{"id":20345,"date":"2026-07-16T10:41:02","date_gmt":"2026-07-16T03:41:02","guid":{"rendered":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/?p=20345"},"modified":"2026-07-16T10:41:03","modified_gmt":"2026-07-16T03:41:03","slug":"sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\/","title":{"rendered":"Sirih Merah di Laboratorium: Rahasia Tanaman Tradisional Melumpuhkan Bakteri Plak Gigi"},"content":{"rendered":"<p><strong>Angka itu terasa mengejutkan. Bakteri plak gigi yang tidak mendapat perlakuan apa pun memiliki hidrofobisitas permukaan sel nyaris sempurna: 99,97 persen. Artinya, bakteri-bakteri itu sangat &#8220;licin&#8221; dan mudah menempel pada permukaan gigi. Namun setelah dipapar rebusan daun sirih merah konsentrasi 10%, angka tersebut anjlok menjadi hanya 54,33 persen. Penurunan hampir separuhnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Itulah temuan yang dipublikasikan Prof. drg. Tetiana Haniastuti, M.Kes., Ph.D., dari Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, dalam jurnal <em>dentika Dental Journal<\/em> edisi 2016. Penelitian yang dilaksanakan di Laboratorium Riset Terpadu FKG UGM ini menjawab pertanyaan mendasar: mengapa berkumur dengan rebusan daun sirih merah bisa mengurangi jumlah bakteri plak di dalam mulut?<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Mengapa Bakteri Plak Begitu Mudah &#8220;Nempel&#8221;?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Plak gigi bukan sekadar kotoran biasa. Ia adalah lapisan lunak kompleks yang mengandung bakteri, produk metabolisme bakteri, matriks ekstraseluler, dan air. Lebih dari itu, plak adalah faktor utama pemicu karies dan penyakit periodontal, dua masalah kesehatan gigi paling umum di dunia.<\/p>\n\n\n\n<p>Proses terbentuknya plak dimulai dari kemampuan bakteri untuk melekat pada permukaan gigi yang sudah dilapisi <em>acquired pellicle<\/em>, lapisan protein tipis dari air liur. Bakteri seperti <em>Streptococcus mutans<\/em>, <em>S. sanguinis<\/em>, <em>S. mitis<\/em>, and <em>Actinomyces viscosus<\/em> merupakan koloni pertama yang berhasil menempel. Rahasia kemampuan melekat mereka terletak pada sifat permukaan sel yang bersifat hidrofobik: semakin hidrofobik sebuah sel bakteri, semakin kuat ia &#8220;bergayut&#8221; pada permukaan gigi.<\/p>\n\n\n\n<p>Inilah titik kritis yang menjadi fokus penelitian Prof. Tetiana. Jika sifat hidrofobik permukaan sel bakteri bisa diturunkan, maka kemampuan bakteri untuk melekat dan membentuk koloni plak pun akan melemah.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Dari Dapur ke Laboratorium<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Sirih merah (<em>Piper crocatum<\/em>) bukan tanaman asing bagi masyarakat Indonesia. Secara turun-temurun, rebusan daunnya dipakai untuk mengatasi gusi berdarah, sariawan, bau mulut, hingga radang tenggorokan. Yang belum banyak dipahami adalah mekanisme ilmiah di balik khasiat tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam penelitian ini, rebusan dibuat dengan cara sederhana: 10 gram daun sirih merah direbus dalam 200 ml akuades hingga mendidih dan air tersisa 100 ml, menghasilkan konsentrasi 10 persen. Bakteri plak diambil dari permukaan bukal gigi molar pertama atas seorang sukarelawan sehat menggunakan ekskavator, kemudian diinkubasi selama 24 jam.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk mengukur hidrofobisitas, digunakan metode <em>microbial adhesion to hydrocarbon<\/em> (MATH), yaitu metode baku yang mengukur kemampuan bakteri melekat pada permukaan hidrokarbon. Dalam hal ini, <em>n-hexadecane<\/em> digunakan sebagai representasi permukaan hidrofobik gigi. Suspensi bakteri dicampur dengan rebusan sirih merah atau akuades sebagai kontrol, kemudian absorbansinya diukur pada panjang gelombang 550 nm. Seluruh perlakuan diulang sebanyak 15 kali untuk memastikan keandalan data.<\/p>\n\n\n\n<p>Hasilnya konsisten dan signifikan secara statistik. Uji <em>independent T-test<\/em> membuktikan perbedaan yang nyata antara kelompok perlakuan dan kontrol (p&lt;0,05).<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Tiga Senyawa, Satu Mekanisme Serangan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Lalu, bagaimana persisnya sirih merah bekerja melawan bakteri?<\/p>\n\n\n\n<p>Daun sirih merah mengandung flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, dan minyak atsiri. Ketiganya yang pertama disebut adalah bintang dalam penelitian ini. Flavonoid dan tanin, keduanya turunan fenol, mampu berinteraksi langsung dengan protein, enzim, dan lipid pada membran sel bakteri. Interaksi ini mengubah permeabilitas membran sel, memicu lepasnya proton, ion, dan makromolekul dari dalam sel. Akibatnya, struktur permukaan sel berubah dan hidrofobisitasnya turun.<\/p>\n\n\n\n<p>Saponin berperan berbeda namun sama efektifnya. Senyawa ini bekerja sebagai agen <em>surfactant<\/em> yang kuat: menurunkan tegangan permukaan antar sel. Begitu saponin terserap pada permukaan sel bakteri, permeabilitas membran meningkat, protein dan enzim esensial bocor keluar, dan hidrofobisitas sel pun merosot.<\/p>\n\n\n\n<p><em>&#8220;Menurunnya hidrofobisitas permukaan sel bakteri plak setelah paparan rebusan daun sirih merah 10% menunjukkan bahwa zat aktif yang terkandung dalam rebusan daun sirih merah, yaitu flavonoid, tanin, dan saponin, dapat mempengaruhi struktur permukaan sel.&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Temuan ini juga menjelaskan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa berkumur dengan rebusan daun sirih merah konsentrasi 10% dapat menurunkan jumlah bakteri plak secara klinis. Kini ada landasan mekanistik yang memperkuat observasi tersebut.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Potensi yang Menunggu Dikembangkan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Penelitian Prof. Tetiana membuka cakrawala yang menarik. Di satu sisi, ia memvalidasi kearifan lokal yang telah dipraktikkan selama generasi. Di sisi lain, ia memberi dasar ilmiah yang kuat untuk pengembangan produk obat kumur berbasis bahan alam yang lebih terjangkau dan mudah diakses masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n<p>Pertanyaan yang tersisa tentu masih banyak: bagaimana efektivitasnya pada uji klinis yang lebih besar? Apakah konsentrasi yang berbeda menghasilkan efek yang lebih optimal? Apakah formulasi yang lebih stabil bisa dikembangkan dari ekstrak ini?<\/p>\n\n\n\n<p>Sebuah tanaman yang tumbuh di pekarangan rumah, ternyata menyimpan mekanisme yang cukup canggih untuk melawan salah satu masalah kesehatan mulut paling umum di dunia. Riset seperti ini mengingatkan bahwa jawaban atas banyak persoalan kesehatan kadang sudah ada, jauh sebelum kita menyadarinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sumber DOI : <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.32734\/dentika.v19i1.146\">https:\/\/doi.org\/10.32734\/dentika.v19i1.146<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.<\/p>\n\n\n\n<p>Foto : Pexels <\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Angka itu terasa mengejutkan. Bakteri plak gigi yang tidak mendapat perlakuan apa pun memiliki hidrofobisitas permukaan sel nyaris sempurna: 99,97 persen. Artinya, bakteri-bakteri itu sangat &#8220;licin&#8221; dan mudah menempel pada permukaan gigi. Namun setelah dipapar rebusan daun sirih merah konsentrasi 10%, angka tersebut anjlok menjadi hanya 54,33 persen. Penurunan hampir separuhnya. Itulah temuan yang dipublikasikan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":615,"featured_media":20346,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[359,136],"tags":[298,302,305,289,297],"class_list":["post-20345","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-berita-terbaru","tag-sdg-10-mengurangi-ketidaksetaraan","tag-sdg-12-konsumsi-dan-produksi-yang-bertanggung-jawab","tag-sdg-15-kehidupan-di-darat","tag-sdg-3-kesehatan-dan-kesejahteraan-yang-baik","tag-sdg-9-industri-inovasi-dan-infrastruktur"],"gutentor_comment":0,"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.8 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Sirih Merah di Laboratorium: Rahasia Tanaman Tradisional Melumpuhkan Bakteri Plak Gigi - Fakultas Kedokteran Gigi<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Sirih Merah di Laboratorium: Rahasia Tanaman Tradisional Melumpuhkan Bakteri Plak Gigi - Fakultas Kedokteran Gigi\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Angka itu terasa mengejutkan. Bakteri plak gigi yang tidak mendapat perlakuan apa pun memiliki hidrofobisitas permukaan sel nyaris sempurna: 99,97 persen. Artinya, bakteri-bakteri itu sangat &#8220;licin&#8221; dan mudah menempel pada permukaan gigi. Namun setelah dipapar rebusan daun sirih merah konsentrasi 10%, angka tersebut anjlok menjadi hanya 54,33 persen. Penurunan hampir separuhnya. Itulah temuan yang dipublikasikan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Fakultas Kedokteran Gigi\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/p\/Fakultas-Kedokteran-Gigi-UGM-100075927681679\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-16T03:41:02+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-07-16T03:41:03+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/07\/pexels-ltfkxx99-5851790-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1707\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"achmadzamzamaghasy\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"achmadzamzamaghasy\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"achmadzamzamaghasy\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/57ad8e6d60b6af7c1d8bc07a2c12cd1d\"},\"headline\":\"Sirih Merah di Laboratorium: Rahasia Tanaman Tradisional Melumpuhkan Bakteri Plak Gigi\",\"datePublished\":\"2026-07-16T03:41:02+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-16T03:41:03+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\\\/\"},\"wordCount\":738,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2026\\\/07\\\/pexels-ltfkxx99-5851790-scaled.jpg\",\"keywords\":[\"SDG 10: Mengurangi Ketidaksetaraan\",\"SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab\",\"SDG 15: Kehidupan di Darat\",\"SDG 3: Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik\",\"SDG 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur\"],\"articleSection\":[\"Artikel\",\"Berita Terbaru\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\\\/\",\"name\":\"Sirih Merah di Laboratorium: Rahasia Tanaman Tradisional Melumpuhkan Bakteri Plak Gigi - Fakultas Kedokteran Gigi\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2026\\\/07\\\/pexels-ltfkxx99-5851790-scaled.jpg\",\"datePublished\":\"2026-07-16T03:41:02+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-16T03:41:03+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2026\\\/07\\\/pexels-ltfkxx99-5851790-scaled.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2026\\\/07\\\/pexels-ltfkxx99-5851790-scaled.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1707},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sirih Merah di Laboratorium: Rahasia Tanaman Tradisional Melumpuhkan Bakteri Plak Gigi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/\",\"name\":\"Fakultas Kedokteran Gigi\",\"description\":\"Universitas Gadjah Mada\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"Fakultas Kedokteran Gigi\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2024\\\/05\\\/Group.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2024\\\/05\\\/Group.png\",\"width\":248,\"height\":257,\"caption\":\"Fakultas Kedokteran Gigi\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/p\\\/Fakultas-Kedokteran-Gigi-UGM-100075927681679\\\/\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/fkgugm\\\/?igshid=MTNiYzNiMzkwZA\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/@ugmfkg2266\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/57ad8e6d60b6af7c1d8bc07a2c12cd1d\",\"name\":\"achmadzamzamaghasy\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/703457fd59defa6504a99ae1c5e493d7e564bb3bac4c47b8ce9215cbfb298e36?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/703457fd59defa6504a99ae1c5e493d7e564bb3bac4c47b8ce9215cbfb298e36?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/703457fd59defa6504a99ae1c5e493d7e564bb3bac4c47b8ce9215cbfb298e36?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"achmadzamzamaghasy\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/en\\\/author\\\/achmadzamzamaghasy\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Sirih Merah di Laboratorium: Rahasia Tanaman Tradisional Melumpuhkan Bakteri Plak Gigi - Fakultas Kedokteran Gigi","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Sirih Merah di Laboratorium: Rahasia Tanaman Tradisional Melumpuhkan Bakteri Plak Gigi - Fakultas Kedokteran Gigi","og_description":"Angka itu terasa mengejutkan. Bakteri plak gigi yang tidak mendapat perlakuan apa pun memiliki hidrofobisitas permukaan sel nyaris sempurna: 99,97 persen. Artinya, bakteri-bakteri itu sangat &#8220;licin&#8221; dan mudah menempel pada permukaan gigi. Namun setelah dipapar rebusan daun sirih merah konsentrasi 10%, angka tersebut anjlok menjadi hanya 54,33 persen. Penurunan hampir separuhnya. Itulah temuan yang dipublikasikan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\/","og_site_name":"Fakultas Kedokteran Gigi","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/p\/Fakultas-Kedokteran-Gigi-UGM-100075927681679\/","article_published_time":"2026-07-16T03:41:02+00:00","article_modified_time":"2026-07-16T03:41:03+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1707,"url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/07\/pexels-ltfkxx99-5851790-scaled.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"achmadzamzamaghasy","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"achmadzamzamaghasy","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\/"},"author":{"name":"achmadzamzamaghasy","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#\/schema\/person\/57ad8e6d60b6af7c1d8bc07a2c12cd1d"},"headline":"Sirih Merah di Laboratorium: Rahasia Tanaman Tradisional Melumpuhkan Bakteri Plak Gigi","datePublished":"2026-07-16T03:41:02+00:00","dateModified":"2026-07-16T03:41:03+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\/"},"wordCount":738,"publisher":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/07\/pexels-ltfkxx99-5851790-scaled.jpg","keywords":["SDG 10: Mengurangi Ketidaksetaraan","SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab","SDG 15: Kehidupan di Darat","SDG 3: Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik","SDG 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur"],"articleSection":["Artikel","Berita Terbaru"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\/","url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\/","name":"Sirih Merah di Laboratorium: Rahasia Tanaman Tradisional Melumpuhkan Bakteri Plak Gigi - Fakultas Kedokteran Gigi","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/07\/pexels-ltfkxx99-5851790-scaled.jpg","datePublished":"2026-07-16T03:41:02+00:00","dateModified":"2026-07-16T03:41:03+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\/#primaryimage","url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/07\/pexels-ltfkxx99-5851790-scaled.jpg","contentUrl":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/07\/pexels-ltfkxx99-5851790-scaled.jpg","width":2560,"height":1707},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/sirih-merah-di-laboratorium-rahasia-tanaman-tradisional-melumpuhkan-bakteri-plak-gigi\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Sirih Merah di Laboratorium: Rahasia Tanaman Tradisional Melumpuhkan Bakteri Plak Gigi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#website","url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/","name":"Faculty of Dentistry","description":"Universitas Gadjah Mada","publisher":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#organization","name":"Faculty of Dentistry","url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2024\/05\/Group.png","contentUrl":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2024\/05\/Group.png","width":248,"height":257,"caption":"Fakultas Kedokteran Gigi"},"image":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/p\/Fakultas-Kedokteran-Gigi-UGM-100075927681679\/","https:\/\/www.instagram.com\/fkgugm\/?igshid=MTNiYzNiMzkwZA","https:\/\/www.youtube.com\/@ugmfkg2266"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#\/schema\/person\/57ad8e6d60b6af7c1d8bc07a2c12cd1d","name":"achmadzamzamaghasy","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/703457fd59defa6504a99ae1c5e493d7e564bb3bac4c47b8ce9215cbfb298e36?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/703457fd59defa6504a99ae1c5e493d7e564bb3bac4c47b8ce9215cbfb298e36?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/703457fd59defa6504a99ae1c5e493d7e564bb3bac4c47b8ce9215cbfb298e36?s=96&d=mm&r=g","caption":"achmadzamzamaghasy"},"url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/author\/achmadzamzamaghasy\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20345","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/615"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20345"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20345\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":20347,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20345\/revisions\/20347"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/20346"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20345"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20345"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20345"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}