{"id":18017,"date":"2026-04-21T02:45:00","date_gmt":"2026-04-20T19:45:00","guid":{"rendered":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/?p=18017"},"modified":"2026-04-23T14:48:15","modified_gmt":"2026-04-23T07:48:15","slug":"meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\/","title":{"rendered":"Meninjau Kembali Perawatan Pasca Cabut Gigi, Menuju Pengurangan Penggunaan Antibiotik dalam Kedokteran Gigi"},"content":{"rendered":"<p>Praktik pemberian antibiotik secara rutin setelah pencabutan gigi mulai dipertanyakan. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa manfaat antibiotik dalam mencegah komplikasi pasca-ekstraksi tidak sebanding dengan risiko jangka panjang berupa resistensi antibiotik. Gagasan ini mengemuka dalam forum ilmiah bertajuk <em>\u201cRethinking Post-Extraction Care: Toward Antibiotic-Sparing Protocols in Dentistry\u201d<\/em>, dibawakan oleh drg. Muhammad Reza Pahlevi, Ph.D yang menyoroti perlunya perubahan paradigma dalam praktik kedokteran gigi modern.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"752\" height=\"390\" data-id=\"18020\" src=\"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/04\/image-85.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-18020\" srcset=\"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/04\/image-85.jpeg 752w, https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/04\/image-85-300x156.jpeg 300w, https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/04\/image-85-18x9.jpeg 18w\" sizes=\"(max-width: 752px) 100vw, 752px\" \/><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Antara Risiko Infeksi dan Ancaman Resistensi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Selama ini, antibiotik kerap diresepkan sebagai langkah preventif pasca pencabutan gigi, terutama pada operasi molar ketiga (gigi bungsu). Padahal, bukti ilmiah menunjukkan tidak ada keuntungan signifikan dalam mempercepat penyembuhan luka atau mencegah komplikasi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBanyak dokter gigi masih meresepkan antibiotik bukan karena indikasi klinis yang kuat, tetapi karena kebiasaan dan kekhawatiran terhadap infeksi,\u201d ujar drg. Nandika Desta, peneliti klinis di bidang bedah mulut.<\/p>\n\n\n\n<p>Padahal, menurut berbagai studi (Choi et al., 2020; Lodi et al., 2021), infeksi pasca-ekstraksi bukanlah fenomena universal. Risiko komplikasi seperti alveolar osteitis (dry socket), nyeri, edema, dan trismus memang ada, tetapi tidak selalu membutuhkan intervensi sistemik berupa antibiotik.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih jauh, penggunaan antibiotik yang tidak tepat justru mempercepat munculnya resistensi bakteri, sebuah ancaman global yang kini menjadi perhatian serius dunia kesehatan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKetika antibiotik digunakan tanpa indikasi jelas, bakteri akan beradaptasi. Dari toleransi, mereka berkembang menjadi resisten. Ini bukan lagi isu individu, tapi krisis kesehatan masyarakat,\u201d tegas drg. Reza.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Bukti Baru: Antiseptik Lebih Efektif<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai alternatif, pendekatan berbasis antiseptic, khususnya penggunaan chlorhexidine (CHX) muncul sebagai solusi yang lebih aman dan efektif.<\/p>\n\n\n\n<p>Penelitian klinis menunjukkan bahwa kelompok pasien yang menggunakan chlorhexidine mengalami:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Penyembuhan luka lebih baik pada hari pertama dan ketujuh pasca operasi.<\/li>\n\n\n\n<li>Penurunan signifikan marker inflamasi seperti IL-6 dan CRP.<\/li>\n\n\n\n<li>Insiden alveolar osteitis lebih rendah dibanding kelompok control.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>\u201cChlorhexidine bekerja secara lokal, menekan beban bakteri tanpa memicu resistensi seperti antibiotik sistemik,\u201d jelas drg. Reza<\/p>\n\n\n\n<p>Temuan ini diperkuat oleh meta-analisis terbaru (Pahlevi et al., 2026) yang menunjukkan bahwa <em>chlorhexidine<\/em> efektif mencegah komplikasi pasca operasi bahkan tanpa penggunaan antibiotik.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tantangan di Lapangan: Kebiasaan dan Ekspektasi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Meski bukti ilmiah semakin kuat, implementasi pendekatan \u201ctanpa antibiotik\u201d masih menghadapi sejumlah kendala.<\/p>\n\n\n\n<p>Pertama, pedoman klinis nasional belum sepenuhnya mengadopsi strategi ini. Kedua, ekspektasi pasien yang masih menganggap antibiotik sebagai \u201cobat wajib\u201d pasca tindakan. Ketiga, faktor psikologis dokter yang khawatir terhadap potensi komplikasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Perubahan praktik klinis tidak cukup hanya dengan bukti. Dibutuhkan edukasi, baik kepada tenaga medis maupun pasien.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Menuju Paradigma Baru<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Para peneliti menekankan bahwa pemberian antibiotik harus berbasis pada penilaian risiko individual, bukan rutinitas.<\/p>\n\n\n\n<p>Rekomendasi utama yang disoroti meliputi:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Evaluasi faktor risiko sebelum meresepkan antibiotic.<\/li>\n\n\n\n<li>Mengutamakan intervensi lokal seperti antiseptic.<\/li>\n\n\n\n<li>Menghindari penggunaan antibiotik jika tidak ada indikasi jelas.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-2 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"746\" height=\"933\" data-id=\"18019\" src=\"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/04\/image-84.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-18019\" srcset=\"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/04\/image-84.jpeg 746w, https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/04\/image-84-240x300.jpeg 240w, https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/04\/image-84-10x12.jpeg 10w\" sizes=\"(max-width: 746px) 100vw, 746px\" \/><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<p>Perubahan paradigma dalam perawatan pasca pencabutan gigi menjadi keniscayaan di tengah ancaman resistensi antibiotik. Bukti ilmiah kini mengarah pada pendekatan yang lebih rasional, aman, dan berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika praktik lama bertumpu pada pencegahan dengan antibiotik, maka masa depan kedokteran gigi tampaknya akan bergerak menuju prinsip yang lebih presisi: berbasis bukti, minim intervensi sistemik, dan berfokus pada terapi lokal.<\/p>\n\n\n\n<p>(Reporter: Andri Wicaksono, S.Sos., M.I.Kom. Fotografi: Fajar Budi Harsakti, SE)<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Praktik pemberian antibiotik secara rutin setelah pencabutan gigi mulai dipertanyakan. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa manfaat antibiotik dalam mencegah komplikasi pasca-ekstraksi tidak sebanding dengan risiko jangka panjang berupa resistensi antibiotik. Gagasan ini mengemuka dalam forum ilmiah bertajuk \u201cRethinking Post-Extraction Care: Toward Antibiotic-Sparing Protocols in Dentistry\u201d, dibawakan oleh drg. Muhammad Reza Pahlevi, Ph.D yang menyoroti perlunya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":295,"featured_media":18018,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[136],"tags":[298,302,307,289,291,297],"class_list":["post-18017","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-terbaru","tag-sdg-10-mengurangi-ketidaksetaraan","tag-sdg-12-konsumsi-dan-produksi-yang-bertanggung-jawab","tag-sdg-17-kemitraan-untuk-mencapai-tujuan","tag-sdg-3-kesehatan-dan-kesejahteraan-yang-baik","tag-sdg-4-pendidikan-berkualitas","tag-sdg-9-industri-inovasi-dan-infrastruktur"],"gutentor_comment":0,"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Meninjau Kembali Perawatan Pasca Cabut Gigi, Menuju Pengurangan Penggunaan Antibiotik dalam Kedokteran Gigi - Fakultas Kedokteran Gigi<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Meninjau Kembali Perawatan Pasca Cabut Gigi, Menuju Pengurangan Penggunaan Antibiotik dalam Kedokteran Gigi - Fakultas Kedokteran Gigi\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Praktik pemberian antibiotik secara rutin setelah pencabutan gigi mulai dipertanyakan. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa manfaat antibiotik dalam mencegah komplikasi pasca-ekstraksi tidak sebanding dengan risiko jangka panjang berupa resistensi antibiotik. Gagasan ini mengemuka dalam forum ilmiah bertajuk \u201cRethinking Post-Extraction Care: Toward Antibiotic-Sparing Protocols in Dentistry\u201d, dibawakan oleh drg. Muhammad Reza Pahlevi, Ph.D yang menyoroti perlunya [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Fakultas Kedokteran Gigi\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/p\/Fakultas-Kedokteran-Gigi-UGM-100075927681679\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-04-20T19:45:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-04-23T07:48:15+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/04\/image-83.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"752\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"501\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"adi_nugh_fkg\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"adi_nugh_fkg\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"adi_nugh_fkg\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/e03085a240000312d66dd0a43f2ab44d\"},\"headline\":\"Meninjau Kembali Perawatan Pasca Cabut Gigi, Menuju Pengurangan Penggunaan Antibiotik dalam Kedokteran Gigi\",\"datePublished\":\"2026-04-20T19:45:00+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-23T07:48:15+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\\\/\"},\"wordCount\":502,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2026\\\/04\\\/image-83.jpeg\",\"keywords\":[\"SDG 10: Mengurangi Ketidaksetaraan\",\"SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab\",\"SDG 17: Kemitraan untuk mencapai Tujuan\",\"SDG 3: Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik\",\"SDG 4: Pendidikan Berkualitas\",\"SDG 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur\"],\"articleSection\":[\"Berita Terbaru\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\\\/\",\"name\":\"Meninjau Kembali Perawatan Pasca Cabut Gigi, Menuju Pengurangan Penggunaan Antibiotik dalam Kedokteran Gigi - Fakultas Kedokteran Gigi\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2026\\\/04\\\/image-83.jpeg\",\"datePublished\":\"2026-04-20T19:45:00+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-23T07:48:15+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2026\\\/04\\\/image-83.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2026\\\/04\\\/image-83.jpeg\",\"width\":752,\"height\":501},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Meninjau Kembali Perawatan Pasca Cabut Gigi, Menuju Pengurangan Penggunaan Antibiotik dalam Kedokteran Gigi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/\",\"name\":\"Fakultas Kedokteran Gigi\",\"description\":\"Universitas Gadjah Mada\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"Fakultas Kedokteran Gigi\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2024\\\/05\\\/Group.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/30\\\/2024\\\/05\\\/Group.png\",\"width\":248,\"height\":257,\"caption\":\"Fakultas Kedokteran Gigi\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/p\\\/Fakultas-Kedokteran-Gigi-UGM-100075927681679\\\/\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/fkgugm\\\/?igshid=MTNiYzNiMzkwZA\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/@ugmfkg2266\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/e03085a240000312d66dd0a43f2ab44d\",\"name\":\"adi_nugh_fkg\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5f833450cddd5e3f78884a251bd8d15ab37e81bd969d5e5549e4f2876adf3a35?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5f833450cddd5e3f78884a251bd8d15ab37e81bd969d5e5549e4f2876adf3a35?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5f833450cddd5e3f78884a251bd8d15ab37e81bd969d5e5549e4f2876adf3a35?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"adi_nugh_fkg\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/fkg.ugm.ac.id\\\/en\\\/author\\\/adi_nugh_fkg\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Meninjau Kembali Perawatan Pasca Cabut Gigi, Menuju Pengurangan Penggunaan Antibiotik dalam Kedokteran Gigi - Fakultas Kedokteran Gigi","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Meninjau Kembali Perawatan Pasca Cabut Gigi, Menuju Pengurangan Penggunaan Antibiotik dalam Kedokteran Gigi - Fakultas Kedokteran Gigi","og_description":"Praktik pemberian antibiotik secara rutin setelah pencabutan gigi mulai dipertanyakan. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa manfaat antibiotik dalam mencegah komplikasi pasca-ekstraksi tidak sebanding dengan risiko jangka panjang berupa resistensi antibiotik. Gagasan ini mengemuka dalam forum ilmiah bertajuk \u201cRethinking Post-Extraction Care: Toward Antibiotic-Sparing Protocols in Dentistry\u201d, dibawakan oleh drg. Muhammad Reza Pahlevi, Ph.D yang menyoroti perlunya [&hellip;]","og_url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\/","og_site_name":"Fakultas Kedokteran Gigi","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/p\/Fakultas-Kedokteran-Gigi-UGM-100075927681679\/","article_published_time":"2026-04-20T19:45:00+00:00","article_modified_time":"2026-04-23T07:48:15+00:00","og_image":[{"width":752,"height":501,"url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/04\/image-83.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"adi_nugh_fkg","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"adi_nugh_fkg","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\/"},"author":{"name":"adi_nugh_fkg","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#\/schema\/person\/e03085a240000312d66dd0a43f2ab44d"},"headline":"Meninjau Kembali Perawatan Pasca Cabut Gigi, Menuju Pengurangan Penggunaan Antibiotik dalam Kedokteran Gigi","datePublished":"2026-04-20T19:45:00+00:00","dateModified":"2026-04-23T07:48:15+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\/"},"wordCount":502,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/04\/image-83.jpeg","keywords":["SDG 10: Mengurangi Ketidaksetaraan","SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab","SDG 17: Kemitraan untuk mencapai Tujuan","SDG 3: Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik","SDG 4: Pendidikan Berkualitas","SDG 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur"],"articleSection":["Berita Terbaru"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\/","url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\/","name":"Meninjau Kembali Perawatan Pasca Cabut Gigi, Menuju Pengurangan Penggunaan Antibiotik dalam Kedokteran Gigi - Fakultas Kedokteran Gigi","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/04\/image-83.jpeg","datePublished":"2026-04-20T19:45:00+00:00","dateModified":"2026-04-23T07:48:15+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\/#primaryimage","url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/04\/image-83.jpeg","contentUrl":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2026\/04\/image-83.jpeg","width":752,"height":501},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/meninjau-kembali-perawatan-pasca-cabut-gigi-menuju-pengurangan-penggunaan-antibiotik-dalam-kedokteran-gigi\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Meninjau Kembali Perawatan Pasca Cabut Gigi, Menuju Pengurangan Penggunaan Antibiotik dalam Kedokteran Gigi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#website","url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/","name":"Faculty of Dentistry","description":"Universitas Gadjah Mada","publisher":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#organization","name":"Faculty of Dentistry","url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2024\/05\/Group.png","contentUrl":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/30\/2024\/05\/Group.png","width":248,"height":257,"caption":"Fakultas Kedokteran Gigi"},"image":{"@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/p\/Fakultas-Kedokteran-Gigi-UGM-100075927681679\/","https:\/\/www.instagram.com\/fkgugm\/?igshid=MTNiYzNiMzkwZA","https:\/\/www.youtube.com\/@ugmfkg2266"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/id\/#\/schema\/person\/e03085a240000312d66dd0a43f2ab44d","name":"adi_nugh_fkg","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5f833450cddd5e3f78884a251bd8d15ab37e81bd969d5e5549e4f2876adf3a35?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5f833450cddd5e3f78884a251bd8d15ab37e81bd969d5e5549e4f2876adf3a35?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5f833450cddd5e3f78884a251bd8d15ab37e81bd969d5e5549e4f2876adf3a35?s=96&d=mm&r=g","caption":"adi_nugh_fkg"},"url":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/author\/adi_nugh_fkg\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18017","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/295"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18017"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18017\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18021,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18017\/revisions\/18021"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18018"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18017"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18017"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fkg.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18017"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}