{"id":21144,"date":"2026-07-23T09:58:29","date_gmt":"2026-07-23T02:58:29","guid":{"rendered":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/?p=21144"},"modified":"2026-07-23T09:58:31","modified_gmt":"2026-07-23T02:58:31","slug":"model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\/","title":{"rendered":"Model Gigi Digital vs Gips: Mana yang Lebih Akurat untuk Diagnosis Ortodonti?"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Sebuah pertanyaan mendasar menghantui setiap klinik ortodonti yang mulai beralih ke teknologi digital: apakah model gigi tiga dimensi yang dipindai layar komputer bisa dipercaya setepat model gips konvensional yang sudah puluhan tahun menjadi standar emas? Penelitian yang melibatkan tim dari Departemen Ortodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia mencoba menjawab pertanyaan itu secara sistematis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasilnya: keempat metode pengukuran yang diuji, termasuk model gips konvensional, pemindaian digital 2D, intraoral scanning 3D, hingga Cone Beam Computed Tomography (CBCT), semuanya terbukti akurat. Namun tingkat akurasinya tidak sepenuhnya setara.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Ketika Gips Masih Menjadi Raja<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Model studi adalah fondasi diagnosis ortodonti. Dari sinilah dokter gigi spesialis ortodonti mengukur lebar mesiodistal gigi, menghitung diskrepansi ruang, dan merencanakan pergerakan gigi yang akan berlangsung selama bertahun-tahun. Kesalahan satu milimeter saja bisa berarti perbedaan antara perawatan yang tepat dan yang meleset.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penelitian yang dipublikasikan di <em>Journal of Dentomaxillofacial Science<\/em> edisi April 2023 ini dirancang sebagai studi komparatif eksperimental. Tim peneliti, termasuk Dr. drg. Dyah Kurnia, Sp.Ort. dari FKG UGM, menggunakan typodont sebagai kelompok kontrol atau &#8220;gold standard&#8221;, yakni model gigi buatan dengan morfologi lengkap dan terstandar. Dari satu typodont yang sama, dibuat lima kelompok model dengan metode berbeda: model gips konvensional, pemindaian 2D menggunakan flatbed scanner, intraoral scanning 3D dengan perangkat Medit i-500, dan pencitraan CBCT menggunakan Orthopantomograph OP300.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setiap pengukuran diulang tiga kali oleh observer yang sama, lalu dirata-ratakan. Parameter yang diukur mencakup total lebar mesiodistal gigi dan jarak interpremolar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasilnya menunjukkan model gips konvensional meraih nilai korelasi tertinggi dibanding metode lain. Untuk pengukuran total lebar mesiodistal, model gips mencapai nilai R = 0,982, sementara intraoral scanning 3D menghasilkan R = 0,961, CBCT sebesar R = 0,941, dan pemindaian 2D di angka R = 0,913. Semua nilai ini melampaui ambang batas signifikansi statistik (p &lt; 0,05).<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Mengapa Gips Unggul, dan Apa Kelemahan Digital<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keunggulan model gips bukan tanpa penjelasan logis. Metode pengukurannya menggunakan kaliper digital yang sama persis dengan cara mengukur typodont sebagai kontrol, sehingga kondisi pengukuran sangat mirip. Penyusutan material cetak alginate dan degradasi gipsum memang menimbulkan sedikit selisih, tetapi tidak cukup signifikan untuk mengurangi akurasi secara berarti.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Model gips tetap punya kelemahan yang tidak bisa diabaikan: membutuhkan ruang penyimpanan fisik, rentan rusak, dan tidak bisa dibagikan secara instan ke kolega atau spesialis lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sinilah teknologi digital menawarkan kelebihan nyata. Intraoral scanning 3D, misalnya, menggunakan teknik confocal imaging yang mampu mendeteksi ketajaman area objek dan menghitung jarak berdasarkan panjang fokus lensa. Hasilnya disimpan dalam format .stl yang bisa dibuka dari mana saja, tidak memerlukan ruang fisik, dan tidak ada risiko kerusakan model. Bagi pasien dengan refleks muntah yang kuat atau keterbatasan membuka mulut, metode ini juga jauh lebih nyaman dibanding pencetakan alginate konvensional.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>&#8220;The three-dimensional model has many advantages over conventional plaster models in orthodontic aspects, including it is easier to share with doctors or other professionals from anywhere for advice on treatment plans or diagnostics.&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemindaian 2D justru menjadi metode dengan akurasi terendah, terutama untuk pengukuran jarak interpremolar (R = 0,881). Struktur konveks gigi posterior dan sudut pemindaian yang tidak selalu tepat membuat titik referensi anatomis, khususnya lekukan mesial pada permukaan oklusal premolar, sulit diidentifikasi dengan presisi.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>CBCT: Canggih tapi Bukan untuk Semua Kasus<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pengukuran dengan CBCT menunjukkan akurasi yang sangat kuat, dengan nilai R di atas 0,90 untuk kedua parameter. Metode ini menggunakan sistem segmentasi yang memungkinkan visualisasi kontur setiap gigi secara jelas, sehingga pengukuran lebar mesiodistal bisa dilakukan dari tampilan oklusal dengan akurasi tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun CBCT bukan tanpa hambatan. Biayanya tinggi, memerlukan pelatihan tambahan untuk operator, dan paparan radiasinya lebih besar dibanding foto rontgen konvensional. Dalam praktik klinis, CBCT lebih diindikasikan untuk kasus khusus seperti evaluasi gigi impaksi, penilaian saluran napas faring, perencanaan mini implan, atau persiapan bedah ortognatik. Menggunakannya hanya untuk analisis model rutin akan terasa berlebihan, baik dari sisi biaya maupun risiko.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Pilihan Metode adalah Pertimbangan Klinis<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Temuan penelitian ini tidak menyatakan satu metode lebih baik dari yang lain secara mutlak. Semua metode akurat. Yang berbeda adalah konteks penggunaannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Klinik dengan keterbatasan teknologi tetap bisa mengandalkan model gips konvensional dengan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Klinik yang ingin efisiensi penyimpanan dan kemudahan berbagi data antar dokter bisa beralih ke intraoral scanning 3D tanpa mengorbankan akurasi secara signifikan. CBCT tetap relevan untuk indikasi klinis tertentu yang memang membutuhkan gambaran tiga dimensi komprehensif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penelitian ini mendapat persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Universitas Gadjah Mada, dan pelaksanaannya melibatkan fasilitas Departemen Ortodonsia FKG UGM serta Radiologi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof. Soedomo Yogyakarta.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di satu sisi, temuan ini melegakan: transisi ke dunia digital tidak harus berarti mengorbankan ketepatan diagnosis. Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa teknologi canggih tidak otomatis menggantikan pemahaman mendalam tentang anatomi gigi dan ketelitian tangan yang mengukurnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Foto : Pexels<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebuah pertanyaan mendasar menghantui setiap klinik ortodonti yang mulai beralih ke teknologi digital: apakah model gigi tiga dimensi yang dipindai layar komputer bisa dipercaya setepat model gips konvensional yang sudah puluhan tahun menjadi standar emas? Penelitian yang melibatkan tim dari Departemen Ortodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia mencoba menjawab pertanyaan itu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":615,"featured_media":21145,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[359,136,326,318,316,317,321],"tags":[298,307,289,291,297],"class_list":["post-21144","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-berita-terbaru","category-sdg-10","category-sdg-17","category-sdg-3","category-sdg-4","category-sdg-9","tag-sdg-10-mengurangi-ketidaksetaraan","tag-sdg-17-kemitraan-untuk-mencapai-tujuan","tag-sdg-3-kesehatan-dan-kesejahteraan-yang-baik","tag-sdg-4-pendidikan-berkualitas","tag-sdg-9-industri-inovasi-dan-infrastruktur"],"gutentor_comment":0,"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.0 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Model Gigi Digital vs Gips: Mana yang Lebih Akurat untuk Diagnosis Ortodonti? - Fakultas Kedokteran Gigi<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Model Gigi Digital vs Gips: Mana yang Lebih Akurat untuk Diagnosis Ortodonti? - Fakultas Kedokteran Gigi\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sebuah pertanyaan mendasar menghantui setiap klinik ortodonti yang mulai beralih ke teknologi digital: apakah model gigi tiga dimensi yang dipindai layar komputer bisa dipercaya setepat model gips konvensional yang sudah puluhan tahun menjadi standar emas? Penelitian yang melibatkan tim dari Departemen Ortodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia mencoba menjawab pertanyaan itu [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Fakultas Kedokteran Gigi\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/p\/Fakultas-Kedokteran-Gigi-UGM-100075927681679\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-23T02:58:29+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-07-23T02:58:31+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/07\/pexels-bakytzhan-baurzhanov-854600-9951391-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1584\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"achmadzamzamaghasy\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"achmadzamzamaghasy\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"achmadzamzamaghasy\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/57ad8e6d60b6af7c1d8bc07a2c12cd1d\"},\"headline\":\"Model Gigi Digital vs Gips: Mana yang Lebih Akurat untuk Diagnosis Ortodonti?\",\"datePublished\":\"2026-07-23T02:58:29+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-23T02:58:31+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\\\/\"},\"wordCount\":784,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2026\\\/07\\\/pexels-bakytzhan-baurzhanov-854600-9951391-scaled.jpg\",\"keywords\":[\"SDG 10: Mengurangi Ketidaksetaraan\",\"SDG 17: Kemitraan untuk mencapai Tujuan\",\"SDG 3: Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik\",\"SDG 4: Pendidikan Berkualitas\",\"SDG 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur\"],\"articleSection\":[\"Artikel\",\"Berita Terbaru\",\"SDG 10\",\"SDG 17\",\"SDG 3\",\"SDG 4\",\"SDG 9\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\\\/\",\"name\":\"Model Gigi Digital vs Gips: Mana yang Lebih Akurat untuk Diagnosis Ortodonti? - Fakultas Kedokteran Gigi\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2026\\\/07\\\/pexels-bakytzhan-baurzhanov-854600-9951391-scaled.jpg\",\"datePublished\":\"2026-07-23T02:58:29+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-23T02:58:31+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2026\\\/07\\\/pexels-bakytzhan-baurzhanov-854600-9951391-scaled.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2026\\\/07\\\/pexels-bakytzhan-baurzhanov-854600-9951391-scaled.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1584},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Model Gigi Digital vs Gips: Mana yang Lebih Akurat untuk Diagnosis Ortodonti?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/\",\"name\":\"Fakultas Kedokteran Gigi\",\"description\":\"Universitas Gadjah Mada\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"Fakultas Kedokteran Gigi\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2024\\\/05\\\/Group.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2024\\\/05\\\/Group.png\",\"width\":248,\"height\":257,\"caption\":\"Fakultas Kedokteran Gigi\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/p\\\/Fakultas-Kedokteran-Gigi-UGM-100075927681679\\\/\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/fkgugm\\\/?igshid=MTNiYzNiMzkwZA\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/@ugmfkg2266\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/57ad8e6d60b6af7c1d8bc07a2c12cd1d\",\"name\":\"achmadzamzamaghasy\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/703457fd59defa6504a99ae1c5e493d7e564bb3bac4c47b8ce9215cbfb298e36?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/703457fd59defa6504a99ae1c5e493d7e564bb3bac4c47b8ce9215cbfb298e36?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/703457fd59defa6504a99ae1c5e493d7e564bb3bac4c47b8ce9215cbfb298e36?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"achmadzamzamaghasy\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/en\\\/author\\\/achmadzamzamaghasy\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Model Gigi Digital vs Gips: Mana yang Lebih Akurat untuk Diagnosis Ortodonti? - Fakultas Kedokteran Gigi","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Model Gigi Digital vs Gips: Mana yang Lebih Akurat untuk Diagnosis Ortodonti? - Fakultas Kedokteran Gigi","og_description":"Sebuah pertanyaan mendasar menghantui setiap klinik ortodonti yang mulai beralih ke teknologi digital: apakah model gigi tiga dimensi yang dipindai layar komputer bisa dipercaya setepat model gips konvensional yang sudah puluhan tahun menjadi standar emas? Penelitian yang melibatkan tim dari Departemen Ortodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia mencoba menjawab pertanyaan itu [&hellip;]","og_url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\/","og_site_name":"Fakultas Kedokteran Gigi","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/p\/Fakultas-Kedokteran-Gigi-UGM-100075927681679\/","article_published_time":"2026-07-23T02:58:29+00:00","article_modified_time":"2026-07-23T02:58:31+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1584,"url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/07\/pexels-bakytzhan-baurzhanov-854600-9951391-scaled.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"achmadzamzamaghasy","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"achmadzamzamaghasy","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\/"},"author":{"name":"achmadzamzamaghasy","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#\/schema\/person\/57ad8e6d60b6af7c1d8bc07a2c12cd1d"},"headline":"Model Gigi Digital vs Gips: Mana yang Lebih Akurat untuk Diagnosis Ortodonti?","datePublished":"2026-07-23T02:58:29+00:00","dateModified":"2026-07-23T02:58:31+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\/"},"wordCount":784,"publisher":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/07\/pexels-bakytzhan-baurzhanov-854600-9951391-scaled.jpg","keywords":["SDG 10: Mengurangi Ketidaksetaraan","SDG 17: Kemitraan untuk mencapai Tujuan","SDG 3: Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik","SDG 4: Pendidikan Berkualitas","SDG 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur"],"articleSection":["Artikel","Berita Terbaru","SDG 10","SDG 17","SDG 3","SDG 4","SDG 9"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\/","url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\/","name":"Model Gigi Digital vs Gips: Mana yang Lebih Akurat untuk Diagnosis Ortodonti? - Fakultas Kedokteran Gigi","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/07\/pexels-bakytzhan-baurzhanov-854600-9951391-scaled.jpg","datePublished":"2026-07-23T02:58:29+00:00","dateModified":"2026-07-23T02:58:31+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\/#primaryimage","url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/07\/pexels-bakytzhan-baurzhanov-854600-9951391-scaled.jpg","contentUrl":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/07\/pexels-bakytzhan-baurzhanov-854600-9951391-scaled.jpg","width":2560,"height":1584},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/model-gigi-digital-vs-gips-mana-yang-lebih-akurat-untuk-diagnosis-ortodonti\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Model Gigi Digital vs Gips: Mana yang Lebih Akurat untuk Diagnosis Ortodonti?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#website","url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/","name":"Faculty of Dentistry","description":"Universitas Gadjah Mada","publisher":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#organization","name":"Faculty of Dentistry","url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2024\/05\/Group.png","contentUrl":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2024\/05\/Group.png","width":248,"height":257,"caption":"Fakultas Kedokteran Gigi"},"image":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/p\/Fakultas-Kedokteran-Gigi-UGM-100075927681679\/","https:\/\/www.instagram.com\/fkgugm\/?igshid=MTNiYzNiMzkwZA","https:\/\/www.youtube.com\/@ugmfkg2266"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#\/schema\/person\/57ad8e6d60b6af7c1d8bc07a2c12cd1d","name":"achmadzamzamaghasy","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/703457fd59defa6504a99ae1c5e493d7e564bb3bac4c47b8ce9215cbfb298e36?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/703457fd59defa6504a99ae1c5e493d7e564bb3bac4c47b8ce9215cbfb298e36?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/703457fd59defa6504a99ae1c5e493d7e564bb3bac4c47b8ce9215cbfb298e36?s=96&d=mm&r=g","caption":"achmadzamzamaghasy"},"url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/author\/achmadzamzamaghasy\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21144","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/615"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21144"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21144\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":21146,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21144\/revisions\/21146"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21145"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21144"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21144"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21144"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}