Inovasi Mahasiswa FKG UGM

Mahasiswa UGM Ciptakan Tang Cabut Gigi Sistem Bongkar Pasang : Pionir Alat Kedokteran Gigi Indonesia

tang

Foto Tang Cabut Gigi Satu Handle untuk Semua Head

Berangkat dari Instruksi Presiden Nomor 2 tahun 2009 tentang penggunaan produk dalam negeri dalam pengadaan barang/jasa pemerintah, tim REDONCEP yang terdiri dari Wahyuke Hestiyanti, Puspita Arum, Lastry Padang, Kevin Marselinus (dari Fakultas Kedokteran Gigi UGM) serta M. Riza (dari Fakultas Teknik Mesin UGM) berusaha membantu menciptakan alat yang dapat mendukung industri alat kesehatan yang mandiri. Berdasarkan data Ditjen BUK, Kemenkes RI tahun 2012, jumlah rumah sakit yang ada di Indonesia adalah 2.068, namun pengadaan rumah sakit di Indonesia belum didukung oleh sarana alat kesehatan yang memadai. Hal ini bisa dilihat dari data yang dicantumkan dalam Permenkes RI nomor 86 tahun 2013 yang menyatakan 90% alat kesehatan di Indonesia impor dari luar negeri. Padahal, banyak sekali potensi pengrajin logam di Indonesia yang dapat didayagunakan untuk pembuatan alat kesehatan, salah satunya adalah tang cabut gigi.

Tang cabut gigi memegang peranan yang penting dalam dunia kesehatan di Indonesia. Menurut Riskesdas tahun 2007, 72,1% rakyat Indonesia mengalami gigi berlubang. Hal ini membuktikan tingkat kesadaran masyarakat Indonesia akan kesehatan gigi dan mulut sangat rendah. Banyak orang baru berobat ke dokter gigi apabila giginya telah sakit, bahkan tidak sedikit orang yang membiarkan giginya sakit hingga tidak terasa sakit lagi. Tidak heran jika banyak perawatan yang dilakukan oleh dokter gigi adalah berupa pencabutan gigi.

Tang cabut gigi yang ada sekarang ini berjumlah 10-12 buah yang memiliki fungsi berbeda-beda tergantung gigi yang akan dilakukan pencabutan. Jika dokter gigi akan mencabut gigi belakang tentunya berbeda jika akan mencabut gigi depan. Pemakaian tang yang berbeda-beda menyebabkan seorang dokter gigi harus selalu membawa satu set tang kemanapun dia praktik, sehingga tidak praktis, berat, dan menyita banyak tempat. Apalagi jika seorang dokter gigi akan melakukan bakti sosial di pedalaman. Maka dari itu, tim REDONCEP memiliki ide untuk menciptakan tang cabut gigi yang dapat dibongkar pasang, dimana satu gagang tang cabut gigi dapat dilepas dan dipasang dengan kepala tang cabut lainnya. Pembuatan tang cabut gigi melibatkan usaha lokal mandiri pengolahan logam di Yogyakarta, Indonesia. Tang cabut ciptaan tim REDONCEP akan memberikan banyak keuntungan bagi dokter gigi, antara lain lebih praktis, aman karena alat diuji sedemikian rupa sehingga tidak berbahaya bagi pasien, dapat meningkatkan gairah perindustrian alat kesehatan di Indonesia, dan satu-satunya di dunia. Menurut pencarian tim REDONCEP di mesin pencarian Google tidak ditemukan produk serupa tang cabut gigi yang dapat dibongkar pasang.

Inovasi ini juga diapresiasi positif oleh dosen bagian Bedah Mulut FKG UGM, drg. M . Masykur Rahmat, Sp. BM (K). “Masing-masing tang cabut gigi sudah ada spesifikasinya sendiri-sendiri sehingga semua tang harus dibawa, padahal satu tang cabut gigi mempunyai berat sekitar 400 gram. Saya kira ide tang cabut gigi yang dapat dibongkar pasang ide yang brilian sehingga dengan satu gagang bisa untuk berbagai kepala tang cabut gigi”, ujar beliau dengan penuh antusias. Selain drg. Masykur, ide ini juga diapresiasi dengan baik oleh dosen Bedah Mulut FKG UGM drg. Yosafat Bayu Rosanto “ide ini baik sekali, hal-hal seperti ini harus didukung karena mungkin belum ada di dunia tang yang dapat dibongkar pasang dan universal, apalagi kalau harganya lebih murah. Bahkan harapannya kedepan produk ini dapat menjadi komoditi ekspor yang diperhitungkan dunia”.

Tim REDONCEP sudah menemukan desain terbaik dan prototipe dari tang cabut gigi. Harapan tim ke depan agar tang cabut gigi kreasi anak negeri ini dapat diproduksi secara masal dan dapat membantu pemerintah untuk mencapai indikator pencapaian Permenkes nomor 86 tahun 2013 yang dicanangkan untuk tahun 2016 : tercapainya kemandirian industri alat kesehatan teknologi menengah ke bawah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.