Bagi mahasiswa atau para peneliti, menentukan topik riset seringkali menjadi tantangan besar. Tak jarang, penelitian yang dilakukan hanya mengulang apa yang sudah pernah ada. Menurut Dr. drg. Dibyo Pramono, S.U., MDSc kunci utamanya adalah temukan research gap atau celah penelitian agar ada kebaharuan dalam sebuah penelitian.
Hal ini ia sampaikan dalam acara Training of Trainer (TOT) Pendamping Klinik Publikasi yang digelar pada Kamis, 24 Juli 2025. Menurutnya, penelitian yang baik lahir dari kemampuan peneliti untuk mengidentifikasi kekosongan dalam ilmu pengetahuan.
“Research gap adalah pertanyaan yang belum terjawab atau masalah yang belum terpecahkan dalam sebuah bidang ilmu,” jelas drg. Dibyo dalam materinya. Ia menganalogikan research gap seperti sebuah kepingan puzzle yang hilang yang harus ditemukan oleh peneliti.
Menurutnya, langkah awal seorang peneliti adalah melakukan eksplorasi topik untuk menemukan fokus yang tajam. Sebagai contoh, alih-alih meneliti penyakit periodontal secara umum, seorang peneliti bisa mengerucutkannya pada populasi spesifik seperti ibu hamil, lansia, atau pada faktor risiko tertentu seperti merokok dan diabetes melitus.
Menggali Research Gap yang Tepat
drg. Dibyo memaparkan beberapa jenis celah penelitian yang bisa digali. Salah satu yang paling populer di kalangan mahasiswa untuk tesis atau disertasi adalah Contextual Gap. Contextual gap terjadi saat sebuah teori atau metode sudah terbukti di satu konteks, tapi belum tentu berlaku di konteks lain,” paparnya.
Ia memberikan contoh sederhana yang mudah dipahami. “Misalnya, teknik sikat gigi metode Bass (Toothbrushing Bass) terbukti efektif untuk populasi umum. Tapi, apakah metode ini juga sama efektifnya untuk anak-anak berkebutuhan khusus? Nah, pertanyaan itu adalah sebuah celah penelitian,” terangnya.
Setelah celah ditemukan, peneliti dapat merumuskan latar belakang, pertanyaan penelitian, dan tujuan yang kuat. Untuk mempertajam pertanyaan penelitian, drg. Dibyo juga memperkenalkan kerangka PICO (Population, Intervention, Comparison, Outcome) yang sangat membantu dalam menyusun riset, terutama untuk penelitian klinis dan eksperimental.
Dengan menemukan research gap, drg. Dibyo berharap penelitian yang dihasilkan, khususnya di bidang kedokteran gigi, tidak lagi bersifat repetitif. “Pada akhirnya, riset harus bertujuan untuk memberikan solusi inovatif dan manfaat nyata bagi masyarakat,” tutupnya.
Penulis dan Fotografer: Fajar Budi Harsakti