran klinis untuk memperbaiki diagnosis dan tatalaksana myxoma rahang.

Gambaran Klinis dan Radiologis

Dari laporan kasus:

  • Pasien laki-laki, usia 24 tahun, datang dengan keluhan benjolan di pipi kanan sejak kira-kira 3 tahun yang lalu, tanpa nyeri. Lesi tumbuh lambat. Jurnal Universitas Gadjah Mada
  • Ukuran lesi sekitar 9 × 9 × 7 cm, bersifat kenyal, warna jaringan sama dengan jaringan sekitarnya. 
  • Pemeriksaan radiologis menunjukkan lesi radiolusen, sering multilokuler atau tampak seperti “sarang lebah” (honeycomb appearance), dengan batas yang tidak jelas. 

Penatalaksanaan Bedah

Berdasarkan kasus tersebut, tindakan pengelolaan yang diambil adalah:

  • Dilakukan hemimandibulektomi, yaitu reseksi satu sisi rahang bawah (mandibula) yang terkena lesi. 
  • Kemudian dilakukan pemasangan pelat rekonstruksi mandibula (mandibular reconstruction plate) untuk mempertahankan kontinuitas rahang dan fungsi struktural wajah. 

Tantangan dan Risiko

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kasus myxoma odontogenik:

  • Karena lesi tidak berkapsul dan infiltratif, ada kemungkinan rest-lesi yang tidak terangkat sepenuhnya, sehingga risiko kekambuhan cukup tinggi. 
  • Operasi besar seperti hemimandibulektomi membawa konsekuensi besar terhadap estetika, fungsi mulut (pengunyahan, bicara), dan kebutuhan rekonstruksi.

Impikasi Klinis

Dari analisis kasus ini, strategi klinis yang direkomendasikan antara lain:

  1. Diagnosis yang cermat
    • Pemeriksaan radiologis yang lengkap (misalnya CT atau CBCT) untuk menilai batas lesi, bentuk dan derajat infiltrasi.
    • Pemeriksaan histopatologis untuk konfirmasi myxoma serta karakteristik jenis lesi (misalnya odontogenik, multilokuler, agresifitas).
  2. Pemilihan metode bedah yang sesuai
    • Lesi besar atau dengan infiltrasi luas: mungkin memerlukan reseksi yang ekstensif seperti hemimandibulektomi.
    • Untuk lesi yang lebih terbatas, pendekatan bedah konservatif mungkin dipertimbangkan jika bisa menjamin margin bersih.
  3. Rekonstruksi
    • Setelah reseksi, perlu segera dilakukan rekonstruksi struktur tulang rahang agar kontinuitas rahang terjaga, fungsi mulut tidak terganggu, dan wajah tidak mengalami deformitas permanen.
  4. Pemantauan pasca operasi
    • Observasi untuk mendeteksi tanda-tanda kekambuhan, terutama karena myxoma dapat tumbuh lambat dan muncul kembali setelah operasi.
    • Evaluasi fungsional dan estetika pasca operasi (makan, bicara, simetri wajah).

***

Myxoma odontogenik walaupun jinak, membutuhkan pendekatan klinis yang teliti karena karakteristiknya yang infiltratif dan potensi kerusakan tulang rahang besar. Kasus yang dilaporkan menunjukkan bahwa hemimandibulektomi ditambah rekonstruksi dengan pelat dapat menjadi pilihan efektif untuk lesi besar, asal dilakukan diagnosis yang baik dan margin pembedahan yang memadai.

Referensi
MKGI, Y. Mulyaka, drg. Muhammad Masykur Rahmat, Sp. BM., Mixoma Odontogenik: Tinjauan Klinis dan Penatalaksanaanya, https://jurnal.ugm.ac.id/mkgi/article/view/16067

Penulis: Rizky B. Hendrawan | Foto: Freepik

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
13 Januari 2026

FKG UGM Menerima Kunjungan Studi Banding FKG UNISULA, Bahas Rencana Pendirian Prodi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

12 Januari 2026

Dies Natalis ke-78 FKG UGM: Dari Jalan Sehat hingga Transformasi Kesehatan Gigi Berbasis Sociopreneurship

12 Januari 2026

78 Tahun FKG UGM ‘Meretas’ Air Hujan Menjadi Air Minum, Dorong Kampus Hijau Ramah Lingkungan

id_ID