Pagi itu usai hujan membasuh Kawasan UGM Kamis, 5 Maret 2026 halaman FKG UGM diwarnai wajah-wajah dari berbagai generasi. Ada profesor senior yang puluhan tahun lalu memulai karier akademiknya di ruang klinik sederhana, ada pula mahasiswa yang baru beberapa semester mengenal dunia kedokteran gigi. Di antara mereka berdiri dalam satu kesadaran yang sama, yakni melihat perjalanan panjang sebuah institusi yang kini memasuki usia 78 tahun.
Perayaan Dies Natalis FKG UGM tahun ini bukan sekadar seremoni semata, moment Dies Natalis menjadi ruang refleksi atas transformasi yang berlangsung cepat, bagaimana sebuah fakultas yang lahir dari semangat membangun kesehatan bangsa kini bergerak menuju panggung akademik global.

Awal dari Sebuah Misi
Sejak awal berdirinya, FKG UGM memikul misi yang sederhana tetapi besar: memperbaiki kesehatan gigi masyarakat Indonesia yang saat itu masih sangat terbatas aksesnya terhadap pelayanan kesehatan.Pada masa-masa awal, fasilitas pendidikan dan klinik masih terbatas. Namun semangat pengabdian menjadi fondasi utama.
Puluhan tahun kemudian, semangat itu masih terasa. Hanya saja, konteksnya berubah. Dunia kedokteran gigi kini tidak lagi hanya berbicara tentang praktik klinik, tetapi juga tentang riset, inovasi teknologi, dan kolaborasi global.
Kampus yang Berubah Wajah
Perubahan paling terlihat hadir dalam bentuk fisik. Di kawasan kampus berdiri Dental Learning Center (DLC), gedung enam lantai yang dirancang sebagai pusat pembelajaran dan inovasi kedokteran gigi modern.
Di dalamnya terdapat ruang simulasi klinik, laboratorium riset, hingga fasilitas pembelajaran digital yang memungkinkan mahasiswa berlatih sebelum menghadapi pasien nyata.
Gedung ini bahkan meraih sertifikasi Greenship Gold dari Green Building Council Indonesia, menandai komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan.
Namun bagi sivitas akademika, gedung itu bukan sekadar bangunan baru. Ia menjadi simbol pergeseran paradigma pendidikan: dari ruang belajar konvensional menuju ekosistem pembelajaran yang kolaboratif dan inovatif.

Lompatan di Dunia Riset
Dalam empat tahun terakhir, publikasi ilmiah internasional fakultas ini meningkat signifikan. Jika pada awal periode hanya sekitar 44 publikasi, kini jumlahnya mencapai lebih dari 90 artikel di jurnal internasional bereputasi.
Nama Prof. Ika Dewi Ana menjadi salah satu yang paling menonjol. Ia tercatat dalam Top 2% World Scientist versi Stanford University, sebuah pengakuan global yang menempatkan peneliti Indonesia dalam peta ilmiah dunia.
Arah riset kini tidak lagi berhenti pada publikasi, FKG UGM mulai mendorong hilirisasi inovasi, yakni mengubah hasil penelitian menjadi produk yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Hingga beberapa tahun terakhir, setidaknya 15 produk inovasi telah dikembangkan bersama mitra industri nasional.Di titik inilah, peran universitas mulai bergerak dari sekadar pusat ilmu menuju motor inovasi kesehatan.

Generasi Baru Dokter Gigi
FKG UGM tidak hanya menekankan keterampilan klinis, tetapi juga menanamkan semangat sociopreneurship gagasan bahwa seorang dokter gigi juga bisa menjadi agen perubahan sosial. Konsep ini terlihat dalam berbagai kegiatan mahasiswa. Salah satunya adalah Dental Project, kegiatan kewirausahaan mahasiswa yang tidak hanya mengasah kreativitas tetapi juga menghasilkan pendapatan hingga miliaran rupiah setiap tahun. Sebagian keuntungan bahkan dialokasikan untuk program sosial dan beasiswa mahasiswa.
Kehidupan mahasiswa juga semakin berwarna. Dalam beberapa tahun terakhir, mahasiswa FKG UGM meraih puluhan prestasi nasional dan internasional, mulai dari kompetisi ilmiah hingga ajang seni dan kreativitas. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan kedokteran gigi kini berkembang menjadi ruang pengembangan diri yang lebih luas.

Kampus yang Terhubung dengan Dunia
Transformasi lain terlihat pada semakin terbukanya fakultas ini terhadap dunia internasional.
Mahasiswa kini dapat mengikuti berbagai program mobilitas akademik ke universitas di Asia dan Eropa. Sebaliknya, mahasiswa dari berbagai negara juga datang belajar di Yogyakarta melalui program pertukaran pelajar.
Program seperti Dental Summer Course menjadi ruang pertemuan mahasiswa kedokteran gigi dari berbagai latar belakang budaya dan sistem pendidikan.

Pengabdian Yang Tidak Pernah Usai
Meski bergerak menuju internasionalisasi, satu hal tetap menjadi identitas kuat FKG UGM: pengabdian kepada masyarakat.
Dalam beberapa tahun terakhir, kegiatan pelayanan kesehatan gigi di berbagai daerah meningkat drastis.
Ratusan program pengabdian dilakukan di berbagai wilayah, memberikan akses layanan kesehatan gigi bagi masyarakat yang selama ini sulit menjangkaunya.
Di kampus, nilai solidaritas juga tumbuh melalui berbagai inisiatif mahasiswa.
Salah satu yang menarik adalah kantin kejujuran, yang seluruh keuntungannya digunakan untuk membantu mahasiswa yang membutuhkan dukungan finansial.
Hal-hal kecil seperti ini menjadi pengingat bahwa pendidikan dokter gigi bukan hanya soal keahlian medis, tetapi juga nilai kemanusiaan.

Menuju Masa Depan FKG UGM
Memasuki usia ke-78 tahun, Fakultas Kedokteran Gigi UGM berdiri di fase penting. Di satu sisi, ia membawa warisan panjang sebagai institusi pendidikan kedokteran gigi yang berkontribusi bagi bangsa. Di sisi lain, ia menghadapi tuntutan baru dunia akademik yang semakin global dan kompetitif.
Keteguhan menuju universitas 100 besar dunia menjadi tantangan sekaligus peluang. Namun bagi banyak sivitas akademika, tujuan utama tetap sama seperti puluhan tahun lalu: menghadirkan ilmu yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Perjalanan 78 tahun ini menunjukkan bahwa sebuah FKG UGM tidak hanya dibangun oleh gedung atau peringkat akademik. Ia dibangun oleh ide, dedikasi, dan loyalitas lintas generasi yang percaya bahwa kesehatan gigi adalah bagian dari martabat manusia.
(Reporter: Andri Wicaksono, Fotografi: Fajar Budi Harsakti)