{"id":20632,"date":"2026-07-17T12:01:32","date_gmt":"2026-07-17T05:01:32","guid":{"rendered":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/?p=20632"},"modified":"2026-07-17T12:01:34","modified_gmt":"2026-07-17T05:01:34","slug":"kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\/","title":{"rendered":"Kulit Udang Mampu Kalahkan Klorheksidin dalam Membunuh Bakteri di Saluran Akar Gigi!"},"content":{"rendered":"<p>Bakteri <em>Enterococcus faecalis<\/em>\u00a0sudah lama menjadi momok dalam perawatan saluran akar. Bakteri ini licin: ia bisa menembus jauh ke dalam tubulus dentin, membentuk lapisan pelindung yang disebut biofilm, dan bertahan dari bahan-bahan antiseptik konvensional, termasuk kalsium hidroksida, obat saluran akar yang paling sering digunakan dokter gigi di seluruh dunia. Kini, sebuah studi laboratorium dari Departemen Ilmu Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menemukan bahwa nanopartikel kitosan bahan yang diturunkan dari cangkang udang dan kepiting mampu melampaui efektivitas klorheksidin maupun gliserin sebagai pelarut kalsium hidroksida dalam membunuh bakteri tersebut, sekaligus melepaskan ion kalsium dan meningkatkan pH lebih tinggi. Penelitian ini dipublikasikan di <em>Journal of Conservative Dentistry<\/em>\u00a0pada September-Oktober 2022, dengan Prof. drg. Diatri Nari Ratih, M.Kes., Ph.D., Sp.KG(K), bersama Dr. drg. Ema Mulyawati, M.S., Sp.KG(K) dan drg. Henytaria Fajrianti, Sp.KG. <\/p>\n\n\n\n<p>Perawatan saluran akar atau yang sering disebut awam sebagai perawatan syaraf gigi bukan sekadar prosedur membersihkan isi gigi yang terinfeksi. Ini adalah upaya sterilisasi yang presisi. Dokter gigi harus memastikan seluruh bakteri di dalam saluran akar benar-benar musnah sebelum saluran itu ditutup permanen.<\/p>\n\n\n\n<p>Masalahnya, anatomi saluran akar tidak sesederhana tabung lurus. Ada percabangan, ada celah-celah sempit yang susah dijangkau instrumen mekanis. Di situlah bakteri bersembunyi dan berkembang biak. Meski prosedur pembersihan mekanis mampu mengurangi populasi bakteri secara signifikan, sisa-sisa koloni yang tertinggal bisa menyebabkan kegagalan perawatan, infeksi kambuh, abses, atau bahkan kehilangan gigi.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk mengatasi hal ini, dokter gigi menggunakan <em>intracanal medicament<\/em>: obat yang dimasukkan ke dalam saluran akar di antara dua sesi kunjungan, dibiarkan bekerja selama satu hingga dua minggu. Kalsium hidroksida adalah pilihan utama yang sudah digunakan selama puluhan tahun. Ia bekerja dengan cara terurai menjadi ion kalsium dan ion hidroksil, menciptakan lingkungan basa (pH tinggi) yang mematikan bagi bakteri. Namun ada satu kelemahan krusial, kalsium hidroksida saja tidak cukup efektif melawan <em>E. faecalis<\/em>. Bakteri ini memiliki kemampuan bertahan di pH tinggi sekalipun.<\/p>\n\n\n\n<p>Kalsium hidroksida dalam praktik klinis tidak digunakan dalam bentuk murni yang kering. Ia harus dicampur dengan pelarut, yang dalam istilah ilmiahnya disebut <em>vehicle<\/em>\u00a0agar bisa membentuk pasta yang bisa diaplikasikan ke dalam saluran akar menggunakan instrumen khusus bernama <em>lentulo spiral<\/em>. Pelarut ini bukan sekadar pengencer. Ia menentukan seberapa cepat kalsium hidroksida terurai, seberapa banyak ion yang dilepaskan, dan seberapa efektif obat itu membunuh bakteri. Selama ini, ada dua pelarut yang umum dipakai, gliserin dan klorheksidin glukonat (CHX).<\/p>\n\n\n\n<p>Gliserin mudah digunakan karena konsistensinya yang kental memudahkan aplikasi ke saluran akar. Tapi justru kekentalan itulah kelemahannya. Ion kalsium dan hidroksil dilepaskan sangat lambat, sehingga efek antibakterinya pun lemah, terutama terhadap <em>E. faecalis<\/em>. CHX lebih unggul dalam hal daya bunuh bakteri. Molekul kationiknya menempel pada dinding sel bakteri yang bermuatan negatif, lalu merusaknya dari dalam. Tapi sebagai pelarut, CHX punya masalah tersendiri: pasta kalsium hidroksida-CHX sulit didistribusikan secara merata di seluruh saluran akar, sehingga efektivitasnya tidak konsisten.<\/p>\n\n\n\n<p>Kitosan bukan bahan baru. Ia sudah dikenal dalam penelitian biomedis sebagai polimer alami yang diperoleh dari proses deasetilasi kitin, komponen utama cangkang krustasea seperti udang, kepiting, dan lobster. Dalam kedokteran gigi, kitosan telah diteliti untuk berbagai aplikasi, mulai dari bahan irigasi saluran akar hingga agen remineralisasi dentin. Yang membuat nanopartikel kitosan menarik adalah ukurannya yang sangat kecil. Karena lebih kecil, luas permukaannya per satuan massa jauh lebih besar dibanding kitosan biasa. Ini berarti lebih banyak titik kontak dengan permukaan sel bakteri, dan karenanya, daya bunuh yang lebih tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p>Mekanisme kerjanya pun unik. Kitosan bermuatan positif, sementara permukaan sel bakteri bermuatan negatif. Keduanya saling tarik seperti magnet. Begitu kitosan menempel pada membran sel bakteri, ia mengubah permeabilitas membran tersebut, komponen penting di dalam sel bocor keluar, dan bakteri pun mati. Ada juga mekanisme kedua: kitosan memicu produksi radikal bebas berupa <em>reactive oxygen species<\/em>\u00a0yang merusak protein dan DNA bakteri. Selain itu, kitosan bersifat aqueous (berbasis air), yang berarti ia memungkinkan pelepasan ion hidroksil yang lebih cepat dan efisien dibanding gliserin yang berbasis viskos.<\/p>\n\n\n\n<p>Perancangan studi eksperimental pun dilaukan laboratorium untuk membandingkan ketiga pelarut ini secara sistematis. Adapun tiga hal yang diujikan: efektivitas antibakteri terhadap <em>E. faecalis<\/em>, pelepasan ion kalsium, dan perubahan pH. Semuanya diukur pada dua titik waktu, yakni 7 hari dan 14 hari.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk uji antibakteri, metode difusi agar digunakan. Bakteri <em>E. faecalis<\/em>&nbsp;ATCC 29212 ditanam pada media agar, lalu sumuran berdiameter 6 mm dibuat dan diisi dengan masing-masing pasta kalsium hidroksida. Setelah inkubasi 24 jam, zona hambat (area bening di sekitar sumuran yang menandakan bakteri mati) diukur dengan kaliper geser.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk uji ion kalsium dan pH, digunakan 24 gigi premolar berakar tunggal yang sudah dipreparasi salurannya. Setiap gigi direndam sepertiga apeksnya dalam air suling, lalu disimpan di inkubator. Cairan rendaman diambil secara berkala untuk dianalisis menggunakan spektrometri serapan atom (untuk ion kalsium) dan pH meter.<\/p>\n\n\n\n<p>Hail dari tiga pengujian tersebut menunjukkan bahwa nanopartikel kitosan unggul di semua parameter. Zona hambat bakteri pada kelompok kitosan lebih besar dibanding gliserin secara signifikan (P &lt; 0,05), meski perbedaannya dengan CHX tidak mencapai signifikansi statistik. Untuk pelepasan ion kalsium dan pH, kitosan unggul atas keduanya, baik gliserin maupun CHX, aada kedua titik waktu (P &lt; 0,05). Yang lebih menarik, pH pada kelompok kitosan terus meningkat dari hari ke-7 menuju hari ke-14, menunjukkan bahwa kitosan mampu mempertahankan pelepasan ion hidroksil secara berkelanjutan dalam jangka panjang.<\/p>\n\n\n\n<p>Temuan ini punya makna praktis yang cukup besar. Selama ini, dokter gigi yang ingin memaksimalkan efek antibakteri sering mencampur kalsium hidroksida dengan CHX, kombinasi yang memang efektif, tapi punya kelemahan distribusi yang tidak merata. Nanopartikel kitosan menawarkan alternatif yang menjanjikan: distribusi lebih baik dari CHX (karena konsistensinya lebih mudah dikerjakan), daya bunuh bakteri yang setara atau lebih tinggi, sekaligus pelepasan ion kalsium yang lebih besar.<\/p>\n\n\n\n<p>Ion kalsium sendiri bukan sekadar penanda keberhasilan kerja obat. Ia berperan aktif dalam proses penyembuhan, mengaktifkan mineralisasi matriks ekstraseluler, mendukung perbaikan jaringan di daerah periapikal, bahkan mengaktifkan adenosine triphosphate (ATP) yang berperan penting dalam mineralisasi jaringan keras.<\/p>\n\n\n\n<p>Kitosan juga memiliki sifat kelasi terhadap ion kalsium, ia bisa mengikat ion kalsium pada permukaannya, sehingga pelepasannya berlangsung lebih terkontrol dan stabil. Ini menjadikannya kandidat menarik untuk kasus-kasus yang membutuhkan obat saluran akar jangka panjang.<\/p>\n\n\n\n<p>Tentu, penelitian ini masih berskala laboratorium. Uji klinis pada pasien nyata masih diperlukan sebelum nanopartikel kitosan bisa direkomendasikan sebagai standar klinis baru. Namun sebagai bukti awal, hasilnya cukup kuat untuk mendorong penelitian lanjutan, baik dari sisi formulasi, keamanan biologis, maupun efektivitas pada kondisi saluran akar yang lebih kompleks.<\/p>\n\n\n\n<p>Penulis : drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes., Annisa Dwi Noviyanti<\/p>\n\n\n\n<p>Foto : FreePik<\/p>\n\n\n\n<p>Sumber DOI : <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.4103\/jcd.jcd_242_22\">https:\/\/doi.org\/10.4103\/jcd.jcd_242_22<\/a><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bakteri Enterococcus faecalis\u00a0sudah lama menjadi momok dalam perawatan saluran akar. Bakteri ini licin: ia bisa menembus jauh ke dalam tubulus dentin, membentuk lapisan pelindung yang disebut biofilm, dan bertahan dari bahan-bahan antiseptik konvensional, termasuk kalsium hidroksida, obat saluran akar yang paling sering digunakan dokter gigi di seluruh dunia. Kini, sebuah studi laboratorium dari Departemen Ilmu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":615,"featured_media":20636,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[359,136],"tags":[302,307,289,291,297],"class_list":["post-20632","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-berita-terbaru","tag-sdg-12-konsumsi-dan-produksi-yang-bertanggung-jawab","tag-sdg-17-kemitraan-untuk-mencapai-tujuan","tag-sdg-3-kesehatan-dan-kesejahteraan-yang-baik","tag-sdg-4-pendidikan-berkualitas","tag-sdg-9-industri-inovasi-dan-infrastruktur"],"gutentor_comment":0,"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.8 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Kulit Udang Mampu Kalahkan Klorheksidin dalam Membunuh Bakteri di Saluran Akar Gigi! - Fakultas Kedokteran Gigi<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kulit Udang Mampu Kalahkan Klorheksidin dalam Membunuh Bakteri di Saluran Akar Gigi! - Fakultas Kedokteran Gigi\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Bakteri Enterococcus faecalis\u00a0sudah lama menjadi momok dalam perawatan saluran akar. Bakteri ini licin: ia bisa menembus jauh ke dalam tubulus dentin, membentuk lapisan pelindung yang disebut biofilm, dan bertahan dari bahan-bahan antiseptik konvensional, termasuk kalsium hidroksida, obat saluran akar yang paling sering digunakan dokter gigi di seluruh dunia. Kini, sebuah studi laboratorium dari Departemen Ilmu [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Fakultas Kedokteran Gigi\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/p\/Fakultas-Kedokteran-Gigi-UGM-100075927681679\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-17T05:01:32+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-07-17T05:01:34+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/07\/am-fl-3cjbDO3QJJo-unsplash-scaled-e1784264473735.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1709\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"achmadzamzamaghasy\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"achmadzamzamaghasy\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"achmadzamzamaghasy\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/57ad8e6d60b6af7c1d8bc07a2c12cd1d\"},\"headline\":\"Kulit Udang Mampu Kalahkan Klorheksidin dalam Membunuh Bakteri di Saluran Akar Gigi!\",\"datePublished\":\"2026-07-17T05:01:32+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-17T05:01:34+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\\\/\"},\"wordCount\":1070,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2026\\\/07\\\/am-fl-3cjbDO3QJJo-unsplash-scaled-e1784264473735.jpg\",\"keywords\":[\"SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab\",\"SDG 17: Kemitraan untuk mencapai Tujuan\",\"SDG 3: Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik\",\"SDG 4: Pendidikan Berkualitas\",\"SDG 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur\"],\"articleSection\":[\"Artikel\",\"Berita Terbaru\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\\\/\",\"name\":\"Kulit Udang Mampu Kalahkan Klorheksidin dalam Membunuh Bakteri di Saluran Akar Gigi! - Fakultas Kedokteran Gigi\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2026\\\/07\\\/am-fl-3cjbDO3QJJo-unsplash-scaled-e1784264473735.jpg\",\"datePublished\":\"2026-07-17T05:01:32+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-17T05:01:34+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2026\\\/07\\\/am-fl-3cjbDO3QJJo-unsplash-scaled-e1784264473735.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2026\\\/07\\\/am-fl-3cjbDO3QJJo-unsplash-scaled-e1784264473735.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1709},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Kulit Udang Mampu Kalahkan Klorheksidin dalam Membunuh Bakteri di Saluran Akar Gigi!\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/\",\"name\":\"Fakultas Kedokteran Gigi\",\"description\":\"Universitas Gadjah Mada\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"Fakultas Kedokteran Gigi\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2024\\\/05\\\/Group.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2024\\\/05\\\/Group.png\",\"width\":248,\"height\":257,\"caption\":\"Fakultas Kedokteran Gigi\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/p\\\/Fakultas-Kedokteran-Gigi-UGM-100075927681679\\\/\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/fkgugm\\\/?igshid=MTNiYzNiMzkwZA\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/@ugmfkg2266\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/57ad8e6d60b6af7c1d8bc07a2c12cd1d\",\"name\":\"achmadzamzamaghasy\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/703457fd59defa6504a99ae1c5e493d7e564bb3bac4c47b8ce9215cbfb298e36?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/703457fd59defa6504a99ae1c5e493d7e564bb3bac4c47b8ce9215cbfb298e36?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/703457fd59defa6504a99ae1c5e493d7e564bb3bac4c47b8ce9215cbfb298e36?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"achmadzamzamaghasy\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/en\\\/author\\\/achmadzamzamaghasy\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kulit Udang Mampu Kalahkan Klorheksidin dalam Membunuh Bakteri di Saluran Akar Gigi! - Fakultas Kedokteran Gigi","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Kulit Udang Mampu Kalahkan Klorheksidin dalam Membunuh Bakteri di Saluran Akar Gigi! - Fakultas Kedokteran Gigi","og_description":"Bakteri Enterococcus faecalis\u00a0sudah lama menjadi momok dalam perawatan saluran akar. Bakteri ini licin: ia bisa menembus jauh ke dalam tubulus dentin, membentuk lapisan pelindung yang disebut biofilm, dan bertahan dari bahan-bahan antiseptik konvensional, termasuk kalsium hidroksida, obat saluran akar yang paling sering digunakan dokter gigi di seluruh dunia. Kini, sebuah studi laboratorium dari Departemen Ilmu [&hellip;]","og_url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\/","og_site_name":"Fakultas Kedokteran Gigi","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/p\/Fakultas-Kedokteran-Gigi-UGM-100075927681679\/","article_published_time":"2026-07-17T05:01:32+00:00","article_modified_time":"2026-07-17T05:01:34+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1709,"url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/07\/am-fl-3cjbDO3QJJo-unsplash-scaled-e1784264473735.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"achmadzamzamaghasy","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"achmadzamzamaghasy","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\/"},"author":{"name":"achmadzamzamaghasy","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#\/schema\/person\/57ad8e6d60b6af7c1d8bc07a2c12cd1d"},"headline":"Kulit Udang Mampu Kalahkan Klorheksidin dalam Membunuh Bakteri di Saluran Akar Gigi!","datePublished":"2026-07-17T05:01:32+00:00","dateModified":"2026-07-17T05:01:34+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\/"},"wordCount":1070,"publisher":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/07\/am-fl-3cjbDO3QJJo-unsplash-scaled-e1784264473735.jpg","keywords":["SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab","SDG 17: Kemitraan untuk mencapai Tujuan","SDG 3: Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik","SDG 4: Pendidikan Berkualitas","SDG 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur"],"articleSection":["Artikel","Berita Terbaru"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\/","url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\/","name":"Kulit Udang Mampu Kalahkan Klorheksidin dalam Membunuh Bakteri di Saluran Akar Gigi! - Fakultas Kedokteran Gigi","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/07\/am-fl-3cjbDO3QJJo-unsplash-scaled-e1784264473735.jpg","datePublished":"2026-07-17T05:01:32+00:00","dateModified":"2026-07-17T05:01:34+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\/#primaryimage","url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/07\/am-fl-3cjbDO3QJJo-unsplash-scaled-e1784264473735.jpg","contentUrl":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/07\/am-fl-3cjbDO3QJJo-unsplash-scaled-e1784264473735.jpg","width":2560,"height":1709},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/kulit-udang-mampu-kalahkan-klorheksidin-dalam-membunuh-bakteri-di-saluran-akar-gigi\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Kulit Udang Mampu Kalahkan Klorheksidin dalam Membunuh Bakteri di Saluran Akar Gigi!"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#website","url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/","name":"Faculty of Dentistry","description":"Universitas Gadjah Mada","publisher":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#organization","name":"Faculty of Dentistry","url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2024\/05\/Group.png","contentUrl":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2024\/05\/Group.png","width":248,"height":257,"caption":"Fakultas Kedokteran Gigi"},"image":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/p\/Fakultas-Kedokteran-Gigi-UGM-100075927681679\/","https:\/\/www.instagram.com\/fkgugm\/?igshid=MTNiYzNiMzkwZA","https:\/\/www.youtube.com\/@ugmfkg2266"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#\/schema\/person\/57ad8e6d60b6af7c1d8bc07a2c12cd1d","name":"achmadzamzamaghasy","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/703457fd59defa6504a99ae1c5e493d7e564bb3bac4c47b8ce9215cbfb298e36?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/703457fd59defa6504a99ae1c5e493d7e564bb3bac4c47b8ce9215cbfb298e36?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/703457fd59defa6504a99ae1c5e493d7e564bb3bac4c47b8ce9215cbfb298e36?s=96&d=mm&r=g","caption":"achmadzamzamaghasy"},"url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/author\/achmadzamzamaghasy\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20632","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/615"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20632"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20632\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":20637,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20632\/revisions\/20637"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/20636"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20632"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20632"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20632"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}