Berita

/

Berita Terbaru

3 Koas FKG UGM Menyerap Ilmu & Empati di Osaka University

Di sebuah ruang klinik anak di Osaka University Dental Hospital, Jepang, seorang bocah kecil duduk tenang di kursi perawatan. Tak ada tangis. Tak ada jeritan. Seusai tindakan, sang ibu tersenyum, lalu bertepuk tangan kecil seraya berkata, ‘Yokatta ne’ (artinya: syukurlah) Anak itu membalas dengan wajah bangga.

Taskara Shafa Lantika (Koas 83), Luthfika Fadhilatul Auliya (Koas 86), & Putu Rani Wulandiva (Koas 83), 3 mahasiswa profesi dokter gigi didampingi dosen Dr. drg. Niswati Fathmah Rosyida, MDSc., Sp.Ort  FKG UGM, momen istimewa itu justru menjadi pelajaran paling berkesan selama mengikuti International Student Week (ISW) di The University of Osaka, 26–30 Januari 2026

“Di sana, orang tua dilarang menakut-nakuti anak dengan cerita horor tentang dokter gigi. Setiap tindakan harus diapresiasi. Itu membentuk mental anak sejak kecil,” tutur Putu Rani Wulandiva, yang akrab disapa Diva.

Sistem Pendidikan Koas Kedokteran Gigi yang Berbeda Pola

Di Osaka, mereka menemukan sistem pendidikan kedokteran gigi yang berbeda dari Indonesia. Program enam tahun disusun terintegrasi tanpa pemisahan tegas antara sarjana dan profesi. Mahasiswa belajar dari grade 1 hingga grade 6 dalam satu kesinambungan.

Menariknya, selama masa pendidikan klinik, mahasiswa lebih banyak berlatih pada phantom (model tiruan) sebelum benar-benar menangani pasien. Paparan langsung kepada pasien intensif dilakukan saat fase residensi setelah enam tahun studi.

“Keuntungannya, mahasiswa tidak perlu mencari pasien seperti di sini. Tapi mungkin secara adaptasi emosional saat pertama kali menghadapi pasien nyata bisa berbeda,” ungkapnya.

Yang paling mencolok adalah keberadaan dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP) yang selalu standby penuh selama jam operasional klinik. Tidak ada sistem filtrasi melalui residen. Setiap kasus langsung berada dalam supervisi aktif DPJP.

“DPJP selalu ada, dari pagi sampai selesai. Itu memberi rasa aman bagi mahasiswa maupun pasien,” tegas Diva.

Teknologi sebagai Tulang Punggung

Secara fasilitas, Osaka University Dental Hospital dinilai selangkah lebih maju. Di Departemen Konservasi, hampir setiap dental unit dilengkapi mikroskop bedah Leica, perangkat dengan presisi tinggi yang harganya tidak murah.

Di Indonesia, mikroskop klinis masih terbatas dan biasanya tersedia satu unit di klinik residen. Di Osaka, teknologi tersebut menjadi bagian rutin pelayanan.

Tak hanya itu, laboratorium riset kecerdasan artifisial (AI Research Unit), ruang bedah modern untuk kasus cleft lip and palate, hingga instalasi rawat inap khusus kedokteran gigi menunjukkan bagaimana riset dan layanan klinis berjalan berdampingan.

“Kalau ada riset yang sudah teruji dan tersertifikasi, langsung diterapkan di klinik,” papar Diva.

Edukasi Sejak Dini: Investasi Jangka Panjang

Namun, yang paling membekas bukanlah kecanggihan alat, melainkan kesadaran kolektif masyarakat di Osaka terhadap kesehatan gigi.

Pada kunjungan pertama pasien anak, orang tua mendapat edukasi detail, cara menyikat gigi sesuai usia, jenis sikat, pemilihan pasta gigi, hingga pola makan dan kebiasaan ngemil. Semua tercatat dalam buku monitoring khusus yang menyertai perjalanan perawatan anak.

Bahkan setiap anak menerima satu set alat kebersihan gigi dari rumah sakit.

Formulir awal pasien anak memuat pertanyaan rinci tentang kebiasaan sehari-hari. Orang tua menjawab dengan serius. Tidak sekadar formalitas.

“Hasilnya sangat terlihat. Anak-anak tidak takut ke dokter gigi. Mereka kooperatif,” katanya.

Program ISW sendiri mencakup orientasi sistem pendidikan, tur klinik per departemen, mini lecture, hingga presentasi kampus di hadapan mahasiswa dan dosen Osaka University serta peserta dari Wonkwang University, Korea Selatan.

Refleksi: Apa yang Bisa Dipelajari?

Bagi ketiganya, pelajaran utama bukanlah sekadar perbandingan fasilitas.

“Hal kecil seperti komunikasi ke pasien, edukasi orang tua, atau kehadiran DPJP yang konsisten terlihat sederhana, tapi dampaknya sangat signifikan,” ujarnya.

Di tengah keterbatasan sumber daya, barangkali yang paling mungkin diadopsi adalah penguatan edukasi dan komunikasi. Menumbuhkan kesadaran bahwa kesehatan gigi bukan sekadar urusan klinik, melainkan budaya hidup.

Di Osaka, ketenangan ruang klinik anak bukan terjadi secara kebetulan. Ia adalah hasil dari sistem yang dibangun perlahan dalam satu kurun waktu, dari edukasi orang tua, dari konsistensi tenaga medis, hingga hidup disiplin masyarakat.

Dan bagi ketiga mahasiswa koas dari FKG UGM itu, perjalanan lima hari pada musim dingin di Jepang telah membuka cakrawala baru, bahwa kemajuan bukan hanya soal teknologi, melainkan tentang cara berpikir & kesadaran cara menghargai suatu proses.

(Redaksi: Andri Wicaksono, Foto: Arsip Putu Rani Wulandiva)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
10 Februari 2026

FKG UGM Menerima Kunjungan SMA IT Umul Qubro, Bogor

10 Februari 2026

Ketika Operasi Celah, Kembalikan Senyum Merekah…

6 Februari 2026

Digital Dentistry Mengubah Cara Pandang Dokter Gigi Dalam Merencanakan Implan

id_ID