{"id":21000,"date":"2026-07-22T11:30:22","date_gmt":"2026-07-22T04:30:22","guid":{"rendered":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/?p=21000"},"modified":"2026-07-22T11:30:24","modified_gmt":"2026-07-22T04:30:24","slug":"nanopartikel-tio%e2%82%82-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/nanopartikel-tio%e2%82%82-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\/","title":{"rendered":"Nanopartikel TiO\u2082 dan Peluang Energi Surya yang Lebih Murah dari Matahari"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam <em>International Journal of Technology<\/em> (2018) membawa kabar menarik dari laboratorium material di Universitas Indonesia: sel surya generasi ketiga berbasis pewarna sintetis \u2014 yang dikenal sebagai <em>dye-sensitized solar cell<\/em> (DSSC) \u2014 bisa bekerja jauh lebih baik hanya dengan mengubah cara nanopartikel titanium dioksida (TiO\u2082) disiapkan. Dr. drg. Bambang Priyono, S.U. bersama tim peneliti dari Departemen Teknik Metalurgi dan Material FTUI menemukan bahwa perlakuan hidrotermal pada suhu 120\u00b0C menghasilkan tegangan rangkaian terbuka (<em>open-circuit voltage<\/em>\/Voc) sebesar 320 milivolt \u2014 15 kali lebih tinggi dibanding metode aerogel konvensional yang hanya menghasilkan 21 milivolt. Penelitian ini dilakukan di Kampus UI Depok dan dipublikasikan pada 2018, dengan tujuan mencari teknik preparasi optimal yang lebih efisien dan ramah lingkungan sebagai alternatif energi fosil.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Sel Surya Murah dari Pasta Nano<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">DSSC bukan teknologi baru, tapi ia terus menarik perhatian karena alasan yang sederhana: murah dan mudah dibuat. Tidak seperti panel surya silikon konvensional yang membutuhkan proses fabrikasi rumit dan mahal, DSSC bekerja mirip proses fotosintesis \u2014 molekul pewarna menyerap cahaya, lalu melepaskan elektron yang mengalir sebagai arus listrik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Komponen kunci dalam sistem ini adalah lapisan semikonduktor TiO\u2082 yang bertindak sebagai fotoelektroda. Lapisan inilah yang menangkap elektron dari molekul pewarna dan mengalirkannya ke sirkuit luar. Semakin baik struktur kristal TiO\u2082 dan semakin luas permukaannya, semakin banyak pewarna yang bisa diserap, dan semakin besar pula tegangan yang dihasilkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tantangannya: bagaimana menyiapkan TiO\u2082 dengan kristalinitas tinggi sekaligus luas permukaan yang besar? Kedua sifat ini sering saling bertolak belakang \u2014 proses yang meningkatkan kristalinitas cenderung mengorbankan luas permukaan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Dua Jalur, Satu Pertanyaan Besar<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tim peneliti mencoba dua pendekatan berbeda untuk menjawab pertanyaan itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jalur pertama menggunakan metode <em>supercritical extraction<\/em> (SCE) untuk membuat aerogel TiO\u2082. Dalam proses ini, gas CO\u2082 pada kondisi superkritis digunakan untuk mengekstrak pelarut dari gel, meninggalkan jaringan pori yang luas. Hasilnya memang mengesankan dari sisi luas permukaan: 110,31 m\u00b2\/g \u2014 angka tertinggi di antara semua sampel yang diuji. Namun, kristalinitas material ini lebih rendah dibanding sampel yang diproses secara hidrotermal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jalur kedua adalah perlakuan hidrotermal pada tiga variasi suhu: 100\u00b0C, 120\u00b0C, dan 150\u00b0C, diikuti pengeringan dan kalsinasi bertahap (<em>multi-step calcination<\/em>) pada 150\u00b0C, 300\u00b0C, dan 420\u00b0C. Proses kalsinasi bertahap ini \u2014 bukan kalsinasi langsung satu tahap \u2014 dirancang khusus agar jaringan pori tidak runtuh akibat lonjakan suhu mendadak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasilnya cukup mengejutkan. Sampel yang diperlakukan secara hidrotermal pada 120\u00b0C memiliki energi celah pita (<em>band-gap energy<\/em>) paling rendah, yaitu 3,29 eV \u2014 mendekati nilai ideal fase anatase TiO\u2082 sebesar 3,28 eV. Ini menandakan kristalinitas yang optimal. Dan ketika diuji sebagai DSSC menggunakan lampu proyektor 50 watt, sampel ini menghasilkan Voc 320 mV, jauh melampaui sampel lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>&#8220;Pre-hydrothermal treatment can make stiff Ti\u2013OH networks become more flexible, leading to the formation of Ti\u2013O\u2013Ti arrangements after completion of the hydrolysis process. These Ti\u2013O\u2013Ti structures improve the crystallinity of TiO\u2082 and lead to a better performance of the material.&#8221; \u2014 Bambang Priyono et al., International Journal of Technology, 2018<\/em><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Rahasia di Balik Angka 120\u00b0C<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengapa 120\u00b0C, bukan 150\u00b0C yang secara logika menghasilkan panas lebih besar?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penjelasannya ada di tingkat molekuler. Perlakuan hidrotermal bekerja dengan memecah jaringan Ti\u2013OH yang kaku \u2014 struktur yang justru menghambat pertumbuhan kristal TiO\u2082. Pada suhu 120\u00b0C, jaringan ini cukup dilunakkan sehingga terbentuk ikatan Ti\u2013O\u2013Ti yang lebih teratur dan fleksibel, menghasilkan kristalinitas optimal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada suhu 150\u00b0C, meski ukuran kristalit lebih besar (9,73 nm dibanding 7,79 nm pada 120\u00b0C), performa DSSC-nya justru turun ke 160 mV. Tim peneliti menduga ini terkait ketebalan lapisan TiO\u2082 pada kaca konduktif yang tidak seragam \u2014 sebuah variabel acak yang perlu dikendalikan lebih ketat dalam penelitian lanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari analisis gambar <em>scanning electron microscopy<\/em> (SEM), partikel pada perlakuan 120\u00b0C menunjukkan tepi yang lebih halus dengan ukuran antara 127 hingga 233 nm \u2014 lebih besar dan lebih teratur dibanding partikel pada 100\u00b0C yang masih tajam dan kasar. Morfologi ini berkontribusi pada distribusi Ti\u2013O\u2013Ti yang lebih merata, yang pada akhirnya mendukung performa fotoelektrokimia yang lebih baik.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Energi Bersih Dimulai dari Skala Nano<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penelitian ini memang belum menghasilkan panel surya siap pasang di atap rumah. Pengujian Voc menggunakan lampu proyektor \u2014 bukan sinar matahari penuh \u2014 dan skala produksinya masih laboratorium. Namun, ia menjawab pertanyaan mendasar yang selama ini mengganjal pengembangan DSSC: teknik preparasi mana yang paling menjanjikan?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jawabannya, setidaknya berdasarkan data ini, adalah hidrotermal pada 120\u00b0C dengan kalsinasi bertahap. Metode ini lebih unggul dari aerogel dalam hal performa Voc, meski aerogel masih memimpin soal luas permukaan. Kombinasi keduanya \u2014 atau modifikasi lebih lanjut \u2014 bisa jadi kunci untuk DSSC generasi berikutnya yang benar-benar efisien.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nanopartikel setebal sepersejuta milimeter itu menyimpan potensi yang jauh melampaui ukurannya. Dan dari laboratorium material di Depok, satu langkah kecil menuju energi surya yang lebih terjangkau telah diambil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Photo: Pexels<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sumber DOI: https:\/\/doi.org\/10.14716\/ijtech.v9i5.1067<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Technology (2018) membawa kabar menarik dari laboratorium material di Universitas Indonesia: sel surya generasi ketiga berbasis pewarna sintetis \u2014 yang dikenal sebagai dye-sensitized solar cell (DSSC) \u2014 bisa bekerja jauh lebih baik hanya dengan mengubah cara nanopartikel titanium dioksida (TiO\u2082) disiapkan. Dr. drg. Bambang Priyono, S.U. bersama [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":615,"featured_media":21008,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[359,136],"tags":[303,307,289,295,297],"class_list":["post-21000","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-berita-terbaru","tag-sdg-13-aksi-iklim","tag-sdg-17-kemitraan-untuk-mencapai-tujuan","tag-sdg-3-kesehatan-dan-kesejahteraan-yang-baik","tag-sdg-7-energi-yang-terjangkau-dan-bersih","tag-sdg-9-industri-inovasi-dan-infrastruktur"],"gutentor_comment":0,"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.0 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Nanopartikel TiO\u2082 dan Peluang Energi Surya yang Lebih Murah dari Matahari - Fakultas Kedokteran Gigi<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/nanopartikel-tio\u2082-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Nanopartikel TiO\u2082 dan Peluang Energi Surya yang Lebih Murah dari Matahari - Fakultas Kedokteran Gigi\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Technology (2018) membawa kabar menarik dari laboratorium material di Universitas Indonesia: sel surya generasi ketiga berbasis pewarna sintetis \u2014 yang dikenal sebagai dye-sensitized solar cell (DSSC) \u2014 bisa bekerja jauh lebih baik hanya dengan mengubah cara nanopartikel titanium dioksida (TiO\u2082) disiapkan. Dr. drg. Bambang Priyono, S.U. bersama [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/nanopartikel-tio\u2082-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Fakultas Kedokteran Gigi\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/p\/Fakultas-Kedokteran-Gigi-UGM-100075927681679\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-22T04:30:22+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-07-22T04:30:24+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/07\/pexels-clement-proust-363898785-34189167-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1707\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"achmadzamzamaghasy\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"achmadzamzamaghasy\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/nanopartikel-tio%e2%82%82-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/nanopartikel-tio%e2%82%82-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"achmadzamzamaghasy\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/57ad8e6d60b6af7c1d8bc07a2c12cd1d\"},\"headline\":\"Nanopartikel TiO\u2082 dan Peluang Energi Surya yang Lebih Murah dari Matahari\",\"datePublished\":\"2026-07-22T04:30:22+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-22T04:30:24+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/nanopartikel-tio%e2%82%82-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\\\/\"},\"wordCount\":778,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/nanopartikel-tio%e2%82%82-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2026\\\/07\\\/pexels-clement-proust-363898785-34189167-scaled.jpg\",\"keywords\":[\"SDG 13: Aksi Iklim\",\"SDG 17: Kemitraan untuk mencapai Tujuan\",\"SDG 3: Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik\",\"SDG 7: Energi yang Terjangkau dan Bersih\",\"SDG 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur\"],\"articleSection\":[\"Artikel\",\"Berita Terbaru\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/nanopartikel-tio%e2%82%82-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/nanopartikel-tio%e2%82%82-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\\\/\",\"name\":\"Nanopartikel TiO\u2082 dan Peluang Energi Surya yang Lebih Murah dari Matahari - Fakultas Kedokteran Gigi\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/nanopartikel-tio%e2%82%82-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/nanopartikel-tio%e2%82%82-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2026\\\/07\\\/pexels-clement-proust-363898785-34189167-scaled.jpg\",\"datePublished\":\"2026-07-22T04:30:22+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-22T04:30:24+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/nanopartikel-tio%e2%82%82-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/nanopartikel-tio%e2%82%82-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/nanopartikel-tio%e2%82%82-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2026\\\/07\\\/pexels-clement-proust-363898785-34189167-scaled.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2026\\\/07\\\/pexels-clement-proust-363898785-34189167-scaled.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1707},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/nanopartikel-tio%e2%82%82-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Nanopartikel TiO\u2082 dan Peluang Energi Surya yang Lebih Murah dari Matahari\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/\",\"name\":\"Fakultas Kedokteran Gigi\",\"description\":\"Universitas Gadjah Mada\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"Fakultas Kedokteran Gigi\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2024\\\/05\\\/Group.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2024\\\/05\\\/Group.png\",\"width\":248,\"height\":257,\"caption\":\"Fakultas Kedokteran Gigi\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/p\\\/Fakultas-Kedokteran-Gigi-UGM-100075927681679\\\/\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/fkgugm\\\/?igshid=MTNiYzNiMzkwZA\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/@ugmfkg2266\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/57ad8e6d60b6af7c1d8bc07a2c12cd1d\",\"name\":\"achmadzamzamaghasy\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/703457fd59defa6504a99ae1c5e493d7e564bb3bac4c47b8ce9215cbfb298e36?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/703457fd59defa6504a99ae1c5e493d7e564bb3bac4c47b8ce9215cbfb298e36?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/703457fd59defa6504a99ae1c5e493d7e564bb3bac4c47b8ce9215cbfb298e36?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"achmadzamzamaghasy\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/en\\\/author\\\/achmadzamzamaghasy\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Nanopartikel TiO\u2082 dan Peluang Energi Surya yang Lebih Murah dari Matahari - Fakultas Kedokteran Gigi","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/nanopartikel-tio\u2082-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Nanopartikel TiO\u2082 dan Peluang Energi Surya yang Lebih Murah dari Matahari - Fakultas Kedokteran Gigi","og_description":"Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Technology (2018) membawa kabar menarik dari laboratorium material di Universitas Indonesia: sel surya generasi ketiga berbasis pewarna sintetis \u2014 yang dikenal sebagai dye-sensitized solar cell (DSSC) \u2014 bisa bekerja jauh lebih baik hanya dengan mengubah cara nanopartikel titanium dioksida (TiO\u2082) disiapkan. Dr. drg. Bambang Priyono, S.U. bersama [&hellip;]","og_url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/nanopartikel-tio\u2082-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\/","og_site_name":"Fakultas Kedokteran Gigi","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/p\/Fakultas-Kedokteran-Gigi-UGM-100075927681679\/","article_published_time":"2026-07-22T04:30:22+00:00","article_modified_time":"2026-07-22T04:30:24+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1707,"url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/07\/pexels-clement-proust-363898785-34189167-scaled.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"achmadzamzamaghasy","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"achmadzamzamaghasy","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/nanopartikel-tio%e2%82%82-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/nanopartikel-tio%e2%82%82-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\/"},"author":{"name":"achmadzamzamaghasy","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#\/schema\/person\/57ad8e6d60b6af7c1d8bc07a2c12cd1d"},"headline":"Nanopartikel TiO\u2082 dan Peluang Energi Surya yang Lebih Murah dari Matahari","datePublished":"2026-07-22T04:30:22+00:00","dateModified":"2026-07-22T04:30:24+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/nanopartikel-tio%e2%82%82-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\/"},"wordCount":778,"publisher":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/nanopartikel-tio%e2%82%82-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/07\/pexels-clement-proust-363898785-34189167-scaled.jpg","keywords":["SDG 13: Aksi Iklim","SDG 17: Kemitraan untuk mencapai Tujuan","SDG 3: Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik","SDG 7: Energi yang Terjangkau dan Bersih","SDG 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur"],"articleSection":["Artikel","Berita Terbaru"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/nanopartikel-tio%e2%82%82-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\/","url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/nanopartikel-tio%e2%82%82-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\/","name":"Nanopartikel TiO\u2082 dan Peluang Energi Surya yang Lebih Murah dari Matahari - Fakultas Kedokteran Gigi","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/nanopartikel-tio%e2%82%82-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/nanopartikel-tio%e2%82%82-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/07\/pexels-clement-proust-363898785-34189167-scaled.jpg","datePublished":"2026-07-22T04:30:22+00:00","dateModified":"2026-07-22T04:30:24+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/nanopartikel-tio%e2%82%82-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/nanopartikel-tio%e2%82%82-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/nanopartikel-tio%e2%82%82-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\/#primaryimage","url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/07\/pexels-clement-proust-363898785-34189167-scaled.jpg","contentUrl":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/07\/pexels-clement-proust-363898785-34189167-scaled.jpg","width":2560,"height":1707},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/nanopartikel-tio%e2%82%82-dan-peluang-energi-surya-yang-lebih-murah-dari-matahari\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Nanopartikel TiO\u2082 dan Peluang Energi Surya yang Lebih Murah dari Matahari"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#website","url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/","name":"Faculty of Dentistry","description":"Universitas Gadjah Mada","publisher":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#organization","name":"Faculty of Dentistry","url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2024\/05\/Group.png","contentUrl":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2024\/05\/Group.png","width":248,"height":257,"caption":"Fakultas Kedokteran Gigi"},"image":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/p\/Fakultas-Kedokteran-Gigi-UGM-100075927681679\/","https:\/\/www.instagram.com\/fkgugm\/?igshid=MTNiYzNiMzkwZA","https:\/\/www.youtube.com\/@ugmfkg2266"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#\/schema\/person\/57ad8e6d60b6af7c1d8bc07a2c12cd1d","name":"achmadzamzamaghasy","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/703457fd59defa6504a99ae1c5e493d7e564bb3bac4c47b8ce9215cbfb298e36?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/703457fd59defa6504a99ae1c5e493d7e564bb3bac4c47b8ce9215cbfb298e36?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/703457fd59defa6504a99ae1c5e493d7e564bb3bac4c47b8ce9215cbfb298e36?s=96&d=mm&r=g","caption":"achmadzamzamaghasy"},"url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/author\/achmadzamzamaghasy\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21000","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/615"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21000"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21000\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":21024,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21000\/revisions\/21024"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21008"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21000"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21000"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21000"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}